Mengungkap Historis Tapak Benteng Visioner Tempo Dulu di Bukit Tanjungpinang

Mengungkap Historis Tapak Benteng Visioner Tempo Dulu di Bukit Tanjungpinang
Mengungkap historis tapak benteng visioner tempo dulu di Bukit Tanjungpinang. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar

Jejak Benteng Visioner Raja Haji Fisabilillah, Menjadi Basis Pertahanan Tanjungpinang

Di balik kontur perbukitan di Tanjungpinang, tersimpan tapak atau jejak benteng visioner tempo dulu yang pernah dirancang Raja Haji Fisabilillah.

Benteng visioner yang dibangun panglima perang legendaris itu, merupakan bagian dari strategi besar mempertahankan kedaulatan. 

Dari titik tinggi ini, sang panglima bukan hanya membaca arah angin dan gelombang, tetapi juga memetakan ancaman musuh yang datang dari laut.

Situasi ini menjadikan benteng visioner di bukit tersebut, sebagai simbol kecerdikan militer tempo dulu dan pandangan hebat Raja Haji Fisabilillah. 

Selain itu, benteng visioner yang dibangun Raja Haji Fisabilillah di atas perbukitan Tanjungpinang, bukanlah struktur pertahanan yang berdiri sendiri. 

Tetapi bagian dari rancangan sistem pertahanan berlapis Kesultanan Riau Lingga pada abad 18, saat tekanan kolonial VOC semakin intens di Selat Melaka.

Dalam literatur historis, Raja Haji dikenal pemimpin yang memahami kekuatan laut harus ditopang oleh kekuatan darat dan posisi yang strategis.

Pemilihan kontur bukit di Tanjungpinang sebagai lokasi benteng, mencerminkan cara berpikir maju dan visioner Raja Haji Fisabilillah. 

Dari ketinggian, benteng berfungsi sebagai titik pengamatan utama untuk memantau pergerakan kapal musuh yang memasuki perairan Tanjungpinang atau Hulu Riau. 

Tidak hanya itu, benteng visioner itu memberi keuntungan taktis, pandangan luas ke laut lepas, sekaligus posisi defensif yang sulit ditembus.

Benteng-benteng tempo dulu umumnya dibangun dengan memanfaatkan kontur tanah, parit, serta batang kelapa yang diperkuat kayu dan tanah padat. 

Meriam ditempatkan menghadap jalur laut, sementara jalur darat sempit menuju puncak bukit, berfungsi menghambat pergerakan pasukan musuh.

Pola seperti ini menunjukkan pemahaman mendalam terhadap lanskap lokal, jauh sebelum konsep pertahanan modern diperkenalkan.

Selain itu, keberadaan benteng di bukit Tanjungpinang juga tidak terlepas dari peran Sungai Carang sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Riau Lingga.

Keberadaan benteng berfungsi melindungi kawasan vital tersebut. Menjadi simpul komunikasi, antara pos darat dan pasukan tempur Raja Haji Fisabilillah.

Literasi historis mencatat bahwa panglima perang Raja Haji Fisabilillah, membangun jaringan pertahanan yang strategis dan saling mendukung.

Mulai dari kubu darat, benteng bukit, hingga armada kapal perang yang bergerak lincah di perairan Tanjungpinang dan Selat Malaka. 

Sistem ini memungkinkan pasukan tempur melakukan serangan balasan sekaligus bertahan dari tekanan VOC yang mengandalkan kekuatan meriam dan kapal besar.

Pertahanan Tangguh dalam Perang Riau

Peran benteng visioner semakin nyata dalam rangkaian Perang Riau (1782–1784). Dalam perang, Raja Haji berhasil menggalang kekuatan, menggempur musuh.

Dari jejeran meriam yang dilepaskan dari benteng ini juga, kapal kolonial bernama Malaka’s Welvaren, hancur lebur pada 6 Januari 1784.

Sehingga jelas, benteng Raja Haji, benteng Teluk Keriting, benteng Bukit Kursi Pulau Penyengat, benteng Pulau Bayan dan benteng Kota Piring, menjadi bukti hebat.  

Keberadaan benteng-benteng di sekitar Tanjungpinang itu, menjadi sistem pertahanan, basis logistik, pengintaian dan perlindungan pasukan sebelum melakukan manuver laut.

Benteng-benteng visioner itu juga menjadi simbol perlawanan cerdas. Tidak hanya mengandalkan jumlah pasukan, tetapi juga kecermatan membaca ruang dan waktu.

Keberadaan benteng membuat musuh mengakui perlawanan Raja Haji bukan aksi spontan, tetapi terorganisasi yang memanfaatkan medan secara efektif. 

Jejak yang Tersisa, Makna yang Bertahan

Mengungkap Historis Tapak Benteng Visioner Tempo Dulu di Bukit Tanjungpinang
Benteng Prince Hendrik yang berada di kompleks RSAL Tanjungpinang. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar

Kini, benteng visioner Raja Haji Fisabilillah di atas bukit Tanjungpinang mungkin hanya tersisa dalam bentuk tapak dan kontur tanah.

Setelah Raja Haji syahid di Teluk Ketapang, Melaka 18 Juni 1784, benteng di bukit Tanjungpinang dan benteng Pulau Bayan, diambil alih kolonial. 

Setelah kekuasaan Kesultanan Riau Lingga jatuh, pihak kolonial mengubahnya. Di atas tapak benteng Raja Haji, kini berdiri benteng bergaya Eropa. 

Saat ini, benteng buatan kolonial abad 18 itu, sebagian bentuk aslinya masih bertahan dan menjadi bagian dari kompleks Rumah Sakit Angkatan Laut. 

Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Batu Sangkar dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tanjungpinang, menyebutnya benteng Prince Hendrik Fort.

Namun tidak dapat dipungkiri, situs peninggalan historis yakni benteng bergaya Eropa itu, berdiri di atas tapak benteng Raja Haji Fisabilillah. 

Tidak hanya itu, jejak benteng-benteng pertahanan legendaris di Tanjungpinang juga punya makna dan nilai historis yang kuat dan tidak boleh dilupakan.

Keberadaannya juga menjadi penanda bahwa Tanjungpinang pernah menjadi pusat strategi pertahanan tangguh yang disusun dengan visi jauh ke depan.

Bagi generasi penerus, benteng itu menunjukkan bahwa perjuangan tidak hanya dilakukan di medan tempur terbuka. Tetapi juga melalui perencanaan matang. 

Pelestarian berkelanjutan atas situs historis ini penting, agar narasi tentang kecerdikan dan keberanian Raja Haji Fisabilillah tidak hilang. 

Benteng visioner di atas bukit Tanjungpinang pada akhirnya menegaskan satu hal, Raja Haji Fisabilillah adalah pejuang yang gagah di medan perang.

Ia juga menjadi arsitek pertahanan dan menjadikan alam sebagai sekutu serta meninggalkan tapak benteng visioner strategis bagi historis Tanjungpinang. (*)

Penulis: Yusnadi Nazar

Catatan editor: pemotretan benteng visioner Raja Haji Fisabilillah (benteng Prince Hendrik) ini atas seizin dari pihak RSAL Tanjungpinang

Posting Komentar