Melihat Produksi Penutup Kepala Khas dan Klasik di Gerai Gurindam Tanjungpinang

Melihat Produksi Penutup Kepala Khas dan Klasik di Gerai Gurindam Tanjungpinang
Melihat produksi penutup kepala khas dan klasik di gerai Gurindam Tanjungpinang. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar 

Catatan Visual - Songkok atau peci merupakan penutup kepala klasik Nusantara yang memiliki kedudukan khusus dalam sejarah dan budaya masyarakat Indonesia. 

Penutup kepala tradisional ini telah lama menjadi bagian dari identitas, dikenakan oleh berbagai kalangan, mulai dari tokoh nasional hingga masyarakat sehari-hari.

Makna songkok tidak hanya sebatas aksesoris. Dalam kehidupan keagamaan, sosial, hingga kenegaraan, songkok menempati posisi simbolis yang kuat.
Secara historis, penutup kepala khas ini diyakini berasal dari kawasan Melayu yang meliputi Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

Tradisi penggunaannya, dioercaya juga telah dikenal sejak era kerajaan dan semakin populer pada abad ke-19, terutama di kalangan umat Islam.

Di Sumatera dan wilayah Kepulauan Riau, penutup kepala khas ini lebih dikenal dengan sebutan songkok, sementara di daerah lain disebut peci atau kopiah. 

Bagi umat Islam, songkok kerap dipakai saat beribadah dan kegiatan keagamaan. Songkok juga menjadi simbol perjuangan sejak masa pergerakan kemerdekaan. 
Presiden Soekarno, Wapres Mohammad Hatta, hingga para pemimpin bangsa lainnya, sering mengenakannya dalam berbagai acara resmi kenegaraan.

Sebagai bagian dari budaya, songkok terus bertahan dan hadir di berbagai kegiatan. mulai dari upacara negara, tradisi adat, hingga aktivitas sehari-hari.

Nilai historis, religius, dan nasionalisme, membuat songkok atau peci ini tetap menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia termasuk Tanjungpinang.

Perajin Songkok yang Setia Merawat Tradisi

Melihat Produksi Penutup Kepala Khas dan Klasik di Gerai Gurindam Tanjungpinang
Produksi Songkok di Gerai Gurindam Tanjungpinang. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar

Tradisi produksi songkok masih dijaga hidup oleh para perajin lokal. Salah satunya adalah Syafran (53) pemilik gerai Gurindam Songkok di Jalan Kuantan Tanjungpinang.

Bersama sang istri, Nur Azizah (51), Syafran telah 20 tahun lebih, menekuni produksi songkok berkualitas tinggi dan menjadi rujukan banyak pelanggan.

Produk Gurindam Songkok dikenal memiliki mutu baik, dibuat dengan keterampilan tradisional yang tetap dipertahankan hingga kini. 

Syafran menjelaskan bahwa proses pembuatan songkok membutuhkan ketelitian tinggi karena melalui beberapa tahap yang cukup rumit.

Tahap awal dimulai dari pemilihan bahan. Kain beludru menjadi bahan utama bagian luar, sedangkan karton tebal dipakai sebagai struktur penopang di dalam. 
Setelah itu, pola songkok disesuaikan dengan ukuran kepala pemesan. Selanjutnya, bahan tersebut, dipotong dengan presisi hingga menjadi songkok.

“Prosesnya menjahit beberapa lembar karton dan membentuknya menjadi lingkaran oval. Setelah itu barulah dilapisi kain beludru,” jelas Syafran.

Tahap finishing dilakukan dengan merapikan bagian bawah songkok serta memastikan hasil akhir bersih dan kokoh. 

"Sebelum dipasarkan, setiap produk songkok kami periksa kembali kualitasnya," ungkap Syafran. 

Untuk menghasilkan satu songkok, Syafran membutuhkan waktu sekitar satu jam pengerjaan, tergantung permintaan pemesan. 

"Dalam sehari, bisa produksi 10 hingga 20 songkok," jelas Syafran. 
Selain menerima pesanan khusus, mulai dari model, motif, hingga warna piliha, Syafran sesekali masih menjajakan produk buatannya. 

Kadang jual dari rumah ke rumah atau kantor ke kantor. Sekarang tidak sering, hanya kalau ada waktu luang saja,” katanya.

Harga songkok buatannya bervariasi, mulai dari Rp60 ribu hingga Rp250 ribu, tergantung jenis bahan dan tingkat kerumitan pesanan.

Bagi Syafran, pekerjaannya bukan sekadar usaha, melainkan wujud komitmen untuk merawat simbol nasionalisme dan warisan budaya ini.

“Kalau ada yang ingin membuat penutup kepala khas Indonesia, bisa datang ke gerai Gurindam Songkok di Jalan Kuantan,” ajaknya sambil tersenyum.

Penulis: Yusnadi Nazar
Posting Komentar