Bunga Romantis dari Timur Jauh Mekar Menghiasi Kota Tua di Pulau Bintan

Bunga Romantis dari Timur Jauh Mekar Menghiasi Kota Tua di Pulau Bintan
Bunga romantis dari Timur Jauh mekar menghiasi kota tua di Pulau Bintan. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar

Catatan Visual - Kelopak merah muda jatuh perlahan tertiup angin. Di antara pepohonan yang tumbuh di kota tua, bunga romantis itu bermekaran. 

Bunga romantis itu seolah menghadirkan sepotong musim semi dari negeri di Timur Jauh. Panorama yang jarang ditemui di daerah tropis. 

Meskipun demikian, mekarnya bunga romantis itu membuat kawasan Kota Tua Kijang di Pulau Bintan mendadak terasa berbeda. 

Suasana menjadi lebih lembut, lebih romantis seakan membawa ingatan pada lanskap Negeri Matahari Terbit Jepang yang terkenal.
Setiap kali bunga romantis yang bernama sakura itu mulai mekar, Taman Kota Tua Kijang seketika berubah menjadi ruang perjumpaan.

Masyarakat Kijang dan Tanjungpinang datang berbondong-bondong ingin menyaksikan langsung keindahan bunga romantis itu. 

Di bawah dahan yang dipenuhi sakura, kamera ponsel tidak henti mengabadikan momen yang hanya hadir dalam waktu singkat itu. 

Di negeri asalnya Jepang, bunga sakura dikenal sebagai simbol musim semi sekaligus lambang keindahan dan simbol romantisme. 
Namun di Kota Tua Kijang, bunga sakura ini memiliki cerita sendiri. Ia tumbuh di tanah Melayu dan berbunga dua kali dalam setahun. 

Bunga romantis yang mekar di tengah taman kota itu sungguh menghadirkan sebuah keunikan yang jarang ditemukan di tempat lain.

Mekarnya sakura di tengah kota tua yang pernah menjadi kawasan pertambangan bauksit itu, menghadirkan kontras yang menarik. 

Di satu sisi, Kota Kijang menyimpan historis panjang tentang aktivitas tambang. Di sisi lain, bunga lembut menggantung di ranting pohon. 
Bunga sakura seakan membawa nuansa tenang, seolah mengingatkan bahwa keindahan bisa tumbuh di tempat yang tidak terduga.

Karena itulah, bagi banyak warga, mekarnya bunga sakura di taman Kota Tua Kijang, bukan sekadar fenomena alam biasa. 

Ia menjadi peristiwa kecil yang selalu dinanti, menghadirkan rasa takjub dan rasa bangga atas nuansa, keindahan dan romantisme.

Itu menunjukkan bahwa di Pulau Bintan, ada bunga romantis dari Timur Jauh yang menyapa siapa saja yang datang untuk melihatnya.

Sakura dan Sentuhan Jepang di Pulau Bintan

Bunga Romantis dari Timur Jauh Mekar Menghiasi Kota Tua di Pulau Bintan
Bunga sakura yang mekar di Kota Tua Kijang. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar

Bunga sakura yang bermekaran di Taman Kota Tua Kijang juga menghadirkan panorama yang tidak biasa bagi masyarakat setempat. 

Bunga romantis berwarna merah muda itu membuat kawasan taman kota tersebut, seolah menghadirkan nuansa Jepang di tengah Pulau Bintan.

Fenomena ini pun menjadi daya tarik tersendiri. Setiap kali pohon sakura berbunga, taman Kota Tua Kijang, ramai dikunjungi masyarakat.
Banyak di antaranya datang hanya untuk melihat langsung keindahan bunga yang identik dengan Negeri Matahari Terbit tersebut.

Berbunga dua kali setahun, yakni sekitar Februari atau Maret dan September, menjadikannya sebagai salah satu ikon wisata lokal yang cukup dikenal.

Ketika bunga-bunga sakura yang unik itu mulai bermekaran, kawasan taman kota berubah menjadi lokasi favorit masyarakat untuk berfoto.

Momen keindahan bunga yang muncul dalam waktu terbatas itu, membuat banyak orang merasa sayang jika melewatkannya. 

Kombinasi warna merah muda yang lembut dari bunga sakura seakan selalu menghadirkan suasana romantis sekaligus menenangkan.
Bagi pengunjung yang ingin menikmati mekarnya bunga secara maksimal, waktu terbaik untuk datang adalah saat matahari mulai meninggi. 

Pada pagi hari, sebagian bunga masih terlihat kuncup dan belum mekar, sementara menjelang sore banyak kelopak yang mulai gugur.

Oleh karena itu, siang hari menjadi waktu yang dianggap paling ideal untuk menyaksikan sakura bermekaran di taman tersebut.

Jejak Historis Sakura di Kota Tua Kijang

Bunga Romantis dari Timur Jauh Mekar Menghiasi Kota Tua di Pulau Bintan
Nuansa indah dan romantis di taman Kota Tua Kijang Pulau Bintan. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar

Kehadiran pohon sakura di Kota Kijang ternyata memiliki cerita tersendiri. Seorang penulis di Pulau Bintan, Andri Mediansyah mengungkapkannya.

Andri menyebut bahwa bibit sakura pertama kali dibawa oleh seorang profesor asal Jepang yang berkunjung ke Kijang pada 2010.

Saat itu, profesor tersebut datang dalam rangka urusan penelitian terkait pertambangan bauksit yang pernah berkembang di kota tua tersebut. 
Seusai menyelesaikan kegiatannya, ia pun mencoba menanam bibit pohon sakura yang dibawanya langsung dari Jepang di kawasan Kota Tua Kijang.

Namun upaya pertama tidak berhasil. Bibit pohon yang ditanam di dekat Masjid Besar Nurul Iman, tidak mampu bertahan hidup. 

Konon, sang profesor Jepang itu bahkan sempat menangis saat mengetahui pohon sakura yang ditanamnya mati dan tidak berkembang.
Namun setahun kemudian, pada 2011, bibit sakura kembali ditanam di kawasan yang sama oleh Dewi Kumalasari, istri Bupati Bintan saat itu, Ansar Ahmad.

Penanaman dilakukan di tepian kolam taman Kota Tua Kijang, bertepatan dengan pembukaan Mini Zoo yang berada tidak jauh dari lokasi tersebut.

Kali ini hasilnya berbeda. Pohon sakura itu tumbuh subur dan terus berkembang hingga saat ini dan bunganya pun mekar dua kali setahun. 
Dari situlah, sakura yang mekar itu mulai menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang datang ke kota tua di Pulau Bintan tersebut.

Kini, setiap kali sakura bermekaran, taman Kota Tua Kijang seolah menghadirkan potongan kecil suasana Jepang di Pulau Bintan.

Sebuah pemandangan indah dan sederhana sekaligus unik, tetapi selalu berhasil memikat siapa pun yang melihat bunga romantis itu. (*)

Penulis: Yusnadi Nazar
Posting Komentar