Di Bawah Langit Pulau Bintan, Tradisi Klasik Pesta Ketupat Menyatukan Ribuan Hati
0 menit baca
![]() |
| Di bawah langit Pulau Bintan, tradisi klasik Pesta Ketupat menyatukan ribuan hati. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar |
Catatan Visual - Di bawah langit Pulau Bintan, ribuan orang menghadiri hajatan tradisi klasik Pesta Ketupat dalam suasana penuh kebersamaan.
Aroma santan dari ketupat yang baru matang, berpadu dengan riuh tawa pelancong dan masyarakat yang menghadiri perayaan berbasis budaya itu.
Tradisi klasik Pesta Ketupat yang diwariskan turun-temurun itu serasa kembali hidup, menjadi sebuah ruang untuk menyatukan ribuan hati.
Dalam suasana penuh kehangatan dan kebersamaan, ribuan orang larut dalam Pesta Ketupat dengan semangat silaturahmi dan rasa syukur.
Selain itu, ribuan orang pelancong yang hadir, memperlihatkan kecintaannya terhadap warisan Melayu yang terus lestari di tengah perkembangan zaman.
Pagi itu, di Gurun Pasir Telaga Biru Desa Busung yang menghadirkan keindahan, ribuan orang dan pelancong, hadir dalam Pesta Ketupat.
Ribuan orang itu hadir bukan hanya untuk menikmati keindahan alam, melainkan merasakan hangatnya Pesta Ketupat yang lahir dari semangat kebersamaan.
Aroma kari ayam dan serundeng ikan bertebaran. Masyarakat, pelancong domestik, hingga pelancong mancanegara, berbaur tanpa sekat.
Tradisi Klasik Pesta Ketupat yang Kembali Bersinar
Kuliner tradisional ketupat yang selama ini dikenal sebagai simbol perayaan dan persaudaraan, menjadi perekat yang menyatukan ribuan hati.
Pesta Ketupat perdana di Desa Busung, Kecamatan Seri Kuala Lobam, Bintan tersebut, berlangsung meriah dan sukses menarik perhatian publik.
Lebih kurang 3.500 ketupat disiapkan penyelenggara dan dibagikan secara gratis kepada para pengunjung yang datang ke Gurun Pasir Telaga Biru.
Antusiasme begitu tinggi hingga ribuan ketupat yang tersedia habis dinikmati para pelancong dalam suasana penuh kebersamaan dan keakraban.
Dalam tradisi Melayu, ketupat bukan sekadar makanan berbahan dasar beras yang dibungkus anyaman daun kelapa muda.
Ketupat menyimpan makna filosofis tentang kebersihan hati, silaturahmi dan rasa syukur setelah melewati berbagai fase kehidupan.
Tradisi klasik berbagi ketupat juga menjadi simbol keterbukaan dan penghormatan kepada tamu yang datang berkunjung.
Nilai-nilai itulah yang coba dihidupkan kembali oleh masyarakat Desa Busung melalui pesta budaya bertajuk Pesta Ketupat tersebut.
Di tengah pesatnya perkembangan pariwisata modern, masyarakat setempat terus berusaha menghadirkan sebuah ruang tradisi dan kebersamaan.
Masyarakat Desa Busung, menghadirkan pesta yang mempertemukan budaya, kuliner dan wisata dalam satu perayaan yang penuh keakraban.
Tidak hanya menyajikan kuliner ketupat gratis, penyelenggara juga menghadirkan berbagai perlombaan bernuansa tradisional.
Lomba seperti menganyam ketupat, pembacaan gurindam Melayu, hingga pertunjukan seni budaya memeriahkan suasana Pesta Ketupat.
Kegiatan-kegiatan itu juga menjadi daya tarik tersendiri, membuat pengunjung mengenal lebih dekat warisan budaya yang masih terjaga hingga kini.
Pesta Ketupat, Agenda Tahunan Istimewa
Kesuksesan perdana itu tidak lepas dari keterlibatan semua pihak. Masyarakat bersama-sama menyiapkan ketupat, memasak dan mengatur jalannya pesta.
Semangat kebersamaan yang ada dalam Pesta Ketupat itu, menjadi ciri khas masyarakat Melayu yang tampak hidup dalam setiap sudut acara.
Kepala Desa Busung, Rusli menyebut terselenggaranya Pesta Ketupat, berkat tingginya partisipasi masyarakat dan besarnya animo pengunjung.
Rusli menyebut acara berbasis budaya seperti Pesta Ketupat di Desa Busung, masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Pulau Bintan.
Oleh karena itu, Pesta Ketupat akan direncanakan menjadi agenda tahunan yang akan terus dikembangkan di masa mendatang.
Lebih dari sekadar pesta kuliner dan budaya, Pesta Ketupat tersebut juga menjadi strategi memperkuat sektor pariwisata Desa Busung.
Gurun pasir yang selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi di Kabupaten Bintan, mendapatkan nilai tambah melalui sentuhan budaya lokal.
Ribuan pelancong yang datang membuktikan perpaduan antara tradisi klasik dan wisata, mampu menciptakan pengalaman yang berkesan.
Bahkan, jumlah kunjungan wisatawan atau pelancong pada pelaksanaan Pesta Ketupat, meningkat signifikan dibanding hari-hari biasa.
"Jumlah (pelancong) meningkat dibanding hari biasa yang hanya ratusan," kata Rusli.
Momentum ini menunjukkan tradisi klasik yang dirawat dengan baik, dapat menjadi magnet wisata sekaligus penggerak ekonomi masyarakat setempat.
Pesta Ketupat, Langkah Positif Pengembangan Wisata Unggulan
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Bintan Firman Setyawan, mengatakan Pesta Ketupat menjadi langkah positif pengembangan destinasi unggulan Bintan.
"Event ini upaya memajukan wisata Gurun Pasir Telaga Biru yang selama ini jadi andalan Bintan," katanya.
Selain itu, kata Firman, Pesta Ketupat juga memberi dampak positif bagi pelaku UMKM di objek wisata Gurun Pasir Telaga Biru.
"Selain promosi wisata, acara ini juga menjaga dan melestarikan budaya masyarakat," jelasnya.
Dengan dukungan Pemerintah Daerah, diharapkan Pesta Ketupat terus berlanjut dengan menghadirkan inovasi kuliner, tradisi dan budaya.
Terakhir, saat senja mulai turun dan malam pun mulai menjelang di Gurun Pasir Telaga Biru, ribuan ketupat mungkin telah habis terbagi.
Namun yang tersisa adalah kenangan tentang tradisi klasik yang berhasil menyatukan banyak orang dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan.
Dari Desa Busung, Pesta Ketupat menjadi penanda bahwa warisan budaya masih hidup, menjadi denyut baru bagi pariwisata di Pulau Bintan. (*)
Penulis: Yusnadi Nazar

