Landmark Alam Legendaris di Kepri, Dari Ikon Melayu Menuju Warisan Dunia
![]() |
| Landmark alam legendaris di Kepri, dari ikon Melayu menuju warisan dunia. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar |
Catatan Visual - Di ujung selatan Kepulauan Riau (Kepri), tepatnya di Pulau Lingga yang tenang dan memukau, berdiri sebuah landmark alam legendaris.
Satu landmark alam legendaris yang tidak hanya mencuri perhatian karena ketinggiannya, namun juga karena historis yang melekat padanya.
Landmark alam legendaris itu adalah Gunung Daik. Puncaknya yang bercabang tiga, menjadi simbol historis dan budaya Melayu.
Gunung Daik bercabang tiga yang hidup dan terus dikenang cukup panjang dalam perjalanan historis dan sastra rakyat Pulau Lingga, Kepri.
Kini, Gunung Daik menjadi sorotan baru. Dalam upaya pelestarian alam, historis dan budaya, gunung ini diusulkan sebagai geopark nasional.
Bahkan, sebagai landmark alam legendaris yang penuh nilai historis dan budaya Melayu ini,diusulkan masuk Warisan Dunia.
Gunung Daik merupakan gunung tertinggi di Provinsi Kepri. Berdiri menjulang di Pulau Lingga dengan tiga puncak atau tiga cabang ikonik.
Simbol cabang tiga itu sejak lama menjadi penanda geografis sekaligus budaya. Ia bukan sekadar fitur fisik, tapi terabadikan dalam pantun klasik Melayu.
“Pulau Pandan jauh ke tengah, Gunung Daik bercabang tiga, Hancur badan dikandung tanah, Budi yang baik dikenang juga.”
Pantun ini mempertegas posisi Gunung Daik dalam ingatan masyarakat Melayu, bahkan menyebar ke negara-negara jiran serumpun.
Selain itu, landmark alam legendaris itu juga menjadikan sebuah simbol budaya yang tidak sekadar lokal, tetapi bergaung lebih luas.
Dukungan Untuk Geopark dan Warisan Dunia
Belakangan ini, dukungan terhadap pengembangan Gunung Daik menjadi geopark sekaligus calon situs warisan dunia, terus menguat.
Dukungan datang dari kalangan pemerintah daerah. DPRD Provinsi Kepri secara resmi menyatakan dukungan untuk upaya itu.
Sebab Gunung Daik memiliki nilai historis, budaya dan peradaban yang kuat sehingga layak diperjuangkan hingga tingkat nasional dan internasional.
Tidak hanya itu, Gunung Daik bukan hanya landmark alam yang spektakuler, tetapi juga pernah menjadi panduan arah bagi pelaut tempo dulu.
Ia menandai perjalanan historis di kawasan Melayu dan bahkan berhubungan dengan berbagai peristiwa penting yang terjadi pada masa lalu.
Namun, perjalanan menuju pengakuan internasional bukan hal yang singkat. Butuh kajian mendalam dari berbagai bidang ilmu.
Kajian antropologis, sosiologis, historis, hingga geologi diperlukan untuk menyusun dokumen ilmiah dan budaya sebagai dasar pengajuan ke UNESCO.
Dengan kajian dari berbagai ilmu, diharapkan Gunung Daik bisa menjadi geopark dan menjadi sebuah situs warisan dunia.
Potensi dan Harapan sebagai Ikon Global
Upaya menjadikan Gunung Daik sebagai warisan dunia, bukan hanya soal wibawa. Jika berhasil, Kepri akan memiliki ikon global yang mengangkat citra Melayu.
Tidak hanya itu, jika berhasil, tentunya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui pariwisata yang berkelanjutan di Kepri.
Wisatawan mancanegara, termasuk banyak pengunjung dari Malaysia, kini sudah tertarik mendaki dan menikmati keindahan alam Gunung Daik.
Ketertarikan pengunjung dari luar negeri itu menjadi sebuah modal awal yang kuat untuk pengembangan Gunung Daik yang lebih serius.
Namun langkah berikutnya jelas memerlukan kolaborasi, peran serta komunitas lokal, dukungan pemerintah pusat, serta pemangku kebijakan.
Persiapan matang, dokumentasi komprehensif dan promosi, menjadi kunci untuk membawa landmark alam legendaris itu, menuju panggung dunia. (*)
Penulis: Yusnadi Nazar

