Potret Tukang Servis Klasik, Keliling hingga ke Pelosok Tanjungpinang
0 menit baca
![]() |
| Potret tukang servis klasik, keliling hingga ke pelosok Tanjungpinang. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar |
Tukang Servis Klasik Bertahan di Tengah Laju Kemajuan Zaman
Pada zaman modern dan era teknologi, keberadaan tukang servis klasik keliling masih menjadi pilihan banyak warga Tanjungpinang.
Dengan sepeda sebagai alat transportasi utama, tukang servis klasik ini menyusuri jalan-jalan kota hingga ke pelosok untuk menawarkan jasa.
Keberadaan tukang servis klasik ini seolah menjadi pengingat tempo dulu, ketika tukang servis keliling, datang langsung ke rumah pelanggan.
Meskipun tukang servis klasik keliling kini jarang ditemui, namun layanan sederhana seringkali tidak kalah dari layanan modern.
Berbekal Sepeda dan “Bengkel Mini"
Salah satu yang masih setia menekuni profesi ini adalah Syafrizal (59). Lebih dari satu dekade, ia menggantungkan hidup dari jasa servis panggilan.
Pada suatu siang, sekitar pukul 10.00 WIB, Syafrizal terlihat mengayuh santai sepedanya dan melintas di kawasan jalan Batu 5 Tanjungpinang.
Rambut yang mulai memutih tidak mengurangi semangatnya. Di belakang sepedanya, terpasang kotak kayu berisi berbagai perkakas.
Obeng, tang, solder, multimeter hingga perkakas pendukung menjadi andalan, layaknya "bengkel mini" yang selalu ia bawa ke mana pun ia pergi.
Pada kotak kayu itu tertulis jelas “Servis Panggilan”, penanda bahwa Syafrizal siap melayani bagi yang ingin memperbaiki barang elektronik.
Peralatan rumah tangga seperti kipas angin, dispenser, penanak nasi hingga mesin cuci, semuanya pernah Syafrizal perbaiki.
Siang itu ia berhenti sejenak di Jalan Sei Jang Tanjungpinang untuk beristirahat. Di sana Syafrizal bercerita bahwa ia baru menerima panggilan.
Seorang pelanggan setia di kawasan Batu 8 Jalan Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang, ingin menggunakan jasa servis Syafrizal.
*Ada panggilan servis, karena agak jauh, kami istirahat sebentar," kata Syafrizal.
Di sela-sela istirahat, Syafrizal mengaku bahwa ia menggunakan sepeda berkeliling, karena mempunyai keunggulan tersendiri.
“Enak kalau pakai sepeda. Badan sehat dan bisa masuk gang-gang sempit yang ada di Tanjungpinang,” ujarnya.
Dalam sehari, ia sanggup menempuh jarak hingga 22 kilometer pulang-pergi. Wilayah paling jauh yang pernah ia layani adalah Batu 11 hingga Batu 12.
"Kami tinggal di dekat depan Tugu Pensil. Jadi ngayuh sepeda bisa lebih 20 kilometer bolak balik," ungkap Syafrizal.
Terjangkau dan Transparan, Jadi Alasan Banyak Pelanggan Setia
Syafrizal memahami bahwa banyak masyarakat menginginkan layanan yang terjangkau dan perbaikan bisa dipantau langsung.
Syarizal mengatakan, selalu memperbolehkan pelanggan melihat ia bekerja dan melihat proses pengerjaan servis barang elektronik.
Harga servis berkisar antara Rp40 ribu hingga Rp100 ribu, tergantung pada tingkat kerusakan. Namun tetap mempertimbangkan kondisi pelanggan.
“Kalau pelanggan hidup sederhana, masa kami patok harga mahal, murah-murah saja,” ucapnya.
Meski sederhana, cara kerja Syafrizal yang teliti, membuat banyak orang merasa nyaman dan akhirnya menjadi pelanggan tetap.
Namun pekerjaan ini bukan tanpa tantangan. Cuaca tidak menentu, risiko di jalan dan persaingan dengan servis modern, menjadi tantangan.
"Waktu di jalan, kami pernah kecelakaan. Ya gitu lah tantangannya, mesti hati-hati," kata Syafrizal.
Belajar Autodidak dan Mengayuh Sepeda Sejak 2011
![]() |
| Potret Syafrizal menggunakan sepeda berkeliling ke pelosok Tanjungpinang. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar |
Syafrizal mulai menekuni profesi tukang servis klasik keliling pada 2011. Awalnya ia bekerja di Jakarta dan Bogor, sebelum memutuskan kembali ke Tanjungpinang.
"Kami lahir di Jakarta, ayah orang asli Tanjungpinang, ibu berasal dari Daik Lingga," ungkapnya.
Meskipun hanya lulusan sekolah dasar, kemampuan servis Syafrizal didapat dari proses belajar mandiri sejak muda alias belajar autodidak.
“Awalnya bongkar kipas angin, kompor gas, dispenser. Pelan-pelan belajar sampai bisa buka jasa servis keliling,” jelasnya.
Menariknya, di balik tubuhnya yang tampak kuat, ia pernah mengalami kecelakaan cukup berat semasa bekerja di Jakarta.
Kala itu, sepeda yang ia kendarai, ditabrak oleh mobil hingga rangka sepeda bengkok dan sopir mobil kabur begitu saja.
Namun berbagai pengalaman pahit itu tidak membuatnya berhenti. Ia terus bekerja, berkeliling dari pagi hingga sore, karena tidak ingin hanya berdiam diri.
"Sudah terbiasa kerja sejak muda, jadi kalau di rumah saja, rasanya bosan saja," kata Syafrizal.
Kini Mengendarai Sepeda Bermesin, Hasil Kerja Keras Bertahun-Tahun
Setelah bertahun-tahun mengayuh sepeda, kini Syafrizal akhirnya menggunakan sepeda motor metik, hasil kerja kerasnya.
Bukan untuk meninggalkan tradisi lamanya, tetapi sebagai bentuk peningkatan mobilitas setelah tabungannya cukup.
“Kalau ada rezeki lebih, ya kita pakai motor. Tapi sepeda tetap ada manfaatnya, terutama untuk kesehatan,” terangnya.
Meskipun zaman terus berubah, semangatnya tidak ikut luntur. Ia percaya servis panggilan akan selalu dibutuhkan selama masih ada barang elektronik yang butuh perbaikan.
Bagi Syafrizal, profesi tukang servis klasik keliling ini, bukan sekadar sumber penghasilan, tetapi cara untuk tetap aktif, mandiri dan memberi manfaat bagi orang lain.
"Kalau butuh tukang servis klasik panggilan untuk perbaikan barang elektronik, hubungi kami di nomor 0877-7531-7665," ajak Syafrizal. (*)
Penulis: Yusnadi Nazar


