Memori Transpot Klasik, Bagian dari Identitas Kota Tanjungpinang
![]() |
| Memori transpot klasik, bagian dari identitas Kota Tanjungpinang, 2008 silam. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar |
Catatan Visual - Bagi masyarakat Tanjungpinang, istilah "transpot" bukan sekadar pelafalan unik dari kata transportasi. Sebutan ini telah lama melekat dalam percakapan sehari-hari.
Transpot klasik adalah sebutan khas bagi angkutan kota legendaris berbentuk minibus yang pernah menjadi penghubung mobilitas masyarakat.
Keberadaan transpot klasik tidak hanya sebagai sarana angkut, melainkan juga ruang kenangan yang menyimpan potret kehidupan sosial tempo dulu.
Bagi generasi 1990-2000, transpot klasik adalah bagian dari keseharian. Menghubungkan rumah, sekolah, pasar, pelabuhan hingga berbagai sudut kota.
Sementara itu bagi generasi yang lebih muda, istilah transpot ini mungkin terdengar asing atau sekadar nostalgia yang hidup dari kisah generasi sebelumnya.
Transpot klasik sendiri punya desain khas minibus berukuran sedang, bangku saling berhadapan dan tersedia iringan lagu-lagu Melayu dari tape lawas.
Perjalanan menuju berbagai tujuan menggunakan transpot klasik, tentunya akan menghadirkan suasana khas tempo dulu yang sulit dilupakan.
Dari pagi hingga sore, suara klakson pendek berpadu teriakan sopir atau kenek memanggil penumpang, menjadi warna tersendiri di jalanan Tanjungpinang.
Pada masa ketika sepeda motor dan mobil pribadi masih dianggap barang mewah, transpot hadir sebagai solusi utama transportasi publik.
Tarif yang terjangkau menjadikannya pilihan favorit pelajar, pedagang pasar, pegawai negeri, pekerja swasta, hingga ibu-ibu yang berbelanja ke pasar.
Meskipun kadang harus berdesak-desakan, namun kebersamaan di dalam transpot klasik justru melahirkan suasana dan keakraban yang khas.
Masa kejayaan transpot klasik berlangsung sejak era 1990-an. Jalanan Tanjungpinang tempo dulu, dipenuhi minibus warna-warni.
Transpot klasik tempo dulu berwarna merah, hijau, kuning dan putih dan melintasi serta melayani berbagai trayek atau tujuan.
Cara menggunakan jasa transpot klasik ini cukup dengan melambaikan tangan di pinggir jalan, kemudian penumpang bisa naik dan turun dengan mudah.
Lebih dari sekadar alat angkut, transpot klasik menjadi ruang sosial bergerak. Di dalamnya, penumpang berbagi cerita, bertukar kabar.
Bahkan tidak jarang, saat menumpangi transpot klasik ini, penumpang akan bertemu kembali sahabat lama dalam perjalanan singkat menuju tujuan.
Namun waktu terus berjalan. Di zaman modern, ada modernisasi transportasi, kendaraan pribadi menjamur serta hadirnya layanan transportasi daring.
Hal itu membuat peran transpot klasik perlahan meredup. Minimnya peremajaan armada dan beban biaya operasional turut mempercepat pergeseran ini.
Kini, jumlahnya kian menyusut dan bisa dihitung dengan jari. Hanya tersisa beberapa unit yang masih bertahan dan kini didominasi armada transpot berwarna putih.
Meski demikian, segelintir transpot klasik masih setia melayani rute lama maupun rute bebas, mempertahankan denyut nostalgia di tengah kendaraan modern.
Bagi siapa saja yang pernah merasakan duduk berhimpitan di bangku besi dan mendengar deru mesin tua, memori menaiki angkutan kota legendaris itu akan selalu hidup.
Cerita dari Balik Kemudi dan Kenangan Sopir Transpot
Salah satu saksi hidup perjalanan transpot adalah Yulnedi (54), mantan sopir yang pernah mengemudi angkutan kota legendaris ini sejak akhir 1990-an.
