Dari Dermaga Klasik hingga Pelabuhan Modern, Jejak Sri Bintan Pura Tanjungpinang Menyambut Dunia
0 menit baca
![]() |
| Dari dermaga klasik hingga pelabuhan modern, jejak Sri Bintan Pura Tanjungpinang menyambut dunia. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar |
Catatan Visual - Setiap kota selalu menyimpan tempat yang menjadi saksi kedatangan dan perjalanan. Di Tanjungpinang, tempat itu bernama Pelabuhan Sri Bintan Pura.
Jauh sebelum kota ini bergelora seperti sekarang, pelabuhan Sri Bintan Pura telah lebih dahulu memperkenalkan Tanjungpinang kepada dunia.
Dari dermaganya, ribuan bahkan jutaan orang menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di kota yang kini menjadi ibu kota Kepulauan Riau ini.
Sebagian datang ke Tanjungpinang sebagai pedagang, pelaut, pegawai, wisatawan, mahasiswa, hingga perantau yang mencari penghidupan baru.
Bagi masyarakat Tanjungpinang, nama Sri Bintan Pura bukan sekadar terminal kapal. Ia adalah simbol keterhubungan antarpulau dan denyut ekonomi.
Pelabuhan Sri Bintan Pura juga sekaligus menjadi wajah pertama yang dikenang setiap orang saat menyebut Kota Tanjungpinang.
Bagian Penting Jalur Internasional
Historis Tanjungpinang tidak dapat dipisahkan dari laut. Sejak berabad-abad silam, kawasan ini telah menjadi bagian penting jalur perdagangan internasional.
Pada masa Kesultanan Riau Lingga, wilayah Sungai Carang dan Pulau Penyengat berkembang sebagai pusat pemerintahan.
Selain itu, menjadi pelabuhan yang ramai disinggahi kapal-kapal dari berbagai penjuru Asia. Pedagang Melayu, Bugis, Arab, India hingga Tiongkok berinteraksi.
Adanya hubungan baik dan interaksi tersebut di kawasan ini, menjadikan Tanjungpinang tumbuh sebagai kota maritim yang kosmopolitan.
Tradisi kemaritiman yang panjang itulah yang kemudian diteruskan oleh pelabuhan modern yang kini dikenal sebagai Pelabuhan Sri Bintan Pura.
Catatan historis menunjukkan fasilitas pelabuhan yang menjadi cikal bakal Sri Bintan Pura, mulai dibangun sekitar tahun 1925.
Sri Bintan Pura Menjadi Pelabuhan Modern
Pada masa kolonial Hindia Belanda, Tanjungpinang bahkan pernah berstatus sebagai pelabuhan bebas (free port) sekitar tahun 1829.
Status itu membuka akses perdagangan internasional meskipun akhirnya tidak mampu menandingi pesatnya perkembangan Singapura di Selat Malaka.
Namun saat itu, pemerintah kolonial kemudian memperkuat jaringan transportasi laut di wilayah Kepulauan Riau, termasuk di pesisir Tanjungpinang.
Pada masa itu, pelabuhan menjadi simpul utama distribusi barang dan mobilitas masyarakat karena jalur darat antarpulau, belum tersedia.
Perkembangan terbesar terjadi setelah Indonesia merdeka. Pemerintah kemudian melakukan berbagai pembenahan fasilitas.
Berdasarkan catatan historis, sekitar bulan Januari 1984, dermaga klasik tersebut diresmikan dengan nama Sri Bintan Pura.
Nama itu bukan dipilih tanpa makna. "Sri" melambangkan kemuliaan dan kemakmuran, sedangkan "Bintan Pura" menggambarkan gerbang menuju Pulau Bintan.
Makna dari Sri Bintan Pura sering diterjemahkan sebagai pintu gerbang Kepulauan Riau yang permai di Pulau Bintan yang gemerlapan.
Wajah Pertama yang Menjadi Nadi Transportasi Tanjungpinang
Ada satu pengalaman yang sama dirasakan setiap penumpang yang datang dari Batam, Karimun, Lingga, Natuna, Anambas, Singapura maupun Malaysia.
Begitu kapal merapat, hal pertama yang dilihat oleh penumpang adalah garis pantai Tanjungpinang dengan aktivitas pelabuhannya.
Kesan pertama tentang kota terbentuk. Deretan kapal cepat, kapal perintis, kapal antarpulau, kapal barang hingga kapal internasional bergantian bersandar.
