Kuliner Tanjungpinang Tempo Dulu, Dari Tarikan Klasik hingga Bercita Rasa Modern
0 menit baca
![]() |
| Kuliner Tanjungpinang tempo dulu, dari tarikan klasik hingga bercita rasa modern. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar |
Sensasi Buih dan Rasa Autentik Kuliner Tanjungpinang Tempo Dulu
Teh tarik telah menjadi kuliner Tanjungpinang tempo dulu yang lekat dengan kehidupan masyarakat. Minuman ini lebih dari sekadar pelepas dahaga.
Kuliner Tanjungpinang tempo dulu yang berbuih ini, telah menjadi bagian dari budaya dan cerita panjang kota klasik Tanjungpinang.
Pada suatu siang di kedai kecil kawasan Jalan Ganet Tanjungpinang, aroma teh pekat bercampur susu kental manis memenuhi udara.
Di balik meja, seorang lelaki bercelemek tampak cekatan menuang cairan berwarna cokelat keemasan dari satu canting ke canting lainnya.
Gerakan tangan lelaki itu cepat namun lembut dan berirama. Seperti mengikuti sebuah tarian yang telah ia kuasai bertahun-tahun.
Tarikan berulang itu menghasilkan buih lembut di permukaan canting. Dari sana, teh cokelat berbuih itu dialirkan ke gelas dan dinikmati hangat maupun dingin.
Minuman klasik tersebut adalah teh tari. Kuliner Tanjungpinang tempo dulu yang hingga kini, tetap menjadi favorit lintas generasi.
Bagi banyak orang, tarikan panjang itu mungkin hanya trik untuk mendinginkan teh. Namun bagi masyarakat Tanjungpinang, tarikan tersebut adalah seni.
Tarikan panjang dan unik itu, merupakan sebuah atraksi yang lahir dari tradisi klasik tempo dulu dan diwariskan secara turun-temurun.
Diperkirakan, teh tarik mulai dikenal di Tanjungpinang sejak awal kedatangan para perantau keturunan India dan Melayu sekitar tahun 1800-an.
Resepnya menyebar ke kedai-kedai kopi di kawasan Kota Lama Tanjungpinang. Di sudut-sudut kota itu, aroma teh pekat itu sangat menggoda.
Dari waktu ke waktu, teh tarik menjadi identitas kuliner kota ini. Warung kopi tradisional hingga kafe modern tetap menjadikannya menu utama.
Bahkan berbagai varian rasa muncul. Mulai rasa matcha, cincau, jahe, jagung hingga kopi tarik yang menambah warna baru tanpa menghilangkan tradisi.
Pemilik Kedai Teh Tarik Bang Raja di Jalan Masjid Kota Lama Tanjungpinang, Raja Hanafi, mengatakan teh tarik adalah minuman yang merakyat.
“Di setiap tarikan, ada kehangatan. Orang datang berkumpul, bercerita, ditemani segelas teh tarik yang penuh buih,” kata lelaki yang akrab disapa Bang Raja itu.
Menurutnya, kunci kelezatan teh tarik terletak pada penyajiannya. Pati teh dicampur susu kental manis, lalu ditarik dari satu canting ke canting lain.
Dari tarikan klasik dari kedua tangan itu, maka akan menghasilkan buih, aroma dan sensasi rasa manis khas yang menggugah selera.
Atraksi menarik teh ini bahkan kerap menjadi tontonan menarik bagi pelanggan, terutama di kedai kopi tradisional.
“Cukup siapkan air mendidih, dua sendok pati teh, susu dan dua canting. Tarik selama kurang lebih dua menit,” jelas Bang Raja.
Harga yang ditawarkan pun ramah di kantong, mulai dari harga Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per gelas, tergantung varian rasa yang diinginkan.
Menabung Emas dari Segelas Teh Tarik
Untuk menambah daya tarik sekaligus mengedukasi generasi muda tentang pentingnya menabung, Bang Raja menghadirkan program unik di kedainya.
Setiap pembelian lima gelas teh tarik, pelanggan atau pembeli teh tarik, berhak mendapatkan satu keping emas Antam 0,01 gram.
Jika mengumpulkan 50 keping, pelanggan dapat menukarnya di Kedai Teh Tarik Bang Raja di Jalan Masjid maupun di Jalan Ganet Tanjungpinang.
“Selain edukasi menabung, penjual dan pembeli juga sama-sama mendapat manfaat," jelas Bang Raja.
Kini, teh tarik telah menjadi ikon kuliner Tanjungpinang. Tidak lengkap rasanya berkunjung ke Tanjungpinang tanpa mencicipi teh tarik asli Tanjungpinang.
"Kita ingin teh tarik tetap jadi bagian dari identitas kuliner Tanjungpinang tempo dulu, tapi dengan sentuhan positif untuk masa depan,” tutupnya. (*)
Penulis: Yusnadi Nazar

