Riwayat dan Jejak Tempo Dulu di Balik Kota Tua di Pulau Bintan
0 menit baca
![]() |
| Riwayat dan jejak tempo dulu di balik kota tua di Pulau Bintan. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar |
Catatan Visual - Di tengah kemajuan zaman modern, tersimpan kisah panjang mengenai kota tua yang pernah berjaya sebagai Kota Tambang legendaris Pulau Bintan.
Meski telah bertransformasi menjadi sentra ekonomi dan keramaian, denyut historis sebagai Kota Tambang legendaris masih terasa kuat di setiap sudutnya.
Namanya Kota Tua Kijang. Berjarak sekitar 25 kilometer dari Kota Lama Tanjungpinang. Tempo dulu menjadi urat nadi industri bauksit di Bintan.
Kota Tua Kijang yang kini masuk dalam Kecamatan Bintan Timur ini, menyimpan rekam jejak tempo dulu yang membentuk identitas dan karakter kota hingga kini.
Ceritanya pada rentang waktu 1935 hingga 1942. Tambang bauksit di Kota Tua Kijang, dikelola oleh perusahaan Belanda, NV Indische Bauxiet Exploitatie Maatschappij (NIBEM).
Operasional pertambangan bijih bauksit tersebut berlangsung hingga masa pendudukan Jepang di Kepulauan Riau (Kepri) pada 1942.
Dalam mendukung aktivitas tambang, NIBEM membangun berbagai infrastruktur penting, salah satunya jalur Cable Way atau kereta gantung.
Fungsinya untuk mengangkut bijih bauksit dari Pulau Koyan menuju Kota Tua Kijang. Fasilitas ini adalah simbol kemajuan teknologi pada masa itu.
Pada tahun 1939, pakar geologi Dr. R.W. Van Bemmelen, turut membangun pusat penelitian geologi di kawasan Sungai Kolak, Bintan
Kala itu, penelitian geologi Dr. R.W. Van Bemmelen, menjadi bagian penting dari pengembangan tambang bauksit di Kota Tua Kijang, Pulau Bintan.
Era Kemerdekaan dan Peran PT Antam
Aktivitas tambang bauksit berlanjut pasca kemerdekaan Indonesia. Pada 1959, Indonesia resmi mengambil alih pengelolaan tambang dari tangan Belanda.
Selanjutnya, sekitar tahun 1960-an, pemerintah menyerahkan pengelolaan tambang bauksit kepada PT Aneka Tambang (Antam).
"Sekitar tahun 1960-an, pemerintah memberikan kewenangan tambang bauksit Kijang kepada PT Antam," jelas Peneliti Sejarah BRIN, Dedi Arman.
Namun, seiring berjalannya waktu, kejayaan tambang bauksit perlahan memudar. PT Antam menghentikan operasional di Kota Tua Kijang pada 22 September 2009.
Meski demikian, PT Antam tetap menjalankan program pasca tambang melalui reklamasi lahan dan kegiatan tanggung jawab sosial (CSR).
Reklamasi pasca tambang itu bertujuan untuk memulihkan lingkungan sekitar serta mendorong kemandirian ekonomi masyarakat Kota Tua Kijang.
Sebagai penanda historis, PT Antam membangun tugu serta relief tambang bauksit yang kini berdiri di pusat Kota Tua Kijang sebagai simbol kejayaan tambang tempo dulu.
Salah satu jejak nyata peninggalan tambang adalah kolam bekas pencucian bijih bauksit. Kini telah menjelma menjadi danau sekaligus ruang terbuka hijau.
Tidak jauh dari lokasi tersebut, berdiri megah Masjid Raya Nurul Iman Kijang. Masjid di Kota Tua Kijang itu mampu menampung sekitar 3 ribu jemaah.
Masjid ini dibangun oleh PT Antam pada lahan yang sebelumnya milik seorang etnis Tionghoa. Dahulu, area masjid merupakan rumah sekaligus tempat usaha.
Setelah dilakukan pertukaran lahan, satu masjid kemudian dibangun sebagai pusat ibadah umat Islam sehingga menjadi ikon religi Kota Tua Kijang.
"Masjid Raya Nurul Iman didirikan sekitar tahun 1960-an," jelas Dedi Arman.
Nostalgia dan Kenangan Kejayaan Tempo Dulu
Muhamad Nasrun atau yang akrab disapa Lok Long (56), warga setempat mengenang saat Kota Tua Kijang berada di puncak kejayaan sebagai Kota Tambang.
Lok Long menuturkan, saat itu PT Antam menyediakan beragam fasilitas hiburan dan olahraga bagi karyawan dan masyarakat.
Mulai dari kolam renang, lapangan tenis, lapangan golf, tempat bowling, biliar, hingga kompleks perumahan bagi karyawan PT Antam.
"Orang tua kami juga bekerja di PT Antam. Kami sering diajak bermain saat hari libur," kenang Lok Long.
Selain fasilitas, PT Antam juga menyediakan layanan tukang cukur khusus serta membentuk Band Alumina yang rutin menghibur masyarakat saat peringatan Hari Kemerdekaan.
"Kalau 17 Agustus, band tampil sampai tiga hari. Ada tari-tarian, breakdance, dan lomba band pelajar SMP serta SMA," kata Long yang pernah menjadi kru band tersebut.
Kini, jelas Lok Long, fasilitas tersebut memang tidak lagi tersisa. Namun bagi masyarakat, kenangan kejayaan Kota Tambang tetap melekat dalam ingatan.
Kota Tua yang Berubah Wajah
Saat ini, kawasan tugu dan monumen tambang telah menjadi pusat aktivitas sosial masyarakat dan ruang publik.
Di sekitarnya berdiri megah Masjid Raya Nurul Iman Kijang yang dibalut warna hijau berpadu warna kuning yang membuat panorama menjadi indah.
Sementara itu, kolam bekas pencucian bijih bauksit kini disulap menjadi taman kota yang asri dengan deretan pepohonan rindang, bangku-bangku santai, serta area bermain anak.
Bahkan, terdapat kebun binatang dan pohon sakura yang kadang mekar dua kali setahun sehingga menambah daya tarik sebagai destinasi rekreasi keluarga.
Tidak jauh dari taman kota, hadir pula Kijang City Walk yang semakin menghidupkan suasana, terutama pada sore hingga malam hari.
Masyarakat dari berbagai penjuru Bintan dan Tanjungpinang hingga Batam, kerap memadati kawasan ini untuk bersantai dan menikmati suasana kota tua yang kini berwajah modern.
"Sekarang semua sudah berubah, tapi jejak kejayaan Kota Tua Kijang sebagai Kota Tambang tetap menjadi bagian dari sejarah," tutup Lok Long. (*)
Penulis: Yusnadi Nazar

