Permainan Tradisi Klasik Melayu, Warisan Historis dari Pulau Bintan, Kepulauan Riau
0 menit baca
![]() |
| Mengenal permainan tradisi klasik Melayu, warisan historis dari Pulau Bintan, Kepulauan Riau. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar |
Catatan Visual - Di pesisir Kepulauan Riau terutama Pulau Bintan, permainan tradisi klasik hadir sebagai hiburan tradisional dan punya nilai historis.
Salah satu permainan tradisi klasik yang lahir dari interaksi manusia dengan laut, angin dan perjalanan budaya lintas budaya.
Permainan tradisi klasik ini diyakini telah ada dan tumbuh berkembang sejak era kejayaan Kesultanan Johor Pahang Riau Lingga.
Kala itu, permainan tradisi klasik yang disebut jong, membentuk cara pandang masyarakat Melayu pesisir Kepulauan Riau.
Permainan perahu jong berawal saat alam membatasi aktivitas melaut. Nelayan kemudian mengisi waktu dengan memainkan perahu kecil tanpa awak.
Perahu jong tersebut dibuat menyerupai kapal layar, lalu dilepaskan di tepi pantai. Tanpa mesin dan tanpa sentuhan tangan, jong bergerak mengikuti arah angin.
Dari permainan sederhana itu, tersimpan pengetahuan penting yaitu membaca angin, menjaga keseimbangan hingga memahami karakter laut.
Bahan perahu jong pun berasal dari alam seperti kayu ringan jenis pulai. Hal ini memperlihatkan hubungan erat antara manusia dan alam.
Jejak Historis dalam Istilah “Jong”
Menurut Peneliti Sejarah BRIN Dedi Arman, dalam berbagai literatur, kata "jong" berkaitan dengan “jung” yaitu kapal besar dalam pelayaran di Tiongkok.
"Jong memiliki akar historis yang panjang. Menjadi permainan tradisional yang lahir dari kehidupan nelayan," katanya.
Berdasarkan catatan klasik seperti Undang-Undang Laut Melaka abad 15 menyebut “jung” sebagai kapal besar pengangkut barang.
Sementara dalam naskah Sulalatus Salatin (Sejarah Melayu), kapal jenis ini sebagai bagian penting dari aktivitas pelabuhan dan pelayaran kerajaan.
"Kisah pelarian Sultan Mahmud Syah ke Bintan menggunakan jong, menjadi narasi yang memperkuat posisi kapal ini dalam sejarah Melayu," sebutnya.
Di sisi lain, kata Dedi, berdasarkan catatan Tome Pires dalam Suma Oriental (abad 16), turut menggambarkan kapal atau perahu jong.
Catatan itu menggambarkan ramainya kapal jong dari berbagai penjuru dunia yang berlabuh di Malaka. Mulai dari Cina, Jawa, Gujarat hingga Arab.
Fakta-fakta tersebut menegaskan jong bukan sekadar istilah teknis. Melainkan simbol kejayaan perdagangan dan identitas maritim tempo dulu.
Dari Permainan Rakyat ke Identitas Budaya
Seiring waktu, jong tidak lagi hanya milik komunitas nelayan. Tetapi berkembang menjadi simbol budaya Melayu di Kepulauan Riau terutama Pulau Bintan.
Festival dan perlombaan jong yang rutin digelar, menjadi bukti bahwa permainan tradisi klasik ini tetap hidup dan bertahan hingga kini.
Bahkan, keterlibatan peserta dari berbagai daerah hingga mancanegara, menunjukkan bahwa jong telah melampaui batas lokal.
"Festival jong banyak diselenggarakan di berbagai daerah di Kepulauan Riau dan menjadi identitas budaya Melayu," sebut Dedi.
Di Kepulauan Riau seperti Bintan, Tanjungpinang, Batam dan Karimun, permainan tradisi klasik ini dikenal luas dengan nama jong.
Sementara di Natuna, berkembang sebagai “jong kate” dan di wilayah Riau daratan, muncul dengan sebutan “jong katil” yang dimainkan di sungai.
Meskipun memiliki akar yang sama, bentuk dan cara bermainnya menyesuaikan dengan kondisi lingkungan.
"Jong biasanya berukuran kecil dan dimainkan di laut dangkal, sedangkan di sungai, bentuknya sedikit berbeda untuk menyesuaikan arus perairan," jelas Dedi.
Warisan yang Bernilai Pendidikan dan Upaya Pelestarian
Bagi masyarakat Melayu, jong menjadi miniatur dari kapal-kapal dagang dan armada yang dahulu meramaikan pelabuhan di kawasan Selat Malaka.
Lebih dari sekadar permainan, jong menyimpan nilai edukatif. Anak-anak belajar memahami arah angin, teknik keseimbangan hingga kesabaran.
Proses pembuatannya juga melibatkan kebersamaan. Dari merakit badan perahu hingga memasang layar, semua dilakukan secara bersama-sama.
Di situlah nilai sosial tumbuh yaitu kerja sama antar masyarakat, kreativitas dan rasa bangga terhadap tradisi dan budaya sendiri.
Meskipun di tengah arus modernisasi, jong tetap bertahan. Dedi pun menyebut, permainan jong sebagai warisan budaya takbenda.
Jong juga menjadi penghubung antara tempo dulu dan masa kini. Ia menyimpan ingatan tentang kejayaan maritim tempo dulu kepada generasi baru.
Upaya pelestarian kini tidak hanya berhenti pada festival, tetapi juga menyentuh berbagai aspek yang keberlanjutan.
Penggunaan bahan ramah lingkungan dan edukasi kepada generasi muda, menjadi bagian penting agar tradisi ini tidak tergerus zaman.
Jong bukan sekadar permainan rakyat dan bukan sekedar hiburan semata. Ia adalah representasi perjalanan panjang budaya laut Nusantara.
Bagaimanapun, permainan tradisi klasik Melayu ini menyimpan historis dan hubungan manusia dengan laut yang tidak pernah benar-benar terputus.(*)
Penulis: Hal Maliq Hanifa

