Cerita Peracik Kopi di Kota Tua Kijang, Merawat Cita Rasa Asli Kopi Bintan
0 menit baca
![]() |
| Cerita peracik kopi di Kota Tua Kijang, merawat cita rasa asli kopi Bintan. Arsip Foto: © Kedai Kopi Iman |
Catatan Visual - Di balik secangkir kopi yang beredar hingga ke berbagai penjuru Indonesia, tersimpan perjalanan penuh kegagalan dan ketekunan seorang peracik kopi.
Dia adalah Muhammad Imanullah. Akrab disapa Iman. Peracik kopi asal Bintan, berhasil membuktikan bahwa mimpi bisa tumbuh dari kebun sendiri.
Berangkat dari kecintaannya pada kopi, Iman kini terkenal sebagai peracik kopi yang mengolah biji kopi hasil tanamannya sendiri.
Bubuk kopi racikannya telah dipasarkan ke berbagai daerah, mulai dari Tanjungpinang, Batam, Pekanbaru, Jakarta, Bandung, hingga Balikpapan.
Tidak hanya itu, dua kedai kopi di kawasan Kijang, Bintan Timur yang ia kelola selalu ramai dikunjungi oleh para penikmat kopi lokal.
Meskipun demikian, keberhasilan tersebut bukan diraih secara instan. Pada masa awal merintis, kopi racikan Iman kerap menuai keluhan.
Rasa yang belum konsisten hingga hasil seduhan yang belum memuaskan, menjadi catatan yang ia terima dari para penikmat kopi.
Alih-alih patah arang, Iman justru menjadikan setiap komplain sebagai bahan belajar. Ia terus bereksperimen, hingga menemukan karakter rasa kopi khas.
“Proses gagal itu justru yang menguatkan,” ujar Iman di Kijang Bintan, beberapa waktu lalu.
Berawal dari Buruh Galangan hingga Jadi Peracik Kopi dari Kebun Sendiri
Sebelum menekuni dunia kopi, Iman mengaku bekerja sebagai buruh di sebuah perusahaan galangan kapal di Kijang, Bintan.
Rutinitasnya sederhana, bekerja, lalu menikmati kopi di sela waktu istirahat. Dari kebiasaan itulah, benih keinginan membuka kedai kopi mulai tumbuh.
Tahun 2010 menjadi titik awal. Dengan tabungan seadanya, Iman memberanikan diri membuka usaha kedai kopi yang ia beri nama Kedai Kopi Iman.
Saat masih merintis itu, Iman masih harus membagi waktu antara bekerja di galangan kapal dan mengelola kedai kopi miliknya sendiri.
Awalnya, kebutuhan kopi ia penuhi dengan membeli bubuk kopi jadi. Namun, lonjakan harga membuatnya berpikir ulang tentang keberlanjutan usaha.
Dari persoalan harga itulah muncul ide, menanam kopi sendiri. Ketertarikan itu semakin kuat setelah ia menemukan tanaman kopi bisa tumbuh di Kijang.
Rasa penasaran membawa Iman ke Sumatera Utara. Ia melihat langsung budidaya kopi dan membawa seribu bibit kopi robusta untuk ditanam di Kijang.
Namun tanpa bekal ilmu yang memadai, upaya awal itu berakhir dengan kegagalan. Meskipun begitu, semangat belajarnya tidak pernah surut.
Ia kemudian belajar mandiri sebagai peracik kopi melalui media sosial dan bergabung dengan komunitas petani kopi asal Lampung.
Dari Biji Kecil ke Rasa Kopi Khas Bintan
Menggunakan bibit dari Lampung, Iman kembali menanam kopi di lahan sendiri seluas setengah hektare di kawasan Gunung Lengkuas, Kijang.
Tantangannya besar, kopi sejatinya tumbuh optimal di dataran tinggi, sementara Kijang ada di wilayah dataran rendah dengan suhu cukup panas.
Berbekal saran petani kopi, Iman mencoba berbagai metode, mulai dari menanam dengan tanaman pelindung seperti petai cina.
"Kami juga mencoba pengaturan jarak tanam, hingga percobaan tanpa pelindung," ungkap Iman.
Hasilnya mulai terlihat setelah dua tahun. Meski ukuran biji kopi tergolong kecil, hal itu menjadi pelajaran penting dalam pengembangan berikutnya.
Iman kemudian mengawinkan tanaman kopi untuk mendapatkan karakter biji yang lebih besar dan tahan terhadap cuaca ekstrem.
"Alhamdulillah, bibit yang ditanam sejak 2018, terbukti mampu bertahan hingga kini," katanya.
Proses pascapanen pun ia lakukan sendiri. Biji kopi dipilih dengan cara perendaman, dijemur selama beberapa hari.
Biji kopi lalu disangrai dengan teknik manual. Pengendalian api menjadi kunci agar kopi tidak gosong dan tetap mempertahankan cita rasa.
Awalnya, penggilingan dilakukan secara manual. Namun seiring meningkatnya permintaan, Iman beralih menggunakan mesin yang ia rancang sendiri.
"Pengetahuan merakit mesin kami pelajari dari berbagai tutorial di YouTube," sebutnya.
Berbagi Ilmu, Menyebar Manfaat
Kini, Iman bukan hanya terkenal sebagai peracik kopi andal, tetapi juga mentor bagi siapa saja yang ingin merintis usaha kedai kopi.
“Ilmu harus dibagi agar bermanfaat. Kalau pelit, ilmu itu bisa hilang. Sama-sama belajar, gratis” ajak Iman.
Dari kebun kopi di Kijang hingga cangkir-cangkir kopi di berbagai kota, perjalanan Muhammad Imanullah ini, menjadi bukti.
Menjadi peracik kopi andal, membutuhkan kesabaran, doa, dan kerja keras hingga mampu mengubah kegagalan menjadi keberhasilan. (*)
Penulis: Yusnadi Nazar

