Menyingkap Jejak Historis Pulau Persembunyian Legendaris di Seberang Tanjungpinang
![]() |
| Menyingkap jejak historis pulau persembunyian legendaris di seberang Tanjungpinang. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar |
Catatan Visual - Di perairan yang memisahkan daratan Tanjungpinang dengan pulau-pulau kecil di sekitarnya, berdirilah sebuah pulau persembunyian legendaris.
Tempo dulu, pulau di seberang Tanjungpinang itu, dijadikan sebagai pulau persembunyian. Namun kini dikenal sebagai pusat pemerintahan Kepri.
Jauh sebelum adanya gedung pemerintahan dan jembatan megah yang membelah lautan, pulau persembunyian itu menyimpan kisah historis panjang.
Pulau itu adalah Pulau Dompak. Ia menyimpan cerita kampung nelayan, jalur dagang hingga cerita perompak yang mewarnai historis maritim tempo dulu.
Pada masa Kesultanan Riau Lingga, wilayah perairan di Pulau Dompak merupakan bagian penting dari jalur pelayaran.
Aktivitas dagang di Bandar Riau sejak abad 18, turut menjadikan pulau di sekitar Tanjungpinang termasuk Dompak, sebagai tempat singgah pelaut dan pedagang.
Letaknya yang strategis menjadikan kawasan ini dekat dengan pusat pemerintahan tempo dulu di Sungai Carang dan Pulau Penyengat.
Nama “Dompak” sendiri memiliki cerita yang cukup menarik dalam tradisi lisan masyarakat setempat. Sejumlah catatan historis menyebut nama Dompak.
Riwayat Perompak di Pulau Dompak Tanjungpinang
Berdasarkan catatan historis, nama Dompak itu sendiri, berasal dari kata lompak atau rompak yang berkaitan dengan aktivitas perompakan tempo dulu.
Menurut catatan Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepri, kawasan Dompak Lama tempo dulu, dikenal sebagai pulau persembunyian para perompak.
Pulau persembunyian para perompak (perampok) tempo dulu yang terdiri dari berbagai etnis. Mulai dari etnis Melayu, Bugis, Tionghoa hingga Thailand.
Ceritanya, setelah melakukan aksi perompakan di jalur perdagangan Selat Malaka, perompak beristirahat di pulau persembunyian itu.
Dalam perkembangan lidah dan lisan Melayu setempat, penyebutan lompak yang berasal dari bahasa Tionghoa kemudian berubah menjadi Dompak.
Cerita mengenai Dompak sebagai kampung para perompak memperlihatkan betapa strategisnya kawasan ini tempo dulu.
Selat Malaka tempo dulu merupakan jalur perdagangan tersibuk di Asia Tenggara. Kapal dagang dari India, Arab, Tiongkok hingga Eropa melintasi kawasan ini.
Dalam situasi demikian, perompakan laut menjadi fenomena yang lazim di sejumlah titik perairan di Kepri termasuk Tanjungpinang.
Pulau kecil seperti Dompak dimanfaatkan sebagai pulau persembunyian karena posisi geografisnya yang terlindung dan dekat dengan jalur pelayaran utama.
Namun, aktivitas perompakan itu tidak bertahan lama. Aktivitas terlarang itu, ditentang pihak Kesultanan Riau Lingga dan para perompak pun dibasmi.
Dalam catatan historis lain disebut Kampung Dompak Lama adalah tempat persembunyian sekaligus tempat peristirahatan perompak di hutan bakau.
Baca Juga: Menelusuri Jejak Pompong, Transportasi Legendaris Pulau Bintan yang Tangguh dan Andal
Para perompak itu tidak menetap dan disebut tidak menganggu penduduk asli Dompak yang berasal dari Pulau Penyengat dan Tanjungpinang.
Ceritanya, saat kepala perompak tengah istirahat, tiba-tiba badannya tertimpa kayu bakau. Ia pun kesakitan dan akhirnya tewas.
Kejadian ini merupakan pertanda kehadiran perompak tidak disukai masyarakat asli. Perompak akhirnya meninggalkan pulau persembunyian itu.
Sebelum pergi, perompak memberikan kabar kepada masyarakat kawasan itu tidak akan disinggahi lagi dan akan ditinggalkan.
Kemudian masyarakat asli akhirnya mengubah nama kampung Lompak menjadi kampung Dompak yang artinya tetap sebagai kampung para perompak.
Meski demikian, Pulau Dompak bukan hanya tentang cerita perompak. Kehidupan masyarakat tumbuh melalui aktivitas menangkap ikan dan berkebun.
Pulau Dompak Menjadi Negeri Pemerintahan
![]() |
| Pulau Dompak Tanjungpinang yang kini menjadi pusat pemerintahan Provinsi Kepri. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar |
Memasuki masa kekuasaan kolonial, kawasan Tanjungpinang tetap memegang peranan penting sebagai pusat administrasi dan perdagangan.
Pulau Dompak ketika itu masih didominasi kampung-kampung kecil dengan lanskap hutan bakau, rawa pesisir, dan permukiman nelayan.
Hubungan masyarakat Dompak dengan daratan utama Tanjungpinang banyak dilakukan melalui jalur laut menggunakan pompong dan perahu kayu.
Perubahan besar di Pulau Dompak Tanjungpinang, mulai terjadi setelah pembentukan Provinsi Kepri pada awal tahun 2000-an.
Pemerintah kemudian memilih Pulau Dompak yang masuk dalam wilayah administratif Tanjungpinang, sebagai pusat pemerintahan Provinsi Kepri.
Pembangunan kantor pemerintah, masjid megah dan jalan raya dan tempat wisata dilaksanakan. Jembatan dibangun sebagai penghubung dan kini menjadi ikon baru Tanjungpinang.
Keputusan itu akhirnya mengubah wajah pulau yang dahulu menjadi pulau persembunyian para perompak, menjadi kawasan administratif yang modern.
Meskipun telah berubah, jejak historis Pulau Dompak tetap tersimpan dalam ingatan masyarakat dan cerita-cerita lisan yang diwariskan turun-temurun.
Pulau Dompak pernah hidup di tengah lalu lintas perdagangan dunia, kisah para pelaut, perompak hingga kisah kampung nelayan di seberang Tanjungpinang.
Di balik gedung, jembatan megah dan pantai wisata hari ini, pulau persembunyian para perompak itu, sesungguhnya adalah bagian dari lanskap historis maritim tempo dulu. (*)
Penulis: Yusnadi Nazar


