Kisah Masjid Legendaris Berusia 2 Abad, Ikon Religi Klasik Kota Lama Tanjungpinang
![]() |
| Kisah masjid legendaris berusia 2 abad yang menjadi ikon religi klasik Kota Lama Tanjungpinang. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar |
Catatan Visual - Kota Lama Tanjungpinang, bukan hanya dikenal sebagai kota berkembang dengan bangunan modern. Namun berdiri sebuah masjid legendaris berusia hampir 2 abad.
Melegenda dengan Nama Masjid Keling
Peneliti Sejarah BRIN Dedi Arman, menyebut Masjid Agung Al Hikmah sebagai bukti nyata historis, budaya dan kehidupan spiritual masyarakat Tanjungpinang.
Dedi menjelaskan bahwa masjid legendaris yang berlokasi di Kota Lama Tanjungpinang ini dahulu dikenal dengan nama Masjid Keling dan telah berdiri sejak 1834 silam.
Selama hampir dua abad, masjid ini telah menjadi saksi perkembangan Islam, budaya Melayu, serta dinamika sosial masyarakat Kota Lama Tanjungpinang.
Keindahan arsitektur dan peran pentingnya dalam kehidupan umat Islam, menjadikan Masjid Agung Al Hikmah ini sebagai warisan berharga yang patut dijaga.
"Nilai historis, arsitektur khas Melayu Arab dan fungsinya dalam kehidupan masyarakat, membuat masjid ini layak dilestarikan untuk generasi mendatang," kata Dedi.
Tempo dulu, Masjid Keling berdiri berdekatan dengan Vihara Bahtera Sasana. Bahkan pada tahun 1860, tercatat tiga rumah ibadah yang berdampingan di kawasan ini.
Tiga tempat ibadah itu adalah Masjid Keling, Gereja GPIB (Gereja Ayam) dan Vihara Bahtera Sasana. Kedekatan ini mencerminkan keberagaman sejak zaman tempo dulu.
Dedi menambahkan, sebelum berdirinya gereja, seorang pendeta asal Belanda sempat mengunjungi Tanjungpinang. Ia telah menyaksikan keberadaan Masjid Keling yang lebih dulu ada.
Masjid ini awalnya dibangun oleh komunitas pedagang Muslim asal India yang singgah dan menetap sementara di Tanjungpinang pada awal abad ke-19.
Para pedagang Muslim India kemudian sepakat untuk mendirikan rumah ibadah, yang kemudian dikenal dengan sebutan Masjid Keling.
Bangunan awal masjid terbuat dari kayu kapur atau kayu merah dengan bentuk rumah panggung, meski lokasinya tidak terlalu dekat dengan bibir laut.
"Seiring waktu, bentuk aslinya tidak lagi tersisa setelah mengalami sejumlah renovasi besar," sebut Dedi.
Saat ini, bangunan yang berdiri di atasnya adalah Masjid Agung Al Hikmah yang telah direnovasi setidaknya tiga kali sejak tahun 1956 dan terus difungsikan sebagai rumah ibadah.
Keberadaan masjid legendaris ini bukan sekadar simbol religi klasik, melainkan juga penegas identitas historis Kota Tanjungpinang yang tumbuh dari akar budaya Melayu dan nilai Islam yang kuat.
"Masjid ini digunakan untuk salat berjemaah hingga perayaan hari besar Islam seperti salat Idulfitri dan Iduladha," tutup Dedi. (*)
Penulis: Yusnadi Nazar

