Jejak Kampung Tua Legendaris di Tengah Kota, Cerita Kemboja Tanjungpinang dalam Lintasan Waktu
0 menit baca
![]() |
| Jejak kampung tua legendaris di tengah kota, cerita Kemboja Tanjungpinang dalam lintasan waktu. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar |
Catatan Visual - Perbukitan, gang-gang sempit dan jejak langkah hingga suasana tempo dulu, masih menghiasi kampung tua legendaris Tanjungpinang yakni Kemboja.
Kelurahan Kemboja yang menjadi bagian dari Tanjungpinang Barat itu juga menyimpan cerita tentang tumbuhnya Kota Tanjungpinang.
Di balik denyut kota yang terus bergerak, sebuah kawasan yang tampak biasa saja, tetap menyimpan lapisan historis yang panjang.
Kemboja bukan sekadar wilayah administratif di Tanjungpinang Barat. Ia adalah kawasan yang tumbuh bersama perjalanan Tanjungpinang.
Di Kemboja, historis tidak selalu hadir dalam bentuk bangunan megah atau monumen besar. Ia seakan hidup dalam gang-gang sempit.
Kemboja hidup dari rumah-rumah yang berdiri mengikuti kontur bukit, jejak langkah ribuan orang serta cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut.
Nama Kemboja mungkin terdengar sederhana bagi masyarakat masa kini. Namun di baliknya tersimpan cerita tempo dulu.
Saat menelusuri Kemboja, seseorang sesungguhnya sedang menelusuri salah satu bagian penting dari historis Tanjungpinang itu sendiri.
Dari Pohon Kemboja Menjadi Nama Kelurahan
Nama sebuah tempat atau kawasan di di sebuah kota, sering kali lahir dari kedekatan manusia dengan alam. Demikian pula dengan Kemboja.
Menurut penuturan dan sejumlah catatan historis, nama Kemboja diyakini berasal dari banyaknya pohon kemboja di kawasan tersebut pada masa silam.
Pohon dengan bunga beraroma khas itu dahulu menjadi bagian dari lanskap alami wilayah dengan kontur perbukitan di sekitar Kota Lama Tanjungpinang.
Bagi masyarakat Melayu di Kepulauan Riau termasuk Tanjungpinang, penamaan kampung berdasarkan kondisi alam, merupakan hal yang lazim.
Tidak sedikit kampung memperoleh nama dari pohon, sungai, bukit, tanjung, atau karakter geografis alam tertentu yang menonjol.
Karena itu, nama Kemboja sendiri tidak hanya sekadar menjadi penanda. Ia juga menjadi pengingat tentang bentang alam tempo dulu.
Selain itu, pohon kemboja dan perbukitan juga pernah menghiasi kawasan ini sebelum berubah menjadi permukiman padat seperti saat ini.
Mungkin pohon kemboja yang dahulu mendominasi, telah sirna. Namun namanya tetap hidup dalam ingatan masyarakat Tanjungpinang.
Kemboja Di Tengah Pusaran Historis
Sejak abad 18, kawasan Tanjungpinang di Pulau Bintan menjadi bagian penting dari jaringan perdagangan Kesultanan Riau Lingga.
Letaknya yang strategis di jalur pelayaran internasional, menjadikan wilayah Tanjungpinang ramai dikunjungi pedagang dari berbagai penjuru dunia.
Perahu-perahu berbagai etnis di nusantara hingga pedagang Eropa, silih berganti berlabuh di perairan sekitar Hulu Riau Tanjungpinang.
Aktivitas perdagangan yang tumbuh pesat itu, secara perlahan-lahan turut membentuk kawasan permukiman baru di Tanjungpinang.
Kota kemudian berkembang dari tepian laut, menuju kawasan yang lebih tinggi. Permukiman mulai merambat ke kawasan perbukitan.
Dalam proses itulah kawasan yang kini dikenal sebagai Kelurahan Kemboja, mulai berkembang sebagai bagian dari wilayah penyangga Tanjungpinang.
Salah satu karakter khas Kemboja adalah topografinya yang berbukit. Berbeda dengan kawasan pesisir Tanjungpinang yang relatif datar.
Sebagian kawasan atau wilayah Kelurahan Kemboja, berada pada kontur tanah yang menanjak. Kondisi ini membentuk pola permukiman yang unik.
