Bandar Udara Kijang Tanjungpinang, Jejak Lapangan Terbang Legendaris Pulau Bintan
0 menit baca
![]() |
| Bandar Udara Kijang Tanjungpinang, jejak lapangan terbang legendaris Pulau Bintan. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar |
Catatan Visual - Di tengah Pulau Bintan, berdiri sebuah lapangan terbang legendaris yang menjadi saksi historis dan perjalanan panjang Kepulauan Riau.
Generasi lama Pulau Bintan mengenal lapangan terbang legendaris itu, sebagai Bandar Udara Internasional Kijang yang berlokasi di Tanjungpinang.
Sebuah nama yang begitu melekat dalam ingatan masyarakat. Kini, gerbang udara itu telah berganti nama menjadi Bandara Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang.
Meskipun demikian, bagi banyak orang, sebutan "Bandar Udara Kijang" masih hidup sebagai bagian dari nostalgia yang sulit tergantikan.
Lapangan terbang legendaris ini bukan sekadar tempat pesawat lepas landas dan mendarat. Ia adalah penanda perubahan zaman.
Dari sebuah lapangan terbang sederhana di tengah Pulau Bintan, menjadi pintu gerbang utama Provinsi Kepulauan Riau menuju sejumlah kota di Indonesia.
Lapangan Terbang yang Menjadi Gerbang Udara Kepulauan Riau
Historis bandar udara (bandara) ini, bermula pada awal dekade 1950-an. Pemerintah Indonesia membangun lapangan terbang di Tanjungpinang.
Pembangunan itu sebagai bagian dari upaya memperkuat konektivitas wilayah perbatasan dan mendukung pertumbuhan ekonomi Kepulauan Riau.
Tonggak historis penting terjadi pada Februari 1955. Saat Bandara Kijang diresmikan oleh Menteri Perhubungan Adnan Kapau Gani.
Kemudian, di bulan dan tahun yang sama, penerbangan reguler pertama Garuda Indonesia mulai beroperasi menggunakan pesawat de Havilland Heron.
Penerbangan itu merupakan penerbangan pertama kali dan membuka era baru transportasi udara di Pulau Bintan, Kepulauan Riau.
Masa itu, perjalanan menuju Pulau Bintan masih menggunakan transportasi laut. Kehadiran bandara menjadi simbol kemajuan, meski aktivitas penerbangan belum padat.
Masa Emas yang Tidak Terlupakan
Menariknya, sejak awal status Bandar Udara Kijang di Tanjungpinang, sebenarnya telah dirancang sebagai bandara internasional.
Namun dengan berbagai kondisi dan perkembangan wilayah saat itu, membuat potensinya belum dapat dimanfaatkan secara optimal.
Saat Kepulauan Riau masih menjadi bagian dari Riau, arus penerbangan lebih banyak terpusat ke Pekanbaru sehingga Bandar Udara Kijang cenderung sepi.
Meskipun demikian, keberadaan landasan pacu dan fasilitas penerbangan tetap dipertahankan karena letaknya yang strategis.
Bagi masyarakat Tanjungpinang, Bintan, hingga Lingga, bandara ini menjadi kebanggaan. Sebab ribuan orang pertama kali menginjakkan kaki di pesawat.
Memasuki dekade 1980-an hingga awal 2000-an, Bandar Udara Kijang menjadi simpul penting mobilitas masyarakat Kepulauan Riau.
Berbagai pesawat dan berbagai maskapai penerbangan, pernah melayani penerbangan dari lapangan terbang legendaris di Kepulauan Riau ini.
Nama-nama seperti Merpati Nusantara Airlines, Riau Airlines, hingga Sriwijaya Air menjadi bagian dari sejarah perjalanan udara masyarakat Kepulauan Riau.
Suasana bandara kala itu begitu khas. Belum ada terminal megah dan modern. Penumpang berjalan kaki menuju pesawat yang terparkir di apron.
