Melestarikan Musik Melayu Agar Tidak Hilang di Bumi
0 menit baca
![]() |
| Melestarikan musik Melayu agar tidak hilang di bumi, grup Staman Pulau Penyengat tampil mengisi festival budaya di Pulau Penyengat Tanjungpinang, 2014 silam. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar |
Catatan Visual - Grup musik asal Pulau Penyengat Tanjungpinang ini, konsisten memadukan musik Melayu klasik dengan sentuhan modern demi melestarikan budaya.
Di tengah arus musik modern populer di Indonesia, tidak banyak generasi musisi muda yang memilih menekuni musik Melayu.
Namun di Pulau Penyengat Tanjungpinang, sekelompok musisi muda justru menjadikan musik melayu sebagai jalan berkarya.
Selain itu, untuk menghadapi tantangan zaman yang terus berkembang, keberadaan musik Melayu juga menjadi simbol dan identitas budaya.
Para musisi muda ini tergabung dalam sebuah grup musik bergenre musik Melayu bernama Staman Malay Musical yang sebelumnya bernama Staman Pulau Penyengat.
Grup musik ini lahir pada 2014 dan bermarkas di Sanggar Budaya Warisan Pulau Penyengat. Pada awal berdiri, Staman diperkuat sekitar 30 musisi.
Seiring berjalannya waktu, perubahan dan dinamika internal, jumlah personel kemudian menyusut. Hingga kini menetap pada 11 personel inti.
Bagi para personelnya, Staman bukan sekadar grup musik. Grup ini justru menjadi ruang tumbuh bagi anak muda Melayu untuk menyalurkan bakat bermusik.
Wadah Edukasi Kreatif, Berkarya dan Produktif
Staman Malay Musical juga hadir sebagai wadah edukasi dan menjauhkan diri anak-anak muda Melayu dari berbagai pengaruh negatif.
Karena itu, musik Melayu itu dapat dijadikan medium untuk tetap berkarya, kreatif, produktif dan berakar pada jati diri budaya Melayu.
Pengurus sekaligus pemain akordion Staman Malay Musical Muhammad Razif, mengatakan sejak awal dibentuk oleh pendahulunya, Staman mempunyai misi.
Staman berdiri untuk menjaga eksistensi musik Melayu. Musik tradisional ini perlu terus hidup, agar tetap relevan di telinga generasi muda.
“Selain memainkan lagu Melayu klasik, kami juga mengaransemen lagu modern ke dalam nuansa Melayu,” kata Razif.
Eksplorasi musikal juga menjadi ciri khas Staman Malay Musical yang memadukan musik modern dengan unsur sentuhan zapin, joget, makyong, inang hingga reggae.
"Perpaduan ini juga menghadirkan warna baru tanpa menghilangkan tradisi," jelasnya.
Keunikan ini, lanjut Razif, sempat menarik perhatian akademisi mancanegara untuk melakukan penelitian mengenai musik Melayu.
Salah seorang profesor asal Australia bahkan pernah melakukan penelitian genre musik yang dimainkan Staman, saat tampil di sebuah festival.
“Waktu itu ia merekam penampilan kami dan menjadikannya bahan penelitian di Australia,” ungkapnya.
Mencapai Prestasi yang Membanggakan, Merawat Warisan Musik Melayu
![]() |
| Staman Malay Musical tampil di Gedung Gonggong Tanjungpinang. Arsip Foto: © Staman Official |
Dalam setiap penampilan, Staman Malay Musical mengandalkan beragam instrumen, mulai dari alat musik modern hingga instrumen Melayu klasik.
Alat musik gitar, bass, biola, akordion dan suling berpadu dengan kajon, gendang bebano, darbuka, cabasa, champ, serta tamborin.
“Semua personel dituntut harus mampu memainkan alat musik,” sebutnya.
Konsistensi bermusik membawa Staman meraih sejumlah prestasi. Pada 2014, Staman keluar sebagai juara pertama Festival Akustik Musikalisasi Gurindam Dua Belas.
Di tahun yang sama, Staman Malay Musical juga meraih juara tiga dan favorit pada Festival Akustik Religi O Nine Tanjungpinang Radio.
Puncaknya pada 2020, Staman Malay Musical melebarkan sayapnya ke jagat musik Indonesia berkolaborasi dengan beberapa musisi Tanah Air.
Grup yang menggabungkan musik melayu dan modern itu bekerjasama dengan dua musisi Indonesia dan meluncurkan lagu berjudul “Senandung Negeri”.
Kini, Staman kerap mengisi berbagai acara, mulai dari kegiatan budaya, pemerintahan, resepsi pernikahan hingga agenda sosial dan kampanye.
“Prestasi ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus berkarya dan bekerja lebih keras,” kata Razif.
Ke depan, Staman Malay Musical berharap dapat terus eksis dan membawa musik Melayu melangkah lebih jauh, bahkan menembus panggung internasional.
“Kami ingin musik Melayu dikenal luas hingga ke luar negeri. Harapan kami sederhana yaitu agar budaya Melayu tidak hilang di bumi,” tutup Razif. (*)
Penulis: Yusnadi Nazar


