Menanti Iftar Ramadan Bersama Senja Syahdu di Tepi Laut Tanjungpinang
0 menit baca
![]() |
| Menanti Iftar Ramadan bersama senja syahdu di tepi laut Tanjungpinang. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar |
Catatan Visual - Bulan suci Ramadan selalu menghadirkan suasana berbeda. Momen menjelang waktu berbuka atau iftar, kerap diisi dengan aktivitas khas.
Menanti Iftar adalah aktivitas menunggu azan Magrib yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat selama Ramadan.
Di kota Tanjungpinang, cara warga menanti Iftar Ramadan, beragam. Mulai dari kegiatan religius hingga aktivitas santai yang sarat kebersamaan.
Sebagian warga memilih menghabiskan waktu sore dengan membaca Al-Qur’an, mengikuti kajian keislaman, atau mendengarkan ceramah di masjid.
Aktivitas keagamaan tersebut dipandang sebagai cara produktif untuk mengisi Ramadan dan menambah pahala sekaligus menanti Iftar.
Seiring perkembangan waktu dan zaman, pola menunggu waktu berbuka puasa atau Iftar Ramadan ini pun ikut berubah.
Ada yang menunggu waktu berbuka dengan menonton kajian daring, membaca buku digital, hingga berselancar di media sosial.
Olahraga ringan, jogging, bersepeda atau sekadar berjalan santai juga dilakukan sebagian warga demi menjaga kebugaran tubuh.
Selain itu, tidak sedikit pula yang memilih berjalan-jalan di sekitar kota atau berburu makanan berbuka puasa di pasar dadakan.
Berbagai aneka makanan khas berbuka puasa di Tanjungpinang pun tersedia. Menu Iftar Ramadan seperti kolak, es cendol, gorengan hingga kue tradisional.
Sebelum azan Magrib menjelang, warga Tanjungpinang pun berbondong-bondong berburu makanan berbuka puasa yang tersedia.
Namun, bagi banyak warga Tanjungpinang, kawasan tepi laut tetap menjadi destinasi favorit untuk menanti waktu Iftar Ramadan.
Bentangan pesisir dari Jalan Haji Agus Salim hingga Jalan Hang Tuah Tanjungpinang, ramai dipadati warga menjelang sore.
Hamparan laut tenang, hembusan angin, panorama matahari terbenam atau senja, menciptakan suasana syahdu yang sulit dilewatkan.
Senja, Kebersamaan dan Nilai-nilai Ramadan bertemu di Tepi Laut
![]() |
| Sejumlah warga bersantai menunggu waktu berbuka puasa di tepi laut Tanjungpinang. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar |
Dua lokasi yang kerap menjadi pusat aktivitas warga menunggu Iftar adalah Taman Gurindam 12 dan Tugu Sirih Tanjungpinang.
Dari kedua lokasi ini, warga dapat menikmati pemandangan laut lepas dengan latar kapal-kapal yang berlalu lalang.
“Kami senang menunggu waktu berbuka di sini karena teduh. Kalau cuaca cerah, senjanya benar-benar cantik,” ujar Ayu, warga Tanjungpinang.
Menurut Ayu, Iftar Ramadan bukan sekadar menunggu waktu berbuka puasa, tetapi juga momen kebersamaan bersama keluarga.
Di tepi laut, terlihat anggota keluarga duduk santai bersama. Bahkan ada yang membawa tikar, hingga tenda kecil untuk menunggu azan Magrib.
"Kami biasanya datang sama keluarga, menunggu waktu berbuka puasa sambil menikmati matahari tenggelam," katanya.
Selain menikmati senja, kawasan ini juga menjadi surga kuliner Ramadan. Sepanjang jalan, pedagang menjajakan aneka makanan khas.
Kurma, otak-otak, laksa, bubur dan aneka makanan lain serta aneka minuman segar yang menggoda selera, tersedia di tepi laut Tanjungpinang.
“Biasanya kalau akhir pekan kami sering ke sini sambil menikmati laut, sekalian cari makanan berbuka puasa,” kata Ayu.
Saat azan Magrib berkumandang, suasana tepi laut Tanjungpinang pun berubah. Warga segera membatalkan puasa.
Raut bahagia warga pun terlihat, menutup penantian Iftar Ramadan dengan rasa syukur sambil menikmati senja syahdu tepi laut Tanjungpinang.
Bagi warga, tepi laut bukan sekadar ruang publik dan kenangan. Tetapi di sanalah senja, kebersamaan dan nilai-nilai Ramadan bertemu.
Semua itu menjadikan Iftar Ramadan di tepi laut Tanjungpinang terasa lebih hangat, bermakna dan penuh kebersamaan.
“Biasanya setelah Iftar Ramadan di tepi laut, kami lanjut salat Magrib dan Tarawih di Masjid Raya Al Hikmah,” tutup Ayu.
Penulis: Yusnadi Nazar


