Musik Death Metal, Dari Ruang Bawah Tanah ke Panggung Universal

Musik Death Metal, Dari Ruang Bawah Tanah ke Panggung Universal
Musik death metal, dari ruang bawah tanah ke panggung universal. Arsip Foto: © Kalamun Official

Mengungkap Historis Lahirnya Musik Death Metal Dunia

Di balik dentuman drum brutal, raungan vokal gahar dan riff gitar yang terdistorsi tajam, musik death metal lahir sebagai bentuk perlawanan.

Genre ini bukan sekadar musik keras, tetapi ekspresi ekstrem dari keresahan generasi muda yang tumbuh dari ruang bawah tanah. 

Sehingga musik death metal menjadi salah satu pilar penting dalam perkembangan historis genre musik metal dunia.

Musik death metal tidak hadir secara tiba-tiba. Ia merupakan hasil evolusi panjang, lahir dari keinginan melampaui batas.

Historis musik death metal berakar kuat pada perkembangan heavy metal dan thrash metal awal 1980-an. Band Slayer, Kreator dan Venom jadi pendorong. 

Band-band ini mendorong musik metal ke arah yang lebih cepat, gelap, dan agresif. Namun, bagi sebagian musisi kala itu, ekstremitas itu masih belum cukup.

Tonggak penting muncul melalui Possessed dengan album Seven Churches (1985) yang disebut sebagai fondasi awal death metal. 

Album itu tidak hanya menghadirkan tempo dan distorsi yang brutal, tetapi juga memperkenalkan istilah death metal secara eksplisit.

Struktur lagu mulai meninggalkan pakem konvensional. Riff gitar menjadi lebih kasar, tempo tidak lagi stabil, dan lirik beralih ke tema kehancuran dan makna hidup.

Florida dan Kelahiran Musik Death Metal

Pertengahan hingga akhir 1980-an menjadi fase krusial dengan munculnya skena atau komunitas Florida, khususnya di Tampa, Amerika Serikat. 

Di kota ini death metal menemukan bentuknya yang paling solid, didukung oleh keberadaan Morrisound Recording Studio.

Band Death dipimpin oleh Chuck Schuldiner, tampil sebagai figur sentral. Album Scream Bloody Gore (1987) kerap dianggap sebagai album death metal murni pertama. 

Menyusul kemudian Morbid Angel, Obituary, Deicide dan Cannibal Corpse. Masing-masing band ini datang dengan karakter ekstrem yang berbeda.

Chuck Schuldiner dikenang sebagai “Bapak Death Metal”. Ia pelopor agresivitas dan membawa dimensi intelektual dan progresif.

Hal itu tampak terutama melalui karya-karya album band Death pada era 1990-an yang semakin kompleks, keras dan filosofis.

Kemudian, band-band seperti At the Gates, In Flames dan Dark Tranquillity memperkenalkan pendekatan melodis yang membuka pintu audiens lebih luas.

Sementara band seperti Suffocation, Cannibal Corpse dan Nile tetap menjaga ekstremitas murni dengan permainan teknis dan intensitas brutal.

Hingga kini, musik Death metal terus berkembang dan berevolusi tanpa kehilangan identitas dasarnya yakni kebebasan berekspresi tanpa kompromi.

Indonesia dan Dentuman dari Timur

Di luar itu, death metal juga singgah di Indonesia. Sejak awal 1990-an, genre ini tumbuh sebagai bagian dari gerakan musik bawah tanah.

Gerakan bawah tanah ini menjadi saluran ekspresi generasi muda di tengah keterbatasan industri dan ruang alternatif.

Komunitas death metal Indonesia berkembang melalui jalur independen, kaset demo, zine fotokopian, gigs kecil, dan tape trading lintas kota serta negara.

Kota-kota seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Malang, menjadi pusat pertumbuhan awal komunitas musik death metal.

Pengaruh band-band seperti Death, Morbid Angel, dan Cannibal Corpse menyebar secara organik, jauh sebelum era digital.

Band seperti Jasad (Bandung) muncul sebagai pionir death metal Indonesia dengan konsistensi panjang dan pengakuan internasional. 

Album-albumnya mendapat distribusi luar negeri dan ulasan media metal global, sebuah pencapaian langka di era pra-internet.

Dari Jakarta, band seperti Mortuary, Tengkorak, Funeral Inception, Dead Squad, memperkuat fondasi komunitas musik death metal ibu kota. 

Di Jawa Timur dan Yogyakarta, menyumbang band-band dengan pendekatan yang lebih teknikal dan eksperimental.

Selain itu, death metal Indonesia juga mulai menyisipkan narasi lokal, kritik sosial, historis, mitologi, hingga isu kemanusiaan. 

Pendekatan ini menjadikan death metal sebagai medium refleksi realitas, sejalan dengan akar filosofis genre ini secara global.

Death metal Indonesia juga menjadi suara dari pinggiran, merekam kegelisahan sosial, ketimpangan dan keresahan. 

Kalamun, Band Death Metal Lokal Tanjungpinang Sejak 2018

Musik Death Metal, Dari Ruang Bawah Tanah ke Panggung Universal
Personel Kalamun. Dari kiri ke kanan: Toink (gitar I), Jay Gebhol (bass), Ferriz (vokal), Febri (drum) dan Stefy (gitar II). Arsip Foto: © Kalamun Official

Di tengah dominasi musik populer, band bernama Kalamun, hadir membawa warna berbeda. Band ini memilih jalur death metal sebagai identitas bermusik.

Kalamun yang berdiri sejak 2018 ini digawangi lima personel yakni Ferriz (vokal), Toink (gitar), Stevy (gitar), Jay Gebhol (bass), dan Febri (drum). 

Band ini mengusung musik death metal dengan referensi dari band seperti Death, Suffocation, Slayer, Necrophagist dan Metallica hingga Dead Squad.

Sejumlah lagu telah diciptakan. Di antaranya Kebencian Sampai Mati, Kompulsif, Simpton Mentalitas, dan Siklus Artifisial. 

Lagu-lagu ciptaan sendiri tersebut mengangkat tema sosial dan emosional yang dibalut dengan aransemen musik ekstrem.

“Kami tidak hanya ingin terdengar keras, tetapi juga menyampaikan pesan melalui musik,” tegas Toink, gitaris Kalamun.

Meski menghadapi keterbatasan panggung dan minimnya infrastruktur musik ekstrem, Kalamun tetap aktif berkarya. 

Saat ini, band death metal asal Tanjungpinang tersebut tengah menyiapkan album mini (EP) perdana yang akan dirilis dalam waktu dekat.

Lewat rilisan tersebut, Kalamun berharap dapat memperluas jangkauan pendengar sekaligus membawa nama Tanjungpinang ke peta musik Indonesia.

Meski kerap disalahpahami karena visual dan temanya yang gelap, death metal telah membuktikan dirinya sebagai genre dengan historis panjang. 

Dari ruang bawah tanah di Florida hingga panggung-panggung kecil di Indonesia, termasuk Tanjungpinang, musik death metal menjadi bukti nyata. 

Musik death metal bukan sekadar kebisingan, melainkan suara yang terus hidup, berkembang dan bersuara lantang melampaui batas zaman. (*)

Penulis: Hal Maliq Hanifa

Posting Komentar