Jejak Sampan Kotak, Transportasi Legendaris Penghubung Daratan Tanjungpinang dan Pulau Dompak

Jejak Sampan Kotak, Transportasi Legendaris Penghubung Daratan Tanjungpinang dan Pulau Dompak
Jejak sampan kotak, transportasi legendaris penghubung daratan Tanjungpinang dan Pulau Dompak. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar

Catatan Visual - Tempo dulu, di pagi yang tenang, saat matahari terbit di ufuk timur Tanjungpinang, pendayung sampan kotak, mulai bersiap mendayung.

Dari tepian Dompak Lama Tanjungpinang, sampan kotak yang khas dan berbahan kayu itu, mulai bergerak meninggalkan tambatan. 

Lambungnya sederhana. Di atasnya, penumpang ada yang duduk dan ada yang berdiri sambil membawa barang bawaan, sepeda, bahkan sepeda motor.
Bagi generasi Tanjungpinang yang tumbuh sebelum berdirinya Jembatan Dompak, sampan kotak justru menjadi urat nadi kehidupan. 

Ia bukan sekadar transportasi, melainkan penghubung keluarga, ekonomi, pendidikan, hingga harapan masyarakat Pulau Dompak dengan Tanjungpinang.

Kini, ketika kendaraan melaju mulus di atas bentangan jembatan, sampan kotak yang menggunakan dayung itu, menghilang bersama perubahan zaman.

Jalan Raya yang Bernama Laut 

Sebelum pembangunan kawasan pemerintahan dan Jembatan Dompak, Pulau Dompak merupakan kawasan yang relatif terisolasi. 

Mobilitas masyarakat sepenuhnya bergantung pada jalur laut menggunakan sampan maupun perahu penyeberangan bernama sampan kotak.

Salah satu lintasan perairan yang biar disebut paling ramai adalah rute daratan Dompak Lama Tanjungpinang menuju Pulau Dompak dan pulau lainnya. 

Jaraknya memang tidak terlalu jauh. Dari daratan Dompak Lama Tanjungpinang, daratan Pulau Dompak tampak terlihat jelas. 
Namun, tanpa jembatan, lautan selebar beberapa ratus meter itu, menjadi batas yang hanya bisa ditembus menggunakan transportasi laut.

Di sinilah sampan kotak mengambil peran. Setiap hari, sejak subuh hingga menjelang malam, perahu-perahu itu bolak-balik mengantar masyarakat. 

Tidak ada jadwal tertulis. Selama masih ada penumpang, selama pendayung sampan kotak masih kuat, pelayaran akan terus berlangsung.

Bagi masyarakat setempat, waktu keberangkatan perahu kotak, sering kali ditentukan oleh kebiasaan. Begitu penuh, pendayung akan melepaskan tali tambat.

Bentuk Sederhana, Peran Luar Biasa

Transportasi legendaris itu disebut sampan kotak karena bentuk lambungnya menyerupai kotak yang cukup memanjang.

Berbeda dengan pompong tradisional, sampan kotak justru dapat mengangkut penumpang yang menggunakan sepeda atau sepeda motor. 

Selain itu, sampan kotak sendiri tidak memiliki atap seperti Pokcai yang menjadi transportasi legendaris di Kabupaten Bintan. 
Tidak ada pelampung berjajar seperti transportasi modern. Yang ada hanyalah kepercayaan penumpang dan pendayung yang telah saling mengenal.

Meskipun demikian, sampan kotak bukan hanya menjadi pengantar. Ia ikut mengantarkan berbagai cerita di antara penumpang.

Sesekali ombak cukup besar mengiringi. Membuat seluruh penumpang serentak saling berpegangan. Namun tidak ada yang panik. Semua sudah terbiasa.

Saat Jembatan Mengubah Segalanya

Perubahan besar kemudian datang saat Pulau Dompak ditetapkan sebagai pusat pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Pembangunan kawasan pemerintahan dan pembangunan tiga jembatan, menghubungkan Pulau Dompak dengan berbagai wilayah daratan Tanjungpinang.

Kehadiran tiga jembatan tersebut mengiringi perubahan pergerakan dan pola mobilitas masyarakat Tanjungpinang secara drastis.
Perjalanan yang dahulu bergantung pada pasang surut air laut, berubah menjadi perjalanan darat yang dapat ditempuh kapan saja.

Waktu tempuh menjadi lebih singkat. Biaya angkut menurun. Akses kendaraan semakin mudah dan sampan kotak perlahan kehilangan penumpang.

Satu demi satu berhenti beroperasi. Mungkin sebagian dijual. Sebagian lagi mungkin dibongkar. Sebagian lagi mungkin dibiarkan.

Warisan yang Mungkin Tidak Tercatat

Hari ini, generasi muda mungkin hanya mengenal Dompak melalui jembatan megah, gedung pemerintahan dan jalan raya yang lebar.

Sedikit yang mengetahui sebelum semua itu hadir, ada sebuah transportasi legendaris yang setiap hari menjadi penghubung kehidupan masyarakat.

Sampan kotak memang tidak pernah menjadi ikon wisata. Mungkin tidak pula tercatat sebagai benda cagar budaya di Tanjungpinang. 

Namun bagi yang pernah menggunakannya, setiap papan kayu, dayung sampan kotak, tetap menyimpan kenangan yang sulit digantikan.
Perahu kota bisa saja disebut sebagai simbol satu masa saat laut atau perairan, bukan jadi penghalang, melainkan jalan utama.

Walaupun demikian, historis tidak selalu berdiri dalam bentuk bangunan megah atau monumen. Kadang, hidup dalam benda-benda sederhana.

Sampan kotak salah satunya. Ia menjadi saksi perjalanan Dompak dari sebuah pulau yang hanya dapat dijangkau melalui laut menjadi pusat pemerintahan. 
Perubahan itu menghadirkan kemajuan, tetapi juga mengakhiri satu bab penting dalam historis transportasi legendaris masyarakat pesisir.

Masa kini, saat kendaraan dapat melintas  Jembatan Dompak yang megah dan panjang itu dalam hitungan menit, mungkin tidak banyak yang sadar. 

Di bawah bentangan beton jembatan megah itu, pernah melintas sebuah transportasi legendaris berbahan kayu sederhana.

Sebagai penghubung kehidupan, sampan kotak dengan jasa besarnya, pernah mengiringi perjalanan historis Tanjungpinang dan Pulau Dompak. (*)

Penulis: Yusnadi Nazar
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image