Kisah Lorong Klasik dan Memori Tempo Dulu di Kota Lama Tanjungpinang

Kisah Lorong Klasik dan Memori Tempo Dulu di Kota Lama Tanjungpinang
Suasana lorong klasik legendaris bernama Lorong Sepatu di Jalan Merdeka Kota Lama Tanjungpinang, 2008 silam. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar

Jejak Tukang Sol Sepatu di Lorong Klasik Kota Lama Tanjungpinang

Di balik geliat Kota Lama Tanjungpinang yang terus bergerak mengikuti zaman, ada sebuah lorong klasik sempit yang menyimpan kisah perjuangan hidup. 

Lorong klasik itu terkenal dengan sebutan Lorong Sepatu. Sebuah gang legendaris yang sejak puluhan tahun silam, menjadi saksi denyut ekonomi masyarakat.

Setiap ketukan palu yang memecah keheningan di lorong klasik berpadu dengan aktivitas kota, seolah menghadirkan irama khas tempo dulu. 

Di lorong klasik ini para tukang sol sepatu menggantungkan hidup, meneruskan profesi yang mengakar dalam perkembangan ekonomi di Tanjungpinang.

Lorong Sepatu terletak di Jalan Merdeka, Kota Lama Tanjungpinang. Meski hanya berupa gang kecil selebar sekitar dua meter, tempat ini menyimpan nilai historis dan ekonomi yang besar. 

Tempo dulu, lorong klasik ini bernama Lorong Merdeka IV. Sejak tahun 1960-an, sebutan Lorong Sepatu melekat secara alami, mengikuti aktivitas dominan yang berlangsung di dalamnya.

Baca Juga: Kota Lama Tanjungpinang, Jejak Atmosfer Klasik yang Tidak Lekang oleh Waktu

Keberadaan lorong klasik ini bukanlah awal mula profesi tukang sol di Tanjungpinang. Jauh sebelum lorong ini dikenal, para tukang sol telah berkeliling kota menawarkan jasa. 

Para tukang sol sepatu ini keliling dari satu sudut ke sudut lainnya di Tanjungpinang. Bahkan, keberadaan tukang sol diyakini telah hadir, pasca kemerdekaan.

Seiring waktu, para tukang sol mulai menetap dan berkumpul di lorong klasik ini. Dari situlah Lorong Sepatu tumbuh menjadi pusat permanen aktivitas perbaikan sepatu. 

Sejak saat itu pula, Lorong Sepatu yang legendaris itu menjadi denyut nadi dan simpul ekonomi rakyat dan tetap eksis bertahan hingga kini.

Lorong Sepatu sepanjang lebih kurang 10 meter ini juga menjelma menjadi salah satu pusat perdagangan tradisional tertua di Kota Lama Tanjungpinang.

Berbagai kios dan lapak kecil berjajar rapat, menjajakan beragam kebutuhan seperti pakaian, emas, kacamata hingga kain khas. 

Baca Juga: Identitas Sejarah Kota Lama Tanjungpinang, Menjadi Simbol Perjuangan Rakyat Raih Kemerdekaan

Suasana pasar tempo dulu juga masih terasa kuat hingga masa kini sehingga menarik minat para pengunjung yang ingin menyusuri jejak Tanjungpinang tempo dulu.

Keunikan Lorong Sepatu juga terletak pada proses kerja para tukang sol sepatu yang masih mempertahankan cara-cara perbaikan tradisional. 

Mulai dari menjahit sol hingga menambal bagian sepatu yang rusak, semua dilakukan dengan keterampilan tangan yang diwariskan lintas generasi. 

Aroma lem kulit, deretan ruko tua, serta obrolan pedagang, menciptakan suasana yang membawa pengunjung seolah melangkah, menikmati masa tempo dulu.

Semua aktivitas dan keterampilan tangan ini, menjadikan Lorong Sepatu sebagai salah satu pusat perbaikan sepatu tertua di Kota Lama Tanjungpinang. 

Lorong Sepatu bukan hanya sekadar gang sempit dan kecil, melainkan sebagai ruang memori historis yang menyimpan cerita Tanjungpinang tempo dulu.

Lorong Sepatu Tetap Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

Kisah Lorong Klasik dan Memori Tempo Dulu di Kota Lama Tanjungpinang
Suasana Lorong Sepatu di Jalan Merdeka Kota Lama Tanjungpinang, tahun 2025. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar

Di tengah gempuran modernisasi dan perubahan gaya hidup, Lorong Sepatu tetap berdiri dengan karakter yang sederhana. 

Di saat sepatu mudah dibeli dan cepat diganti, jasa sol sepatu memang tidak lagi seramai dulu. Namun lorong klasik ini terus menjadi simbol ketekunan dan kerja keras masyarakat.

Wajah-wajah lama perlahan berganti. Kini, generasi penerus mengambil alih lapak-lapak kecil yang dahulu dihuni generasi sebelumnya.

Saat ini tercatat hanya tiga tukang sol yang masih bertahan yakni Hermansyah, Yanto dan Erwin. Seluruhnya berusia sekitar 50 tahun. Telah menekuni profesi ini selama bertahun-tahun.

Hermansyah juga mengenang sosok Subarman, tukang sol sepatu senior yang pernah mangkal dari 1990-an hingga sekitar tahun 2010. 

Baca Juga: Pertempuran Heroik Raja Haji Fisabilillah, Simbol Hari Jadi Kota Tanjungpinang

Subarman terkenal sebagai pekerja ulet yang selalu mensyukuri penghasilannya. Dari profesi itu, ia mampu mencukupi kebutuhan keluarga hingga mewujudkan impian menunaikan ibadah haji pada 2013.

"Pak Haji Subarman itu orang lama di sini. Sekarang beliau sudah tidak lagi bekerja karena faktor usia," ungkap Hermansyah.

Bagi Hermansyah, pekerjaan sebagai tukang sol sepatu bukan hanya soal mencari nafkah, namun bentuk kecintaan pada profesi yang telah membesarkannya.

"Alhamdulillah, kami tetap bersyukur bisa mencari rezeki di Lorong Sepatu ini," tuturnya.

Hal senada disampaikan Yanto. Menurutnya, Lorong Sepatu bukan sekadar lokasi usaha, melainkan bagian penting dari sejarah Kota Lama Tanjungpinang. 

Baca Juga: Jejak Pulau Legendaris di Tanjungpinang dalam Lintasan Waktu

"Lorong ini bukan hanya tempat memperbaiki sepatu, tapi juga nostalgia dan pengalaman bagi siapa pun yang datang," katanya.

Yanto berharap Lorong Sepatu tetap dijaga dan dilestarikan agar terus menjadi daya tarik wisata sekaligus simbol identitas Kota Lama Tanjungpinang.

"Mari kita jaga bersama agar Lorong Sepatu tetap hidup dan ramai dikunjungi," tutup Yanto.

Lorong klasik itu kini tetap berdiri sebagai penanda masa tempo dulu. Menjadi saksi bisu perjalanan dan perjuangan ekonomi rakyat. (*)

Penulis: Yusnadi Nazar

Posting Komentar