Cerita Legendaris Potong Lembu Tanjungpinang, Dari Kampung Lawas hingga Jadi Ikon Kuliner Kota
0 menit baca
![]() |
| Cerita Legendaris Potong Lembu Tanjungpinang, Dari Kampung Lawas hingga Jadi Ikon Kuliner Kota. Arsip Foto 2002: © Yusnadi Nazar |
Catatan Visual - Sebagai kota yang modern dan berkembang, Tanjungpinang masih menyisakan perkampungan lawas dengan nama yang tidak biasa yaitu Potong Lembu.
Bagi yang pertama kali menginjakkan kaki di Tanjungpinang, nama kawasan itu mungkin terdengar unik, bahkan mengundang rasa penasaran.
Namun bagi masyarakat Tanjungpinang, Potong Lembu bukan sekadar nama jalan. Melainkan bagian dari memori yang hidup selama puluhan tahun.
Nama Potong Lembu menyimpan cerita tentang aktivitas ekonomi, kehidupan masyarakat, hingga perubahan wajah kota dari masa ke masa.
Potong Lembu termasuk salah satu perkampungan tua yang merekam perjalanan historis dan perkembangan Tanjungpinang sebagai bandar perdagangan.
Hingga hari ini, nama itu tetap bertahan meskipun fungsi awal kawasan tersebut telah lama hilang bahkan tidak meninggalkan jejak.
Seperti banyak perkampungan tua lainnya di Tanjungpinang, Potong Lembu menjadi turut saksi bagaimana historis dapat terus hidup melalui sebuah nama.
Saat menyusuri Potong Lembu, seseorang sesungguhnya sedang menelusuri salah satu kawasan penting dari historis Tanjungpinang.
Asal Usul dan Versi Nama Potong Lembu
Dalam catatan historis lokal, nama Potong Lembu berasal dari keberadaan rumah jagal atau tempat penyembelihan hewan.
Di kawasan ini, berdiri tempat penyembelihan lembu atau sapi untuk memenuhi kebutuhan daging masyarakat Tanjungpinang tempo dulu.
Meskipun bangunan rumah jagal hewan itu kini telah tiada, namun nama Potong Lembu tetap melekat dan diwariskan dari masa ke masa.
Penamaan kawasan berdasarkan aktivitas ekonomi merupakan hal yang lazim. Nama kawasan juga sering lahir dari profesi penduduknya.
Selain itu, nama suatu kawasan atau kampung, kadang lahir dari fungsi atau peristiwa penting yang pernah terjadi di kawasan tersebut.
Potong Lembu menjadi salah satunya. Kawasan ini menjadi penanda dan punya peran dalam penyediaan kebutuhan pangan bagi masyarakat Tanjungpinang.
Menurut catatan yang dikutip dari penelitian Asal Usul Nama Daerah dalam Wilayah Tanjungpinang Barat karya Refisrul, terdapat nama Potong Lembu.
Walaupun aktivitas tersebut telah berhenti beroperasi sejak lama, namun nama Potong Lembu tetap bertahan sebagai nama dan identitas kawasan.
Selain versi rumah jagal, terdapat pula cerita yang berkembang di masyarakat mengenai asal-usul nama Potong Lembu pada tahun 1962 hingga 1966.
Pada masa itu, hubungan perdagangan daging dengan Singapura dan Malaysia, mengalami gangguan akibat situasi politik.
Sehingga untuk memenuhi kebutuhan daging, sejumlah sapi atau lembu kemudian didatangkan dari Madura melalui jalur laut.
Hewan-hewan tersebut kemudian ditempatkan dan dipotong di kawasan yang kini dikenal sebagai Jalan Potong Lembu Tanjungpinang.
Meskipun demikian, cerita ini menunjukkan Potong Lembu tidak hanya berkaitan dengan aktivitas lokal, tetapi juga terhubung dengan historis Indonesia.
Perkampungan Lawas di Tengah Kota
Sebagai kota yang berkembang sejak masa Kesultanan Riau Lingga, Tanjungpinang dihuni oleh masyarakat yang beragam.
Orang Melayu, Tionghoa, Bugis, Arab dan Jawa, hidup berdampingan sehingga membentuk karakter kota yang multikultural.
