Cita Rasa Khas Kue Tempo Dulu, Menjadi Ikon Kuliner Kontemporer Tanjungpinang
![]() |
| Cita rasa khas kue tempo dulu, menjadi ikon kuliner kontemporer Tanjungpinang. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar |
Catatan Visual - Kue tempo dulu itu, tidak hanya sekadar jajanan biasa. Di balik bentuknya yang unik mirip donat mini, tersimpan kisah historis.
Kue tempo dulu itu berasal dari Pulau Penyengat Tanjungpinang yang terkenal di seantero dunia sebagai pusat kebudayaan Melayu.
Sejak era Kesultanan Riau Lingga dan menjadi hidangan para raja, kue tempo dulu itu kini menjadi ikon kuliner kontemporer Tanjungpinang.
Dalam literatur dan catatan historis kuliner lokal, kue tempo dulu itu terkenal dengan nama atau sebutan unik yaitu kue deram-deram.
Kue deram-deram ini disebut sebagai salah satu hidangan istimewa yang dihidangkan di lingkungan istana era Kesultanan Riau Lingga.
Bahkan kue deram-deram menjadi camilan favorit para raja, sebelum kemudian merambah ke masyarakat dan menjadi ikon kuliner Tanjungpinang.
Punya Nilai Budaya, Sosial dan Ekonomi
Kue tempo dulu ini tidak hanya sekadar camilan. Sebagai bagian dari warisan kuliner Melayu Pulau Penyengat, kue ini memiliki nilai budaya tinggi.
Kehadirannya dalam kehidupan masyarakat sejalan dengan tradisi Melayu serta simbol kebersamaan di acara adat.
Selain itu, kue tempo dulu ini juga memiliki nilai ekonomi. Penjualannya merupakan sumber pendapatan bagi pengusaha dan masyarakat lokal.
Pemerintah daerah melalui program pemberdayaan, turut mendorong pengembangan usaha deram-deram agar menjadi produk bernilai ekonomis.
Dalam beberapa tahun terakhir, deram-deram semakin dikenal luas sebagai kuliner ikonik Pulau Penyengat Tanjungpinang.
Kue tempo dulu ini juga memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata kuliner untuk wisatawan domestik dan mancanegara.
Upaya standarisasi produksi, inovasi dalam pengemasan serta pemasaran digital turut menjadi fokus agar deram-deram tidak hanya bertahan.
Selain itu, keberadaan kue deram-deram ini diharapkan terus berkembang dalam ekonomi kreatif dan menjadi ikon kuliner kontemporer Tanjungpinang.
Kini, kue tempo dulu ini dijajakan di kedai dan pasar serta menjadi oleh-oleh khas yang dicari wisatawan ketika berkunjung ke Pulau Penyengat, Tanjungpinang.
Saat mencicipinya, maka akan merasakan cita rasa manis yang khas, berpadu dengan tekstur renyah di luar dan lembut di bagian dalam.
Meskipun begitu, deram-deram tidak sekadar soal cita rasa. Namun ia adalah jendela historis, penanda identitas budaya, dan motor ekonomi masyarakat.
Dari istana hingga ke tangan generasi masa kini, deram-deram diwariskan sebagai kebanggaan kuliner Tanjungpinang yang autentik dan legendaris.
Bahan, Cita Rasa, Tekstur Autentik
![]() |
| Kue deram-deram yang punya cita rasa khas. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar |
Kue deram-deram klasik ini dibuat dari bahan yang sederhana namun menghasilkan cita rasa yang khas dan sulit untuk dilupakan.
Bahan utama kue deram-deram ini terbuat dari tepung beras (bukan tepung terigu), gula merah atau gula aren, air dan sedikit garam.
Proses pembuatannya yakni gula merah dimasak dengan air hingga mengental. Kemudian dicampur dengan tepung beras hingga menjadi adonan yang bisa dibentuk.
Bentuk akhir dibuat bulat dengan lubang di tengah seperti donat modern sebelum digoreng hingga matang dan siap untuk disantap.
Cita rasa manis legit dari gula merah berpadu dengan tekstur renyah-lembut, menjadikannya cocok dinikmati bersama secangkir kopi atau teh.
Karena dibuat dari gula aren, kue deram-deram memiliki warna coklat kemerahan khas yang membedakannya dari donat modern.
Tidak ada topping mewah namun tetap unik dan sederhana. Kemurnian cita rasa justru menjadi kekuatan dari kue tempo dulu ini. Selamat menikmati. (*)
Penulis: Hal Maliq Hanifa