Keluarga mengantar hingga dekat ruang keberangkatan, sementara suara baling-baling pesawat menjadi irama yang akrab bagi masyarakat sekitar.
Bandar Udara Kijang Tanjungpinang bukan hanya tempat berangkat dan pulang. Ia menjadi ruang pertemuan, perpisahan, sekaligus harapan.
Berganti Nama, Mengabadikan Nama Pahlawan Nasional
Perkembangan dan perubahan besar-besaran terjadi setelah Kepulauan Riau resmi menjadi provinsi pada tahun 2002 dan Tanjungpinang sebagai ibu kota.
Saat itu, Tanjungpinang membutuhkan bandara yang representatif. Pemerintah menggelontorkan anggaran besar pada 2007 untuk mengembangkan Bandara Kijang.
Landasan pacu diperpanjang dari sekitar 1.856 meter menjadi 2.256 meter. Terminal diperluas dari 2.118 meter persegi menjadi 8.348 meter persegi.
Berbagai fasilitas navigasi dan radar turut ditingkatkan. Proyek itu dipersiapkan agar bandara mampu melayani sekitar ratusan ribu penumpang per tahun.
Pengembangan lapangan terbang legendaris ini, menjadi titik balik yang mengubah wajah bandara secara menyeluruh.
Pada 2 April 2008, menjadi babak baru dalam historis penerbangan di Tanjungpinang khususnya, di Kepulauan Riau pada umumnya.
Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal meresmikan perubahan nama Bandara Kijang menjadi Bandara Internasional Raja Haji Fisabilillah.
Nama baru dipilih untuk menghormati Raja Haji Fisabilillah. Pahlawan dari Kesultanan Riau Lingga yang dikenal sebagai pejuang melawan kolonial.
Pergantian nama bukan sekadar perubahan identitas, melainkan penegasan bandara ini membawa nama besar historis Melayu kepada dunia.
Pengembangan dan modernisasi bandara terus berlanjut. Landasan pacu kemudian diperpanjang hingga sekitar 3.578 meter × 45 meter.
Perpanjangan landasan pacu Bandara Raja Haji Fisabilillah ini, memungkinkan pesawat berbadan besar dapat beroperasi dengan lebih leluasa.
Terminal baru yang diresmikan pada 2013, menghadirkan wajah bandara yang jauh lebih modern, nyaman dan representatif.
Kini, berbagai fasilitas penunjang tersedia, mulai dari ruang tunggu yang luas, garbarata, area komersial, hingga sistem navigasi yang canggih.
Lapangan Historis yang Terus Terbuka
Meskipun namanya telah berubah, masyarakat Pulau Bintan, masih sering menyebutnya sebagai Bandar Udara Kijang.
Sebutan itu masih kerap terdengar, seolah menolak melupakan identitas yang telah menemani perjalanan masyarakat selama puluhan tahun.
Di balik fasilitas baru, masih tersimpan jejak tempo dulu yang hanya dikenang oleh orang yang pernah menyaksikan pesawat kecil mendarat.
Bandara ini juga telah mengantarkan ribuan cerita perantauan, kepulangan, pertemuan, perjalanan dinas, wisata, hingga harapan masa depan yang baik.
Selain itu, perjalanan Bandara Kijang hingga menjadi Bandara Raja Haji Fisabilillah, mencerminkan perjalanan Kepulauan Riau itu sendiri.
Dari daerah kepulauan yang bergantung pada transportasi laut, menjadi provinsi yang semakin terhubung melalui jalur udara.
Bagi generasi masa kini, ia adalah Bandara Raja Haji Fisabilillah. Namun bagi generasi terdahulu, ia akan selalu dikenang sebagai Bandar Udara Kijang.
Satu lapangan terbang legendaris yang membuka langit Kepulauan Riau dan menghubungkannya dengan nusantara. (*)
Penulis: Yusnadi Nazar

