Mengungkap Makna dan Filosofi Warisan Seni Melayu Klasik Tanjungpinang

Mengungkap Makna dan Filosofi Warisan Seni Melayu Klasik Tanjungpinang
Mengungkap makna dan filosofi warisan seni Melayu klasik Tanjungpinang. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar

Jejak Historis, Makna dan Denyut Seni Melayu Klasik Kepulauan Riau

Di tengah lanskap budaya Melayu yang kaya, tari Zapin berdiri sebagai salah satu warisan seni Melayu klasik paling berpengaruh dan bertahan lintas zaman. 

Zapin tidak hanya sekadar pertunjukan gerak yang diiringi musik gambus dan marwas, namun memiliki jejak historis yang panjang. 

Warisan seni Melayu klasik ini juga merupakan ekspresi historis, budaya, medium penyampai nilai serta identitas masyarakat Melayu di Indonesia.
Menurut catatan historis, jejak Zapin di Kepulauan Riau khususnya Tanjungpinang, berawal dari hubungan antara dua budaya yang berbeda. 

Warisan seni Melayu klasik itu terhubung antara dunia Arab khususnya Hadramaut di Yaman dengan kawasan pesisir Asia Tenggara sejak abad ke-16.

Melalui jalur perdagangan dan dakwah Islam, para pendatang Arab membawa tradisi musik dan tari yang kemudian berasimilasi dengan budaya lokal. 

Dari sinilah seni Melayu klasik yaitu tari Zapin tumbuh. Ia berakar dari istilah Arab yakni "Zafn" yang merujuk pada gerakan kaki cepat mengikuti irama.
Pada fase awal, Zapin berkembang di lingkungan terbatas, terutama di kalangan istana dan komunitas religius di Kepulauan Riau. 

Tarian Zapin ini awalnya ditampilkan oleh laki-laki. Seni Melayu klasik ini sekaligus berfungsi sebagai hiburan dan sarana dakwah kultural. 

Seiring waktu, Zapin menyebar ke ruang-ruang sosial masyarakat Melayu, lalu mengalami transformasi tanpa kehilangan ruh dasarnya.

Akulturasi yang Membentuk Karakter

Kekuatan seni Melayu klasik ini terletak pada kemampuannya yang menyerap pengaruh luar tanpa menghilangkan akar budaya lokal. 

Unsur Arab tampak jelas pada instrumen musik gambus dan marwas, serta pola ritme yang dinamis. Namun, estetika Melayu hadir kuat dalam tata gerak.

Selain itu, dalam budaya lokal Kepulauan Riau, Zapin hadir dengan busana yang sopan, serta struktur pertunjukan yang menjunjung tinggi adab.
Di berbagai wilayah Kepulauan Riau hingga Johor di Malaysia, Zapin berkembang menjadi tarian dengan ragam-ragam lokal yang khas. 

Ragam lokal itu menampilkan tempo, gerak dan syair yang mencerminkan karakter masyarakat. Zapin Penyengat di Pulau Penyengat Tanjungpinang, salah satunya.
Zapin Penyengat yang telah menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia ini, merefleksikan kehidupan masyarakat Melayu dengan sentuhan nilai-nilai Islam.

Selanjutnya, Zapin Kote yang berasal dari Kabupaten Lingga menunjukkan ciri khas gerakan kaki lincah serta iringan musik gambus dan marwas. 

Selain itu, Zapin Kote juga mencerminkan nilai-nilai agama, sering kali mencerminkan sifat-sifat terpuji seperti shiddiq, amanah dan fathanah. 

Gerak yang Berfalsafah dan Identitas Budaya

Dalam Zapin, langkah dan gerakan kaki yang terukur, melambangkan perjalanan hidup, maju, mundur, berputar. Namun tetap berada dalam koridor keseimbangan. 

Posisi tubuh tegak, gerak tangan yang terkendali, serta awal dan akhir tarian yang disertai sikap hormat, mencerminkan nilai tawadhu dan santun.

Syair atau lagu pengiring Zapin kerap berisi petuah, nasihat moral, dan pesan religius. Inilah yang menjadikan Zapin sebagai media pendidikan kultural.
Nilai tentang etika, hubungan antara manusia dengan Tuhan, serta pentingnya harmoni hidup sesama, disampaikan secara halus melalui irama dan gerak.

Tak hanya itu, dalam kehidupan masyarakat Melayu, Zapin hadir dalam berbagai momentum seperti pesta pernikahan dan penyambutan tamu kehormatan.
Selanjutnya, dalam perayaan adat, hingga festival budaya. Kehadirannya berfungsi sebagai perekat sosial, mempertemukan individu dalam ruang ekspresi bersama.

Lebih jauh, Zapin menjadi penanda identitas. Di tengah arus modernisasi, Zapin menjadi simbol keteguhan budaya Melayu dalam merawat tradisi. 

Zapin diajarkan di sanggar, dipentaskan di panggung nasional dan internasional, serta terus diperbaharui oleh generasi muda tanpa meninggalkan nilai dasarnya.

Warisan Seni Melayu Klasik yang Terus Bergerak

Mengungkap Makna dan Filosofi Warisan Seni Melayu Klasik Tanjungpinang
Penari menampilkan tari Zapin di Pamedan Tanjungpinang, 2014 silam. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar

Tari Zapin adalah warisan seni Melayu klasik hidup atau living heritage yang terus bergerak dan berkembang mengikuti zaman. 

Di Tanjungpinang, Zapin tidak hanya sekadar pertunjukan di panggung, namun juga bagian dari kehidupan dan diajarkan sejak dini di lembaga pendidikan. 

Zapin di anggap sebagai denyut kehidupan budaya Melayu karena tarian ini dapat memadukan seni, dakwah, dan kebersamaan dalam satu pertunjukan.
Tari Zapin tidak membeku sebagai artefak tempo dulu, tetapi Zapin terus beradaptasi sebagai bagian dari kehidupan budaya masa kini. 

Tantangan pelestarian tentu ada, namun selama Zapin terus ditarikan, diajarkan, dan dimaknai, denyutnya akan tetap terasa dan terus hidup. 
Pada akhirnya, Zapin mengajarkan bahwa seni bukan hanya soal keindahan visual, melainkan tentang historis, nilai dan jati diri masyarakat Melayu. 

Merupakan representasi kekuatan budaya Melayu yang dinamis dan sarat makna yang menjadi jembatan antar generasi dalam menjaga nilai dan jati diri.

Dalam setiap hentakan kaki dan alunan gambus, seni Melayu Klasik ini,  menyuarakan kisah peradaban Melayu yang beradab dan penuh makna. (*)

Posting Komentar