Ketika Fenomena Klasik Tampil Romantis Menghiasi Langit Malam Tanjungpinang
![]() |
| Ketika fenomena klasik tampil romantis menghiasi langit malam Tanjungpinang. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar |
Fakta Ilmiah Fenomena Klasik Astronomi yang Menarik Perhatian
Ketika suasana cerah dan kilauan jajaran rasi bintang menghiasi, bumi akan disuguhi oleh fenomena klasik astronomi di langit malam.
Pemandangan fenomena klasik astronomi yaitu bulan purnama yang menerangi malam, akan tampak lebih besar, lebih cerah dan seolah mendekap Bumi.
Fenomena klasik astronomi yang menghiasi langit malam itu merupakan kuasa Allah. Keajaiban itu adalah fenomena supermoon.
Salah satu tontonan alam semesta yang tidak hanya memukau mata, tetapi juga menyimpan bukti-bukti ilmiah yang menakjubkan.
Secara sederhana, supermoon terjadi ketika bulan purnama bertepatan dengan titik terdekatnya terhadap Bumi dalam orbitnya.
Orbit bulan bukanlah lingkaran sempurna, melainkan elips yang berarti jaraknya terhadap bumi berubah-ubah sepanjang waktu.
Titik terdekat ini, dikenal sebagai perigee, sedangkan titik terjauh disebut apogee. Ketika puncak fase purnama bersamaan perigee, kita menyaksikan supermoon.
Baca Juga: Ilmu Optik Klasik dan Jejak Ilmuwan Muslim di Balik Lahirnya Teknologi Visual
Secara akademis, fenomena ini disebut perigean full moon. Karena jaraknya yang lebih dekat sekitar 357.000 kilometer dibandingkan rata-rata 384.400 kilometer.
Ukuran sudut bulan tampak dari bumi, menjadi besar sekitar 14 persen dan cahayanya lebih terang sekitar 30 persen, dibandingkan ketika di titik terjauh.
Meskipun perbedaannya tidak dramatis seperti yang sering digambarkan, mata manusia tetap mampu merasakan sesuatu yang istimewa di langit malam.
Mengapa Supermoon Terjadi?
Fenomena supermoon bukanlah sekadar kebetulan yang indah dan romantis. Melainkan hasil dari interaksi gravitasi dan orbit.
Bulan mengelilingi bumi dalam periode sekitar 27,3 hari (sidereal month) tetapi fase bualn dari purnama ke purnama berikutnya, terjadi dalam sekitar 29,5 hari (synodic month).
Perbedaan ini berarti momen bulan mencapai purnama dan mencapai perigee tidak selalu bersamaan. Keduanya hanya sesekali bertepatan.
Hal yang menarik lainnya adalah bahwa orbit bulan miring sekitar 5 derajat terhadap bidang orbit bumi mengelilingi matahari.
Membuat posisi bulan terhadap bumi dan matahari terus berubah dan ketika semua faktor ini bersatu, kita pun akan menyaksikan supermoon.
Seringkali, supermoon dikaitkan dengan pasang laut yang ekstrem atau banjir rob yang tinggi, gelombang besar, atau fluktuasi pasang surut yang tidak biasa.
Secara ilmiah benar. Posisi bulan mempengaruhi laut melalui gaya gravitasi. Saat supermoon, gaya gravitasi bulan terhadap lautan, sedikit lebih kuat.
Sehingga dapat meningkatkan tinggi pasang surut. Namun, efek ini juga dipengaruhi pula oleh faktor atmosfer, kondisi geografis pantai dan angin lokal.
Dengan kata lain, meski supermoon tidak bisa secara langsung banjir rob, ia dapat mempertegas fenomena pasang surut yang sudah ada.
Sehingga fenomena klasik astronomi ini, menjadi pengingat bahwa bumi dan bulan berada dalam hubungan gravitasi yang dinamis.
Mengapa Kita Takjub dengan Supermoon?
Bukan sekadar ukuran dan cahaya yang membuat fenomena klasik astronomi itu, memikat jutaan pasang mata di seluruh dunia.
Sejak dahulu, manusia telah memandang bulan sebagai lambang waktu dan inspirasi. Ia menjadi petunjuk musim dan penanda pasang surut laut.
Ketika supermoon muncul, ia seolah menghidupkan kembali hubungan emosional. Mengingatkan kita bahwa alam semesta terus bergerak.
Mengamati supermoon tidak memerlukan alat khusus. Dengan mata telanjang pun sudah cukup untuk menikmati keindahan purnama yang lebih dekat.
Namun, teleskop, binokular atau lensa tele kamera, bisa memperkaya pengalaman, memperlihatkan secara detail permukaan bulan.
Ketika langit cerah, carilah tempat yang minim polusi cahaya. Catat tanggal dan jam puncak purnama. Saat itulah bulan optimal untuk diamati.
Berbagi pengalaman bersama keluarga, teman atau komunitas astronom amatir juga bisa menambah makna romantis dan edukatif dari fenomena ini.
Dari fenomena astronomi ini pula, kita seharusnya terus mensyukuri segala nikmat kehidupan yang telah diberikan Allah yang Maha Kuasa.
Supermoon Lebih dari Sekadar Bulan Besar
Menurut pengamatan, supermoon akan menghiasi langit malam pada 3 Januari 2025. Ia adalah peristiwa yang ringkas, namun memiliki fakta ilmiah, cantik dan estetis.
Selain itu, supermoon mengingatkan kita bahwa setiap malam langit menyimpan cerita tentang gaya gravitasi, waktu, dan harmoni kosmik yang tidak terlihat.
Ketika bulan tampak lebih dekat dan lebih besar, sesungguhnya kita sedang diingatkan akan hubungan langit dan bumi dan Tuhan abadi.
Ketika cahaya bulan menerangi, jutaan jiwa menatap ke langit. Tidak sekadar melihat, tetapi merasakan keajaiban kuasa Allah dan fenomena klasik itu. (*)
Penulis: Hal Maliq Hanifa

