Merawat Nada dan Suara di Gerai Klasik Kota Tua Kijang Pulau Bintan
0 menit baca
![]() |
| Merawat nada dan suara di gerai klasik Kota Tua Kijang Pulau Bintan. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar |
Catatan Visual - Hujan membuat udara Pulau Bintan terasa sejuk. Namun langit cerah kembali menaungi sebuah gerai klasik di Kota Tua Kijang.
Gerai klasik itu berada di sebuah kampung di Kota Tua Kijang yang berada sekitar 25 kilometer dari Kota Lama Tanjungpinang.
Di balik suasana sejuk dan tenang tersebut, gerai klasik di Kampung Jati itu, menyimpan denyut kreativitas yang terus hidup.
Tidak jauh dari Masjid Raya Nurul Iman, berdirilah gerai klasik kerajinan kayu sederhana yang menjadi rujukan para musisi lokal.
Tempat di mana kayu, nada, suara dan kesabaran bertemu di gerai klasik. Tempat itu terkenal dengan nama Gerai Ragam Kreasi.
Bangunannya tidak besar, hanya berukuran sekitar 4 x 3 meter. Atap asbes, dinding papan kayu, serta peralatan kerja sederhana.
Seluruh benda-benda itu setia menemani. Seakan menjadi saksi aktivitas seorang perajin yang setia mengabdikan diri pada dunia musik.
Obeng, palu, kuas dan botol minyak pelumas tersusun rapi. Di ruang itu, perajin juga ditemani alunan musik rock dan secangkir kopi.
Di sanalah sang perajin kayu bernama Suprayitno atau yang akrab disapa Nenong (54), menghabiskan hari-harinya dengan kreativitas.
Sejak 1995, ia menekuni keahlian mereparasi alat musik petik, mulai dari gitar akustik dan elektrik, bass, ukulele, gambus, hingga cello.
“Yang paling mendasar itu penggantian senar. Idealnya enam bulan sekali agar kualitas suara tetap terjaga,” ungkap Nenong.
Selain penggantian senar, kata Nenong, penyetelan gitar , menjadi salah satu layanan yang banyak dibutuhkan oleh pemilik gitar.
Proses ini meliputi penyesuaian tinggi fret, pengecekan leher gitar, hingga memastikan posisi senar nyaman saat dimainkan.
Menurut Nenong, penyetelan gitar elektrik maupun akustik yang tepat, sangat menentukan kenyamanan dan kualitas bunyi serta suara gitar.
Khusus gitar elektrik, jelas Nenong, persoalan yang sering muncul biasanya berkaitan dengan komponen pickup, potensiometer, sakelar, hingga tremolo.
“Kalau ada masalah di bagian elektronik, kami bantu perbaiki atau ganti supaya kembali normal,” katanya.
Tidak hanya itu, perbaikan fisik seperti bodi retak, leher bengkok atau bridge yang mulai longgar juga menjadi pekerjaan rutin.
Bahkan, Nenong kerap menerima permintaan kostumisasi, mulai dari pemasangan pickup tambahan, modifikasi bodi, hingga perubahan warna gitar.
Untuk urusan biaya, Nenong memastikan jasanya tetap terjangkau. Tarif reparasi dibanderol mulai dari Rp50 ribu hingga Rp800 ribu, tergantung tingkat kerusakan.
Menurut pendapat Nenong, alat musik terutama alat musik petik yang sering digunakan, hampir pasti akan mengalami penurunan kondisi.
Tanpa perawatan rutin, lanjut Nenong, kualitas nada, suara gitar dan kenyamanan bermain, akan sedikit berkurang.
“Dengan perawatan yang baik, gitar bisa dipakai sampai puluhan tahun,” ujarnya.
Nenong juga memberikan garansi hasil pekerjaan. Jika terjadi kendala setelah reparasi, pelanggan dapat kembali membawa gitarnya untuk diperbaiki.
"Kalau kurang puas setelah reparasi, pemilik bisa antar kembali gitar ke gerai klasik kami," sebutnya.
Local Pride, Produksi Gitar dengan Merek Sendiri
Lebih dari sekadar reparasi dan perawatan gitar, kreativitas tangan Nenong juga dituangkan dalam pembuatan atau produksi alat musik.
Di gerai klasik itu, ia memproduksi gitar akustik, gitar elektrik, bass, ukulele, hingga gambus dengan merek lokal buatannya sendiri, yaitu "NNNG."
Gitar-gitar tersebut dibuat dari berbagai jenis kayu, seperti jati tua, jati Belanda, seraya, mahoni, meranti, hingga kayu nangka.
Proses produksi dilakukan berdasarkan pesanan. Dari awal pemilihan bahan hingga gitar siap dimainkan, Nenong mengerjakannya sendiri.
Harga gitar produksi dan buatan tangan mantan musisi Kota Tua Kijang itu bervariasi, mulai dari Rp1 juta hingga Rp5 juta.
Penentuan harga disesuaikan dengan jenis kayu, komponen, permintaan khusus pemesan serta tingkat kesulitan pengerjaan.
“Kalau ada pesanan, sekitar dua minggu biasanya sudah selesai satu unit gitar,” kata ayah dua anak itu.
Keberadaan Gerai Klasik Penting Bagi Musisi Lokal
![]() |
| Nenong tengah mereparasi gitar elektrik milik musisi lokal Kota Tua Kijang Pulau Bintan. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar |
Salah seorang musisi lokal dan pelanggan setia Muhamad Nasrun (56), menilai keberadaan gerai klasik ini sangat penting bagi musisi lokal di Pulau Bintan.
Menurut Nasrun, perawatan dam perbaikan gitar elektrik maupun akustik, terutama yang menyangkut fisik dan teknis, memerlukan keahlian khusus.
“Kalau kerusakan sudah kompleks, tidak bisa sembarang orang memperbaiki. Harus yang benar-benar paham,” katanya.
Nasrun menambahkan, perawatan dan reparasi berkala menjadi kunci agar gitar tetap nyaman dimainkan dan menghasilkan kualitas suara yang baik.
“Di tangan orang yang ahli, gitar bisa terus hidup dan menemani musisi berkarya. Kalau ada kendala langsung saja datang ke gerai klasik ini,” tutupnya. (*)
Penulis: Yusnadi Nazar


