Halimun Pagi Tanjungpinang dan Romantika Lanskap Klasik yang Tidak Pernah Usai
0 menit baca
![]() |
| Halimun pagi di perbatasan Tanjungpinang-Bintan dan romantika lanskap klasik yang tidak pernah usai. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar |
Catatan Visual - Halimun pagi di Tanjungpinang selalu turun perlahan dari langit. Turun dengan cara yang pelan, tidak tergesa, namun terasa damai.
Panorama halimun pagi pun turun menyelimuti laut, rumah-rumah masyarakat dan jalanan kota, seolah ingin menahan waktu.
Dalam kabut tipis pagi itulah, romantika lanskap klasik Kota Tanjungpinang, menemukan bentuknya yang hening, damai dan penuh kehangatan.
Di tepian laut yang diselimuti halimun pagi, tampak aktivitas sampan-sampan nelayan seperti bayangan yang mengambang di atas air.
Suara ombak kecil pun terdengar bersahutan dengan panggilan azan subuh dari masjid dan surau tua di seantero kota.
Halimun pagi membuat garis antara laut dan langit nyaris lenyap. Kota ini seakan berada di antara dua dunia, masa kini dan masa lalu yang tidak pernah pergi.
Tanjungpinang adalah kota yang tumbuh dari historis panjang. Di balik kabut pagi, rumah dan bangunan lama masih tetap berdiri kokoh.
Dinding kusam, jendela kayu dan gang-gang sempit, menjadi saksi perjalanan kota yang menjadi denyut nadi historis ini.
Halimun pagi seolah menjadi tirai tipis yang menutup sekaligus menjaga cerita-cerita legendaris itu agar tidak termakan oleh zaman.
Romantika Tanjungpinang dan Keheningan Pagi
Melihat halimun pagi ciptaan Allah yang indah, akan terasa damai. Udara terasa lebih ringan, seolah napas hari itu membawa ketenangan yang lama dicari.
Selain itu, ada rasa syukur, hangat dan akrab. Seolah pagi sedang berbisik bahwa tidak semua harus terlihat jelas untuk bisa dirasakan indahnya.
Ketika mentari mulai naik, sinarnya menembus kabut pagi dan jatuh di permukaan laut, memantul pada rumah panggung dan dermaga kayu.
Pemandangan dan panorama alam itu sederhana, namun justru di situlah letak romantikanya. Tidak berlebihan dan tidak memamerkan diri.
Panorama pagi itu juga memberikan ketenangan dan kedamaian. Membuat hati merasa tenang bersyukur atas keindahan alam Ciptaan Yang Maha Kuasa.
Seolah-olah, Kota Tanjungpinang itu menunjukkan dan memilih untuk hadir apa adanya, tampak tenang, bersahaja, dan jujur.
Seperti biasa, masyarakat kota Tanjungpinang tetap menjalani pagi dengan nuansa irama yang selalu nyaris sama dari hari ke hari.
Pedagang membuka lapak, nelayan melaut, pekerja siap menjalankan aktivitas dan anak-anak bersiap ke sekolah.
Semuanya bergerak di bawah halimun pagi yang mulai menipis. Tetapi tidak terburu-buru, seolah kota ini mengajarkan agar hidup cukup dijalani dengan ikhlas.
Romantika Tanjungpinang bukanlah romantika yang sibuk. Ia hadir dalam keheningan pagi yang bercampur dengan kabut.
Tidak hanya itu, ia juga hadir dalam langkah kaki saat menyusuri jalan lama dan gang-gang sempit yang masih setia menyimpan jejak historis.
Keheningan itu membuat halimun pagi seakan menjadi simbol mesra antara alam dan kota. Hubungan yang saling menjaga dan saling memberi ruang.
Saat kabut pagi akhirnya terangkat sepenuhnya, Tanjungpinang kembali menjadi kota yang kita kenal. Namun, romantikanya tidak pernah hilang.
Romantika itu seakan tinggal, menunggu halimun pagi berikutnya kembali turun dan menyibak keindahan Kota Tanjungpinang yang tidak pernah usai. (*)
Penulis: Hal Maliq Hanifa

