Kisah Masjid Legendaris Berusia 2 Abad, Ikon Religi Klasik Kota Lama Tanjungpinang

Kisah Masjid Legendaris Berusia 2 Abad, Ikon Religi Klasik Kota Lama Tanjungpinang
Kisah masjid legendaris berusia 2 abad yang menjadi ikon religi klasik Kota Lama Tanjungpinang. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar

Catatan Visual - Kota Lama Tanjungpinang, bukan hanya dikenal sebagai kota berkembang dengan bangunan modern. Namun berdiri sebuah masjid legendaris berusia hampir 2 abad. 

Masjid legendaris itu juga menjadi penanda historis sekaligus simbol kuat yang menyatukan peradaban Melayu dan Islam di Kota Lama Tanjungpinang. 

Masjid legendaris itu adalah Masjid Agung Al Hikmah. Bangunan berusia hampir dua abad dan tetap berdiri kokoh dan megah di pusat Kota Lama Tanjungpinang.

Keberadaannya tidak hanya menjadi tempat atau rumah ibadah, tetapi juga saksi bisu perjalanan panjang historis, spiritual dan sosial masyarakat Tanjungpinang.

Berlokasi di Kelurahan Tanjungpinang Kota, Masjid Agung Al Hikmah memiliki posisi yang unik karena diapit oleh empat ruas jalan utama. 

Jalan Masjid, Jalan Muhammad Yusuf Kahar, Jalan Tabib, dan Jalan Diponegoro mengelilingi masjid Agung Al Hikmah Tanjungpinang.
Dengan luas bangunan sekitar 35 x 30 meter, masjid legendaris ini menjadi pusat aktivitas keagamaan paling penting di Kota Lama Tanjungpinang.

Pengurus Yayasan Masjid Agung Al Hikmah Raja Hanafi, menjelaskan bahwa bangunan masjid telah beberapa kali mengalami renovasi. 

Terakhir, renovasi menghadirkan perpaduan arsitektur Melayu dan Arab yang kental. Terlihat dari bentuk atap limas bertingkat tiga yang mengerucut ke atas.

Pada tingkat kedua atap, terdapat kubah-kubah kecil di setiap sudut, sementara bagian puncaknya dihiasi satu kubah besar yang dikelilingi empat kubah kecil lainnya. 

Di halaman masjid juga berdiri menara setinggi sekitar 40 meter yang menambah kesan megah sekaligus menjadi penanda visual kawasan religi klasik ini.

"Masjid ini memiliki tiga pintu masuk utama yang terletak di sisi kanan, kiri, dan belakang," jelas Raja Hanafi.
Memasuki area dalam masjid legendaris ini, suasana klasik langsung terasa. Terlihat dari mimbar kayu jati corak Melayu serta hiasan kaligrafi Islam di dinding bagian atas.

Menurut Raja Hanafi, tempo dulu masjid mampu menampung 3 ribu jemaah saat saf terisi penuh. Kini kapasitas tersebut jarang tercapai seiring bertambahnya jumlah masjid.

Seiring berjalannya waktu Masjid Agung Al Hikmah tidak berubah. Masjid legendaris ini tetap difungsikan sebagai pusat ibadah dan kegiatan keislaman. 

Selain salat lima waktu, masjid ini juga menjadi lokasi pengajian rutin, majelis taklim, pemotongan hewan kurban saat Iduladha dan kegiatan sosial lainnya.

"Menara masjid ini sudah menjadi ikon religi klasik Tanjungpinang, mencerminkan identitas Melayu yang menjunjung tinggi nilai adat dan islam," tambahnya.

Melegenda dengan Nama Masjid Keling

Peneliti Sejarah BRIN Dedi Arman, menyebut Masjid Agung Al Hikmah sebagai bukti nyata historis, budaya dan kehidupan spiritual masyarakat Tanjungpinang. 

Dedi menjelaskan bahwa masjid legendaris yang berlokasi di Kota Lama Tanjungpinang ini dahulu dikenal dengan nama Masjid Keling dan telah berdiri sejak 1834 silam. 

Selama hampir dua abad, masjid ini telah menjadi saksi perkembangan Islam, budaya Melayu, serta dinamika sosial masyarakat Kota Lama Tanjungpinang. 

Keindahan arsitektur dan peran pentingnya dalam kehidupan umat Islam, menjadikan Masjid Agung Al Hikmah ini sebagai warisan berharga yang patut dijaga.

"Nilai historis, arsitektur khas Melayu Arab dan fungsinya dalam kehidupan masyarakat, membuat masjid ini layak dilestarikan untuk generasi mendatang," kata Dedi.

Tempo dulu, Masjid Keling berdiri berdekatan dengan Vihara Bahtera Sasana. Bahkan pada tahun 1860, tercatat tiga rumah ibadah yang berdampingan di kawasan ini.

Tiga tempat ibadah itu adalah Masjid Keling, Gereja GPIB (Gereja Ayam) dan Vihara Bahtera Sasana. Kedekatan ini mencerminkan keberagaman sejak zaman tempo dulu.

Dedi menambahkan, sebelum berdirinya gereja, seorang pendeta asal Belanda sempat mengunjungi Tanjungpinang. Ia telah menyaksikan keberadaan Masjid Keling yang lebih dulu ada.

Masjid ini awalnya dibangun oleh komunitas pedagang Muslim asal India yang singgah dan menetap sementara di Tanjungpinang pada awal abad ke-19.

Para pedagang Muslim India kemudian sepakat untuk mendirikan rumah ibadah, yang kemudian dikenal dengan sebutan Masjid Keling.

Bangunan awal masjid terbuat dari kayu kapur atau kayu merah dengan bentuk rumah panggung, meski lokasinya tidak terlalu dekat dengan bibir laut. 

"Seiring waktu, bentuk aslinya tidak lagi tersisa setelah mengalami sejumlah renovasi besar," sebut Dedi. 

Saat ini, bangunan yang berdiri di atasnya adalah Masjid Agung Al Hikmah yang telah direnovasi setidaknya tiga kali sejak tahun 1956 dan terus difungsikan sebagai rumah ibadah. 

Keberadaan masjid legendaris ini bukan sekadar simbol religi klasik, melainkan juga penegas identitas historis Kota Tanjungpinang yang tumbuh dari akar budaya Melayu dan nilai Islam yang kuat. 

"Masjid ini digunakan untuk salat berjemaah hingga perayaan hari besar Islam seperti salat Idulfitri dan Iduladha," tutup Dedi. (*)

Penulis: Yusnadi Nazar

Posting Komentar