Termasuk kawasan Potong Lembu yang multikultural sehingga membuat kawasan ini menjadi bagian penting dari denyut kehidupan ekonomi masyarakat.
Berbagai aktivitas usaha, perdagangan, penyedia jasa hingga kuliner, terus berkembang seiring bertambahnya jumlah penduduk di Potong Lembu.
Tidak hanya dikenal sebagai tempat penyedia kebutuhan daging, tempo dulu Potong Lembu juga menjadi ruang pertemuan dan interaksi.
Seperti banyak perkampungan tua lainnya di Tanjungpinang, Potong Lembu turut menjadi miniatur keberagaman yang membentuk identitas kota.
Menjadi Kawasan Kuliner Malam Tanjungpinang
Nama Potong Lembu semakin dikenal luas ketika kawasan ini berkembang menjadi pusat kuliner malam bernama Akau Potong Lembu.
Istilah "Akau" berasal dari nama seorang pedagang kopi keturunan Tionghoa yang sangat populer di Tanjungpinang. Nama aslinya disebut Ajang atau Akau.
Ia mulai berjualan kopi sejak akhir 1950an. Seiring waktu, lokasi usahanya berpindah beberapa kali hingga akhirnya menetap di kawasan Potong Lembu.
Kepindahan tersebut justru membuat nama Akau dan Potong Lembu melebur menjadi satu identitas baru yang sangat terkenal.
Kawasan itu berkembang menjadi sentral kuliner malam yang menawarkan aneka makanan khas Melayu, Tionghoa dan makanan nusantara lainnya.
Bagi masyarakat Tanjungpinang, Akau Potong Lembu bukan sekadar tempat makan. Ia adalah ruang berkumpul dan bercerita.
Menjaga Nama, Menjaga Historis
Historis sebuah perkampungan tidak selalu ditentukan oleh bangunan tua atau situs monumental. Terkadang, hidup melalui nama yang terus diingat.
Potong Lembu adalah contoh bagaimana ingatan bekerja. Walaupun rumah potong hewan telah hilang, masyarakat tetap mempertahankan sebutan tersebut.
Nama Potong Lembu itu seakan-akan menjadi lorong waktu dan menjadi penghubung antara Tanjungpinang tempo dulu dan Tanjungpinang masa kini.
Saat ini, aktivitas sembelih lembu memang tidak ada lagi. Namun setiap menyebut Potong Lembu, maka akan menghidupkan kembali jejak historis.
Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan Potong Lembu dipercantik dan mengalami perbaikan, penataan dan revitalisasi.
Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau dan Pemerintah Kota Tanjungpinang memperbaiki fasilitas kawasan agar lebih nyaman bagi masyarakat dan wisatawan.
Penataan dan revitalisasi tersebut dilakukan tanpa menghilangkan identitas historis yang telah melekat kuat pada kawasan Potong Lembu.
Kini, Potong Lembu menjadi salah satu destinasi wisata kuliner yang paling sering dikunjungi wisatawan saat berada di Tanjungpinang.
Pada siang hari kawasan ini tampak seperti bagian biasa dari pusat kota, namun saat malam tiba, suasananya berubah jadi penuh warna.
Di balik keramaian pusat kuliner malam di Tanjungpinang Barat itu, tersimpan lapisan historis yang mungkin sering kali luput dari perhatian.
Nama yang unik itu ternyata menyimpan cerita legendaris tentang aktivitas dagang, kebutuhan daging, migrasi penduduk hingga perkembangan kota.
Potong Lembu adalah bukti historis tidak selalu tersimpan di museum atau arsip. Ia juga hidup di nama kampung dan dalam percakapan sehari-hari.
Sebagai salah satu perkampungan tua, Potong Lembu mengajarkan identitas kota dibangun dari cerita legendaris yang diwariskan turun-temurun.
Nama itu menjadi pengingat kawasan tersebut pernah menjadi pusat aktivitas penyembelihan hewan, ruang ekonomi, hingga jadi pusat kuliner.
Meskipun Tanjungpinang terus berkembang, Potong Lembu tetap berdiri sebagai penanda historis dan tidak hanya sekadar nama kawasan.
Potong Lembu merupakan fragmen atau bagian penting dari perjalanan panjang dan perkembangan Tanjungpinang dari masa ke masa. (*)
Penulis: Yusnadi Nazar

