Pulau Klasik di Tanjungpinang yang Gemilang, Warisan Melayu Tempo Dulu

Pulau Klasik di Tanjungpinang yang Gemilang, Warisan Melayu Tempo Dulu
Pulau klasik di Tanjungpinang yang gemilang, menjadi warisan Melayu tempo dulu. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar

Catatan Visual - Di hadapan Kota Tanjungpinang, berdiri sebuah pulau klasik yang begitu lekat dengan historis dan budaya serta kejayaan kerajaan Melayu tempo dulu. 

Pulau klasik yang dihiasi peninggalan kerajaan tempo dulu ini bukan sekadar destinasi wisata religi, melainkan pusat peradaban budaya Melayu.

Namanya adalah Pulau Penyengat. Meskipun mungil, pulau klasik ini menyimpan kisah historis dan adat dan budaya Melayu. 

Kisah kerajaan tempo dulu yang membentang dari lembaran peradaban Melayu yang masih terasa aura klasik hingga masa kini. 

Pulau Penyengat juga menyuguhkan Masjid Sultan Riau Penyengat dan peninggalan Kesultanan Riau Lingga. Sebuah destinasi yang wajib dikunjungi.

Selain itu, pulau klasik ini bukan sekadar gugusan tanah di tengah laut. melainkan menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Riau Lingga.

Dari Pulau Penyengat, lahir juga mahakarya monumental seperti Gurindam Dua Belas karya sang pujangga Raja Ali Haji. 

Baca Juga: Kisah Lorong Klasik dan Memori Tempo Dulu di Kota Lama Tanjungpinang

Bahkan, Gurindam Dua Belas yang monumental itu, hingga kini masih dijunjung sebagai mutiara sastra Melayu klasik di Indonesia. 

Pulau klasik ini juga menjadi tempat bagi para bangsawan. Masjid, istana, benteng dan sisa bangunan tua masih berdiri, meskipun telah dimakan waktu. 

Walaupun demikian, jejak kejayaan kerajaan tempo dulu yang sarat historis dan nilai budaya Melayu, tetap bisa dirasakan setiap kali menapakkan kaki di Pulau Penyengat.

Selain itu, Pulau Penyengat menjadi nadi historis. Menjadi laboratorium hidup budaya Melayu. Dari bahasa, pantun, gurindam, semuanya masih terjaga. 

Selanjutnya, setiap sudut pulau klasik ini seperti menyimpan cerita historis yang menunggu untuk diceritakan kembali.

Bagi orang Melayu, Pulau Penyengat adalah simbol budaya dan perkembangan Islam. Bagi sejarawan, ia adalah saksi historis. 

Bagi para pelancong dan peziarah, pulau klasik ini ibarat pintu menuju nostalgia peradaban tempo dulu yang masih berdenyut hingga kini. 

Masjid Sultan Riau Penyengat, Keagungan di Atas Sejarah

Pulau Klasik di Tanjungpinang yang Gemilang, Warisan Melayu Tempo Dulu
Masjid Raya Sultan Riau Penyengat di pulau klasik Pulau Penyengat Tanjungpinang. Arsip Foto: Yusnadi Nazar

Ikon utama pulau klasik ini adalah Masjid Sultan Riau Penyengat. Masjid warna kuning-hijau yang megah dengan keunikan materialnya. 

Konon katanya, putih telur menjadi campuran sebagai perekat dalam pembangunan dinding masjid yang bergaya Melayu klasik tersebut.

Dari kisah pembagunannya, menjadikan masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi menjadi identitas dan simbol kejayaan arsitektur klasik tempo dulu.

Masjid Sultan Riau Penyengat hingga kini tetap aktif sebagai tempat ibadah. Jemaah dan wisatawan silih berganti, datang untuk menyaksikan kemegahan Masjid ini. 

siapa saja akan merasakan ketenangan. Saat azan berkumandang, seakan membawa suasana kembali ke tempo dulu, saat raja dan ulama memakmurkan rumah Allah ini.

Satu hal yang pasti, Masjid Sultan Riau Penyengat sebagai peninggalan historis Kerajaan Riau Lingga, tetap berdiri megah di tangah Pulau Penyengat.

Menyusuri Waktu di Pulau Penyengat

Perjalanan dari Tanjungpinang ke pulau klasik itu, dapat ditempuh dalam beberapa menit. Menggunakan perahu atau sampan khas yaitu pompong.

Begitu sampai, langkah kaki seolah dibawa jauh ke masa lampau. Jalan-jalan kecil, rumah kayu, keramahan masyarakat, membuat pelancong merasakan suasana tempo dulu.

Pulau Penyengat adalah sebuah cermin perjalanan historis sebuah bangsa. Berada di pulau klasik ini, pelancong akan merasa kembali ke zaman kerajaan.

Terakhir, berada di pulau klasik ini, pelancong diajak bukan hanya untuk menikmati panorama alam, tetapi untuk menysuri jejak gemilang dan kejayaan Melayu tempo dulu. (*)

Penulis: Hal Maliq Hanifa

Posting Komentar