Jejak Bangunan Klasik Terbungkus Akar di Tepi Laut Senggarang Tanjungpinang
![]() |
| Jejak bangunan klasik terbungkus akar di tepi laut Senggarang Tanjungpinang. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar |
Catatan Visual - Di tepi laut Senggarang Tanjungpinang, sebuah bangunan klasik berdiri. Dinding dan atapnya nyaris tidak terlihat, terbalut akar-akar pohon.
Terbungkus akar-akar pohon beringin raksasa yang menjalar dan mencengkeram setiap sudut bangunan klasik itu.
Bangunan klasik yang berusia lebih dari dua abad itu, tepat berada di sebuah gang sempit yang menghadap laut di kawasan Senggarang Tanjungpinang.
Meski tersembunyi, pesonanya justru memikat siapa saja yang datang. Dari kejauhan, wujudnya tampak seperti reruntuhan yang hidup.
Akar, batang pohon dan bangunan tampak menyatu membentuk pemandangan yang jarang ditemui di tempat lain.
Bangunan klasik tersebut dikenal sebagai Kelenteng Tao Ca Kong, namun masyarakat lebih akrab menyebutnya Kelenteng Akar Pohon Beringin.
Berdasarkan literatur dan catatan historis lokal Tanjungpinang, bangunan klasik di Senggarang ini, diperkirakan berdiri sejak tahun 1811.
Pada awalnya, bangunan itu bukanlah tempat ibadah. Ia merupakan rumah tinggal seorang Kapitan Tionghoa bernama Chiao Chen.
Sang Kapitan dan seorang tokoh yang berpengaruh dalam komunitas Tionghoa di Senggarang Tanjungpinang pada awal abad ke-19.
Setelah tidak lagi dihuni, rumah tersebut kemudian dialihfungsikan oleh komunitas Tionghoa menjadi kelenteng yang dirawat hingga kini.
Dari masa ke masa, kelenteng ini tidak hanya menjadi tempat sembahyang, tetapi juga simbol ikatan sosial masyarakat Tionghoa.
Alam Mengambil Peran Memperkokoh Bangunan Klasik
Seiring waktu, alam perlahan mengambil perannya. Pohon beringin yang tumbuh mulai menjalar, merambat ke tiang, hingga membungkus bangunan klasik itu.
Kini, kelenteng itu berpadu dengan jaringan akar beringin yang menjadikannya tampak unik dan eksotis dan tidak ada di tempat lain.
Keunikan inilah yang menarik minat wisatawan, baik lokal maupun mancanegara untuk datang berdoa dan mengabadikannya.
Pengunjung yang datang ke kelenteng itu turut merasakan aura spiritual yang terpancar dari pertemuan historis, budaya dan alam.
Pada perayaan besar seperti Imlek dan Cap Go Meh, kawasan kelenteng selalu dipadati peziarah dan wisatawan lokal dan mancanegara.
Prosesi peribadatan yang berlangsung di tengah balutan akar beringin, menghadirkan pengalaman spiritual yang khas.
Keunikan yang ada pada bangunan klasik ini, mempertegas perannya sebagai ikon budaya Tionghoa di Senggarang Tanjungpinang.
Bukti Nyata Historis, Budaya dan Alam saling Bertaut
Sejarawan Kepulauan Riau, Dr. Anastasia Wiwik Swastiwi, menjelaskan keberadaan komunitas Tionghoa di Tanjungpinang, tidak lepas dari kebijakan Daeng Celak.
"Yang Dipertuan Muda II Riau Daeng Celak ini berkuasa pada tahun 1728 hingga 1745," ungkapnya.
Menurut Anastasia, Daeng Celak membuka pelabuhan di Hulu Riau dan mengembangkan perkebunan gambir di Senggarang.
Untuk mendukung kebijakan membuka perkebunan tersebut, maka Daeng Celak mendatangkan pekerja dari Cina secara besar-besaran.
“Para pekerja itu kemudian menetap dan berbaur dengan masyarakat lokal dan menunjuk seorang Kapitan sebagai pemimpin,” ujar Anastasia.
Salah satu Kapitan tersebut adalah Chiao Chen. Pada 1811, ia membangun rumah di pesisir Senggarang. Seiring waktu, rumah itu berubah fungsi menjadi tempat ibadah.
Sementara akar-akar pohon beringin yang tumbuh, mulai merambat dan menyatu dengan bangunan sejak ratusan tahun lalu.
Ia menegaskan, kelenteng ini bukan sekadar destinasi wisata bernuansa spiritual, melainkan warisan budaya bernilai tinggi.
“Kelenteng Tao Ca Kong menjadi bukti nyata bagaimana sejarah, budaya, dan alam saling bertaut,” kata Anastasia.
Pemerintah Kota Tanjungpinang pun telah menetapkannya sebagai Cagar Budaya melalui SK Wali Kota Tanjungpinang Nomor 485 Tahun 2019.
Di tengah modernisasi, Kelenteng Tao Ca Kong itu tetap berdiri sebagai saksi perjalanan panjang kehidupan komunitas Tionghoa di Senggarang.
Bangunan klasik itu juga menjadi jejak historis yang hidup, tumbuh dan terus berakar di tepi laut Senggarang Tanjungpinang. (*)
Penulis: Yusnadi Nazar

