Perjalanan Juru Potret Legendaris Indonesia, Dari Tanjungpinang ke Berbagai Belahan Dunia
0 menit baca
![]() |
| Perjalanan juru potret legendaris Indonesia, dari Tanjungpinang ke berbagai belahan dunia. Arsip Foto: © Firdaus Fadlil |
Juru Potret Legendaris, Merekam Momen Konser Musisi Kelas Internasional
Bidikan kamera sang juru potret legendaris itu mampu membekukan ekspresi paling jujur para musisi dunia di atas panggung.
Dari masa kecil di Tanjungpinang hingga konser internasional, Firdaus Fadlil menjelma menjadi juru potret legendaris paling berpengaruh di Indonesia.
Juru potret legendaris yang biasa disapa Daus ini, bukan hanya hadir sebagai pewarta visual, melainkan juga saksi historis berbagai konser musisi dunia.
Kemampuannya menangkap momentum, membuat namanya melambung sebagai juru potret legendaris panggung musik di Indonesia.
Kini di usia 64 tahun, Daus tetap memanggul kamera sekaligus membagikan ilmu fotografi melalui sejumlah pelatihan di berbagai daerah.
Daus dikenal teliti dan detail saat mengajarkan teknik dasar pencahayaan, komposisi, hingga cara membaca arah panggung untuk pemula.
“Foto itu bukan hanya harus bagus, tapi juga harus indah dan benar,” tegas Daus di Tanjungpinang, beberapa waktu lalu.
Dari Bakar Batu Tanjungpinang ke Studio Foto Jakarta
Lahir di Pulau Buluh, Batam pada 31 Oktober 1961, Daus menghabiskan masa kecilnya di kawasan Bakar Batu, Tanjungpinang, Kepri.
Layaknya anak pesisir pada zamannya, hari-hari sang juru potret legendaris ini dihabiskan dengan bermain layangan, memanjat pohon dan berenang di laut.
Juru potret legendaris yang merupakan alumni SMPN 1 dan SMAN 1 Tanjungpinang ini, pertama kali mengenal fotografi secara tidak sengaja.
Setelah lulus SMA, ia melanjutkan studi dan menjadi mahasiswa di Jakarta. Ia belajar fotografi dari buku-buku yang ia temukan sendiri dan tanpa guru khusus.
“Belajar autodidak, jadi kesalahannya tentu banyak,” kenang Daus.
Selepas menempuh pendidikan sarjana di Universitas Indonesia pada 1987, Daus kerap menghabiskan waktu di sebuah studio foto di Jakarta.
Dari pekerjaan kecil seperti memotret acara keluarga, ulang tahun anak-anak hingga memotret pernikahan, karirnya mulai terbentuk perlahan.
Hidupnya berubah pada 1989 ketika satu foto karyanya tayang di Majalah HA, majalah musik remaja paling populer di Indonesia saat itu.
Pemimpin redaksi Majalah HAI langsung merekrutnya sebagai fotografer tetap. Dari situlah karirnya sebagai juru foto panggung konser, benar-benar dimulai.
Memotret Musisi Dunia, Dari Metallica hingga Mr. Big
![]() |
| Firdaus Fadlil, juru potret legendaris Indonesia saat berada di San Francisco Amerika. Arsip Foto: © Budhi Wanda |
Bersama Majalah HAI dan menjadi juru foto spesialisasi panggung konser, Daus memotret berbagai konser musik di dalam negeri dan luar negeri.
Daus bercerita ia berkeliling dunia. Mulai dari Inggris, Jerman, Jepang, Australia, Amerika Serikat, Hong Kong, China, Taiwan, Korea hingga Brazil.
Deretan musisi internasional pernah ia potret. Mulai dari Metallica, Sepultura, Mr. Big, Bon Jovi, Oasis, Michael Bolton, Scorpions dan band lainnya.
Musisi besar Indonesia pun tidak luput dari bidikannya. Mulai dari Chrisye, Iwan Fals, Ahmad Albar, Anggun, Dewa 19, GIGI, Slank, Potret, hingga Peterpan.
Selain itu, beberapa catatan penting dalam karir sang juru potret legendaris ini antara lain, potret Chrisye yang pernah dijadikan perangko nasional.
Kemudian menjadi fotografer pribadi musisi Julio Iglesias. Memotret cover album Mr. Big di Jepang setelah personel band itu, terpukau dengan hasil jepretannya.
"Pernah diajak naik jet pribadi Sepultura menuju Brazil. Mendokumentasikan aktivitas personel Sepultura," ungkap Daus.
Namun pengalaman paling berkesan menurutnya adalah saat menjadi satu-satunya juru potret Indonesia yang mengabadikan Woodstock 1994 dan Woodstock 1999 di New York.
“Semua itu pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan,” ucap Daus mengenang.
Nilai dan Makna Fotografi Panggung
Daus menilai fotografi panggung adalah disiplin yang sama seriusnya dengan fotografi jurnalistik. Sama-sama harus jeli menangkap momen.
Seorang fotografer konser, kata Daus, tidak hanya harus mahir membaca arah cahaya dan ritme panggung, tetapi wajib menguasai berbagai teknik fotografi.
Meski begitu, ia tidak pernah merasa dirinya berbeda dari fotografer lainnya. Sama-sama berusaha mendapatkan hasil potret terbaik.
“Kami sama-sama berjuang menangkap momen terbaik,” ujar Daus.
Menurutnya, perbedaan antara fotografer lokal dan fotografer internasional hanyalah soal kesempatan, bukan kualitas.
"Kamera bisa sama, tetapi kreativitas dan kepekaan juru potretlah yang menentukan hasil akhir," tegas Daus.
Menutup Karir dan Pameran Tunggal di IMS 2025
![]() |
| Salah satu karya monumental Firdaus Fadlil. Gelaran panggung musik Woodstock 1994 di New York Amerika. Arsip Foto: © Firdaus Fadlil |
Setelah lebih dari 25 tahun berkarir, Daus mengakhiri masa tugasnya di Majalah HAI. Namun ia tidak berhenti menangkap momen.
Daus kini aktif sebagai juru potret lepas, mentor fotografi dan kerap berdiskusi dengan sejumlah fotografer senior Indonesia lainnya.
“Pensiun dari majalah bukan berarti berhenti memotret. Sesekali saya memancing sambil memotret,” ujarnya sambil tersenyum.
Tahun 2025 ini, menjadi salah satu puncak pencapaian tertinggi dari perjalanan kreatif Daus, menjadi seorang juru potret.
Daus akan menggelar pameran tunggal fotografi panggung pada ajang Indonesia Music Summit 2025 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 19 hingga 20 November 2025.
Sebanyak 21 karya fotografi analog dari ratusan musisi yang pernah ia abadikan akan dipamerkan di Indonesia Music Summit 2025.
Salah satunya adalah karya monumental dari gelaran musik dunia Woodstock 1994 serta dokumen perjanjian pembelian foto oleh band Mr. Big.
Menurutnya, Woodstock 1994 adalah pengingat perayaan musik legendaris yang digelar pada 1969 yang mengusung semangat Love, Peace and Music.
“Ketika karya dipamerkan, ada rasa dan ada emosi yang ikut terlibat,” terang Daus.
Demikian perjalanan Firdaus Fadlil, sang juru potret legendaris. Kisahnya bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja terutama juru potret pemula di Indonesia.
Penulis: Yusnadi Nazar