Rumah-rumah dibangun mengikuti lereng bukit. Jalan kecil berkelok mengikuti bentuk alam. Gang-gang sempit menjadi penghubung.
Tidak mengherankan jika kawasan perbukitan di sekitar Tanjungpinang sejak lama menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.
Kampung yang Menjadi Rumah Beragam Etnis
Historis Tanjungpinang tidak dapat dipisahkan dari keberagaman dan sejak lama menjadi tempat bertemunya berbagai kelompok masyarakat.
Orang Melayu hidup berdampingan dengan masyarakat Bugis, Tionghoa, Jawa, Minangkabau dan berbagai etnis lainnya.
Di warung kopi, pasar, maupun ruang-ruang sosial lainnya, terjadi pertemuan budaya yang berlangsung secara alami selama puluhan tahun.
Kemboja tumbuh dalam suasana yang sama. Keberagaman tersebut membentuk karakter sosial masyarakat yang terbuka terhadap pendatang.
Bahasa Melayu menjadi jembatan komunikasi. Tradisi gotong royong dan nilai kebersamaan, menjadi fondasi dan perekat kehidupan.
Tidak berlebihan jika dikatakan Kelurahan Kemboja Tanjungpinang Barat, merupakan sebuah cermin kecil dari wajah multikultural di Tanjungpinang.
Aroma Tempo Dulu yang Terus Hidup di Tengah Kota Modern
![]() |
| Potret suasana rumah lama tahun 1980an di Gang Melur, Kemboja, Tanjungpinang. Arsip Foto: Nazar Anwar |
Seiring waktu, pembangunan bergerak. Jalan-jalan diperlebar. Bangunan baru baru berdiri. Aktivitas ekonomi berkembang semakin pesat.
Namun di tengah perubahan itu, Kemboja masih menyimpan sejumlah jejak masa lalu. Beberapa gang-gang tua, masih tetap bertahan.
Sebagian rumah lama masih berdiri meskipun telah mengalami renovasi. Pola permukiman yang mengikuti kontur bukit, masih dapat dikenali.
Kawasan ini juga menawarkan pengalaman menarik. Berjalan kaki menyusuri gang-gang sempit di Kemboja, menjadi pengalaman tersendiri.
Menyusuri gang menanjak, seakan membawa seseorang memasuki lorong waktu yang menghubungkan Tanjungpinang masa kini dengan Tanjungpinang tempo dulu.
Di setiap sudutnya terdapat cerita. Di setiap gang-gang sempit tersimpan kenangan dan jejak langkah orang-orang yang pernah membangun kota ini.
Historis bukan hanya tentang tempo dulu. Ia adalah identitas yang membantu masyarakat, memahami kampung tua di Tanjungpinang.
Karena itu, keberadaan kampung tua seperti Kemboja, memiliki nilai yang jauh melampaui fungsi administratifnya sebagai kelurahan.
Kawasan Kemboja merupakan arsip hidup yang merekam perjalanan Tanjungpinang dari masa ke masa dan dalam lintasan waktu.
Saat bangunan lama hilang, saat jalan-jalan lama berubah tanpa dokumentasi, sesungguhnya sebagian memori kota ikut lenyap.
Maka menjaga Kemboja bukan sekadar menjaga sebuah kawasan permukiman. Menjaga Kemboja berarti menjaga memori masyarakat Tanjungpinang.
Hari ini, Kelurahan Kemboja menjadi bagian dari kota modern. Generasi muda mungkin lebih mengenalnya sebagai kawasan permukiman padat.
Namun di balik kehidupan sehari-hari yang berjalan biasa, tersimpan cerita yang membentang sejak tempo dulu hingga masa kini.
Cerita tentang pohon kemboja yang memberi nama sebuah kampung. Cerita tentang perbukitan yang menjadi tempat tumbuhnya permukiman.
Selama cerita-cerita itu masih dikenang, Kelurahan Kemboja di Tanjungpinang akan tetap menjadi lebih dari sekadar nama sebuah kelurahan.
Kemboja akan selalu menjadi bagian penting yang menyimpan jejak historis dan perkembangan Kota Tanjungpinang di Pulau Bintan, Kepulauan Riau. (*)
Penulis: Yusnadi Nazar