Suara pengumuman keberangkatan bercampur dengan riuh penjemput, porter, tukang becak, pedagang kecil dan aroma laut yang khas.
Pelabuhan menjadi ruang temu berbagai bahasa dan budaya. Logat Melayu Kepri berpadu dengan dialek Batak, Minang, Jawa, Bugis, Banjar hingga Mandarin.
Berbeda dengan kota-kota besar di Pulau Jawa yang bergantung pada jalan raya, kehidupan masyarakat Kepulauan Riau bertumpu pada transportasi laut.
Pelabuhan Sri Bintan Pura menjadi simpul penting yang menghubungkan Tanjungpinang, Batam, Karimun, Lingga, Tambelan, Natuna, Anambas.
Bahkan Pelabuhan Sri Bintan Pura menghubungkan jalur yang lebih jauh seperti ke Singapura dan Malaysia melalui layanan internasional.
Perannya bukan sekadar mengangkut penumpang, tetapi juga menopang aktivitas pemerintahan, pendidikan, perdagangan, hingga sektor pariwisata.
Berbagai kajian transportasi menempatkan Sri Bintan Pura sebagai pelabuhan utama dan salah satu simpul transportasi nasional di Kepulauan Riau.
Lebih dari Sekadar Pelabuhan
Yang membuat Pelabuhan Sri Bintan Pura berbeda dari pelabuhan lain adalah kedekatannya dengan kehidupan masyarakat.
Selama puluhan tahun, kawasan pelabuhan juga menjadi ruang temu. Menjelang senja, masyarakat datang menikmati angin dan sunset.
Bagi generasi 1980-an hingga awal 2000-an, duduk di pelabuhan sambil melihat kapal datang dan pergi, merupakan hiburan yang nyaris menjadi tradisi.
Di sisi lain, anak-anak berlari di tepian laut. Keluarga berkumpul sambil memandang kapal datang dan pergi menghabiskan sore menikmati matahari terbenam.
Pelabuhan Sri Bintan Pura sendiri telah menyaksikan berbagai perubahan besar Tanjungpinang selama hampir satu abad lebih.
Ia melihat masa kapal kayu masih mendominasi. Ia menyaksikan datangnya kapal cepat berbahan aluminium. Ia menjadi saksi perkembangan teknologi.
Meski wajah bangunannya berubah, satu hal tetap sama. Pelabuhan ini tetap menjadi tempat orang datang dengan harapan dan pergi membawa kenangan.
Banyak kota memiliki bandara megah. Sebagian mempunyai stasiun kereta yang sibuk. Namun bagi Tanjungpinang, identitasnya tetap berada di laut.
Menjadi Identitas Kota Tanjungpinang
Selama kapal masih bersandar di Pelabuhan Sri Bintan Pura, selama suara mesin kapal masih terdengar, pelabuhan ini akan tetap hidup.
Pelabuhan Sri Bintan Pura bukan hanya infrastruktur transportasi laut modern. Ia adalah halaman depan Tanjungpinang. Tempat di mana perjalanan dimulai.
Seiring berkembangnya zaman, fasilitas Pelabuhan Sri Bintan Pura terus diperbarui agar mampu melayani arus penumpang yang semakin besar.
Berbagai pembenahan terminal, ruang tunggu, sistem pelayanan, hingga fasilitas internasional, dilakukan mengikuti kebutuhan transportasi modern.
Namun satu hal tetap tidak berubah. Pelabuhan ini masih menjadi wajah pertama Tanjungpinang. Masih menjadi titik temu ribuan perjalanan.
Masih menjadi saksi perubahan kota dari masa kolonial, era Kesultanan Riau Lingga, hingga menjadi ibu kota Provinsi Kepulauan Riau.
Boleh jadi, bagi banyak orang, Sri Bintan Pura hanyalah sebuah pelabuhan. Tetapi bagi masyarakat Tanjungpinang, ia adalah halaman depan rumah.
Selama masih ada yang datang dan pergi, Pelabuhan Sri Bintan Pura tetap menjadi gerbang yang mempertemukan Tanjungpinang dengan dunia.
Kini, Pelabuhan Sri Bintan Pura telah menjadi tempat di mana historis maritim Melayu Kepulauan Riau terus berlayar dari masa ke masa. (*)
Penulis: Yusnadi Nazar

