Menelusuri Jejak Historis dan Kejayaan Sungai Legendaris di Tanjungpinang
0 menit baca
![]() |
| Menelusuri jejak historis dan kejayaan sungai legendaris di Tanjungpinang. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar |
Catatan Visual - Di balik riuh Kota Tanjungpinang hari ini, mengalir sebuah sungai legendaris yang menyimpan lapisan historis panjang Tanjungpinang tempo dulu.
Di balik tenangnya aliran sungai legendaris yang membelah kota Tanjungpinang hari ini, tersimpan cerita historis tentang sebuah pusat peradaban.
Tempo dulu, sungai legendaris itu merupakan nadi kehidupan, pusat pemerintahan, pelabuhan perdagangan antarbangsa yang berpengaruh.
Sungai legendaris yang kini tampak tenang dan sederhana, pernah menjadi nadi utama kehidupan politik, ekonomi, dan budaya.
Ia menjadi saksi bisu kejayaan Kesultanan Riau Lingga. Saksi kejayaan maritim yang berpengaruh di kawasan Selat Melaka dan Laut Cina Selatan.
Aliran sungai yang mengalirkan kisah tentang perdagangan, pemerintahan berdaulat, serta semangat perjuangan yang tidak pernah padam.
Sungai legendaris yang menjadi saksi peristiwa perang heroik. Perang Riau pada 1782 hingga 1784, mencatatkan nama Raja Haji Fisabilillah.
Panglima perang itu gigih berjuang meraih kemenangan. Pertempuran heroik yang kemudian diperingati sebagai hari lahirnya Kota Tanjungpinang.
Tidak hanya itu, selain menjadi pusat pemerintahan dan perjuangan, Sungai Carang juga menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dan budaya.
Aktivitas ekonomi dan perdagangan berkembang pesat di Sungai Carang, ditopang oleh sistem maritim Melayu yang kuat.
Para pedagang dari berbagai wilayah Nusantara, Asia hingga pedagang Eropa, singgah dan berinteraksi di kawasan Sungai Carang.
Interaksi lintas budaya dari berbagai belahan dunia di sungai legendaris tersebut, juga turut membentuk kekayaan tradisi Melayu Riau.
Sungai Carang menjadi ruang hidup bagi sastra lisan, adat istiadat, serta nilai-nilai keislaman yang berkembang seiring peran ulama di lingkungan istana.
Singkatnya, Sungai Carang atau Hulu Riau dalam banyak hal adalah ruang pertemuan antara pemerintahan, perdagangan, perjuangan dan peradaban.
Meskipun kini jejak fisik sungai legendaris tidak lagi sejelas tempo dulu, tapi historisnya tetap mengalir deras, menginspirasi generasi masa kini.
Namun yang pasti, sungai legendaris bernama Sungai Carang (Hulu Riau) itu adalah lintasan penghubung tempo dulu dan masa kini Tanjungpinang.
Jalur Historis dan Strategis Tempo Dulu
![]() |
| Sungai legendaris yang membelah Kota Tanjungpinang. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar |
Sekitar abad 17, Laksamana Tun Abdul Jamil atas titah Sultan Johor, Sultan Abdul Jalil Syah, membuka negeri baru di tepi Sungai Carang, Tanjungpinang.
Kemudian lahirlah sebuah bandar yang berkembang pesat yang bernama Bandar Riau. sebuah pusat perdagangan yang ramai.
Meskipun tidak memproduksi komoditi besar, ia menjadi titik strategis pedagang dari Eropa, Asia dan Nusantara untuk berkumpul dan berdagang.
Jadi, Sungai Carang bukan sekadar aliran air. Ia adalah jalur strategis yang menghubungkan pusat perdagangan lokal dengan dunia luar.
Kapal-kapal bermuatan rempah, hasil laut dan kebutuhan pokok hilir mudik, menjadikannya urat nadi perdagangan lokal, regional dan internasional.
Menurut catatan VOC, bandar ini bahkan disebut mampu menyaingi kejayaan pelabuhan Melaka yang telah lama dominan di Selat Melaka.
Selain itu, letak yang terlindung dan terhubung dengan perairan Bintan dan Selat Malaka, menjadikannya sebagai lokasi ideal bagi pusat pemerintahan.
Tidak heran jika kawasan sungai legendaris ini dipilih sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga, pada masa Sultan Mahmud Syah III.