Menurutnya, transpot mulai beroperasi di Tanjungpinang, sejak awal 1980-an. Tempo dulu, katanya, transpot tersedia dengan berbagai warna dan nama khas bernuansa Melayu.
Pada era 1990-an, transpot dikenal dengan nama seperti Segantang Lada, Lancang Kuning, Sri Mersing, serta Wirasanti, Nova Indah dan Laila Trans.
Saat ini, kata Yulnedi, hanya tersisa dua nama yang masih beroperasi di jalan Tanjungpinang yakni Bayu Putra dan Pacitan Indah. Kedua angkutan kota itu berwarna putih.
"Kami mulai narik dari tahun 1998 sampai 2010. Waktu itu mangkal di terminal pasar Kota Lama Tanjungpinang," kenang Yulnedi.
Baginya, transpot klasik memiliki nilai emosional tersendiri. Pada masa jayanya, angkutan ini menjadi satu-satunya moda transportasi yang melayani.
Para sopir transpot selalu setia mengantar masyarakat ke sekolah, pasar, pelabuhan hingga lokasi wisata seperti pantai bersama keluarga dan teman.
"Dahulu ongkosnya jauh-dekat cuma Rp2.500, bahkan sebelumnya lebih murah. Sekarang sudah Rp5 ribu," sebut Yulnedi.
Meskipun kini beralih profesi menjadi pedagang, Yulnedi masih sesekali menggunakan jasa transpot untuk berbelanja dagangan ke pasar.
Baginya, itu menjadi cara sederhana untuk bernostalgia sekaligus mengenang masa-masa ketika transpot klasik menjadi tulang punggung ekonomi keluarga.
"Kawan-kawan masih ada yang narik. Kalau ke pasar, kadang saya naik transpot juga. Sekalian nostalgia," ujarnya.
Yulnedi menyampaikan pesan penuh makna kepada rekan-rekan sopir transpot klasik yang masih setia dan bertahan melayani penumpang.
"Tetap semangat. Rezeki itu sudah ada yang mengatur. Kalau sudah jatah, tidak akan lari ke mana," tuturnya.
Ikon Nostalgia dan Saksi Historis Kota
Di mata masyarakat Tanjungpinang, transpot kini menjelma menjadi simbol nostalgia dan kenangan yang terus dibicarakan lintas generasi.
Keberadaannya bukan sekadar angkutan umum, tetapi telah menjadi saksi bisu dan bagian dari identitas serta jejak historis Kota Tanjungpinang.
Badria Lisa (56), warga Kelurahan Kemboja, mengenang masa ketika transpot klasik menjadi andalan para pelajar Tanjungpinang tempo dulu.
"Kalau berangkat dan pulang sekolah, kami ramai-ramai naik transpot. Sekarang anak-anak sudah jarang naik, lebih sering diantar orang tua atau naik motor sendiri," katanya.
Lisa juga mengingat keberadaan terminal di Jalan Teuku Umar dan Jalan Merdeka yang dahulu menjadi pusat keramaian angkutan kota.
"Di situ dulu banyak transpot macam-macam warna, ada juga bus yang mangkal," kenangnya.
Menurut Lisa, angkutan kota legendaris yang terus melintas di jalanan kota itu adalah saksi mobilitas dan dinamika kehidupan Kota Tanjungpinang.
"Kami sampai hafal rute hanya dari warna transpotnya," ucapnya.
Kini, meski modernisasi terus bergerak maju, roda transpot klasik yang tersisa masih berputar di jalan kota membawa kenangan.
Angkutan umum ini mungkin tidak lagi menjadi pilihan utama. Namun tetap hidup sebagai pengingat saat perjalanan terasa lebih sederhana, hangat dan penuh makna.
Transpot klasik bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah potret kehidupan, dan bagian tak terpisahkan dari jalanan Kota Tanjungpinang dan akan terus dikenang. (*)
Penulis: Yusnadi Nazar