Titian Historis dari Pemerintahan Kesultanan Riau Lingga
![]() |
| Aliran Sungai Carang yang membentang luas. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar |
Sungai Carang bukan hanya berbicara soal perdagangan. Ia juga saksi bisu perjalanan politik dan kekuasaan Kerajaan Melayu.
Ketika Raja Sulaiman Badrul Alamsyah I diangkat sebagai Sultan Riau Lingga Johor Pahang pada 1722, pusat pemerintahan berada di Sungai Carang.
Pada masa inilah struktur pemerintahan di kawasan Sungai Carang atau Hulu Riau semakin matang, di mana peran Sultan tetap kuat dan berjaya.
Meskipun demikian, pelaksanaan pemerintahan tetap dijalankan bersama Yang Dipertuan Muda. Sebuah cermin sistem kepemimpinan yang terorganisir.
Selain itu, jejak historis kejayaan Sungai Carang paling kuat terlihat dari keberadaan kompleks Istana Kota Rebah (Istana Kota Lama).
Di sekitarnya, berdiri permukiman bangsawan, ulama dan masyarakat serta menjadi jalur transportasi dan sumber air bagi kehidupan.
Dari sungai legendaris inilah kebijakan kerajaan dijalankan dan hubungan diplomatik dengan kerajaan-kerajaan lain dijalin.
Namun, setelah hampir lebih satu abad menjadi pusat pemerintahan, istana ditinggalkan akibat konflik dan tekanan kolonial.
Masa kejayaan ini tidak berlangsung selamanya. Pusat pemerintahan dan perdagangan, akhirnya dipindahkan pada akhir abad 18.
Meredupnya Kejayaan, Tertinggalnya Historis, Merawat Ingatan
![]() |
| Masyarakat setempat melintas di aliran Sungai Carang, Tanjungpinang. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar |
Abad 19, kejayaan Sungai Carang perlahan meredup. Perpindahan pusat pemerintahan serta intervensi kolonial, menyebabkan kawasan ini ditinggalkan.
Istana Kota Rebah atau Istana Kota Lama perlahan runtuh dimakan usia, sementara Sungai Carang kehilangan perannya sebagai jalur utama dan strategis.
Kini, Sungai Carang lebih dikenal sebagai aliran sungai biasa, sebagian dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk aktivitas sehari-hari.
Namun di balik kejayaan tempo dulu dan kesederhanaannya, tersimpan jejak besar historis yang belum sepenuhnya tergali dan dimaknai.
Sungai Carang bukan sekadar bagian dari lanskap alam Tanjungpinang, melainkan bagian penting dari identitas historis Melayu di Kepulauan Riau.
Upaya pelestarian, penguatan literasi historis serta pengembangan wisata budaya, menjadi langkah penting untuk merawat ingatan tentang kejayaannya.
Yang pasti, sungai legendaris ini mengajarkan bahwa peradaban besar sering kali tumbuh dari aliran air yang tampak sederhana.
Sungai Carang, dengan segala jejak kejayaannya, tetap mengalir membawa cerita tempo dulu, menunggu untuk terus diceritakan kepada generasi masa depan.
Aliran yang Tetap Mengalir dan Warisan yang Terus Hidup
![]() |
| Jembatan Sungai Carang Tanjungpinang. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar |
Meski kini sebagian besar struktur fisik kejayaan tempo dulu telah hilang atau terkubur waktu, ingatan akan Sungai Carang tetap hidup.
Festival Sungai Carang pernah digelar sebagai upaya menghidupkan kembali historis itu melalui parade kapal tradisional di sungai itu.
Pembacaan Gurindam 12, pameran foto historis serta acara budaya lain juga digelar untuk mengajak generasi muda menyelami Tanjungpinang tempo dulu.
Aktivitas modern seperti Dragon Boat Race juga bermuara dari tradisi sungai ini yang dahulunya menjadi ruang interaksi dan budaya masyarakat.
Meskipun jejak fisik sungai legendaris itu kini tidak lagi sejelas tempo dulu, namun jejak historis dan kejayaan tetap mengalir deras pada masa kini.
Terakhir, aliran sungai legendaris di Tanjungpinang itu, tetap mengalir lembut dan meninggalkan jejak kejayaan dan warisan historis tempo dulu. (*)
Penulis: Yusnadi Nazar





