Memahami Seni Teater Melayu Klasik Tanjungpinang Kepulauan Riau Tempo Dulu

Memahami Seni Teater Melayu Klasik Tanjungpinang Kepulauan Riau Tempo Dulu
Memahami seni teater Melayu klasik Tanjungpinang Kepulauan Riau tempo dulu. Pementasan teater Melayu klasik di Pamedan Tanjungpinang, 2008 silam. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar

Seni Teater Melayu Klasik yang Lestari sebagai Warisan Budaya Dunia

Seni teater Melayu klasik itu telah berabad-abad hidup di Kepulauan Riau. Ia lebih dari sekadar pertunjukan di panggung hiburan.

Seni teater Melayu klasik itu merekam perjalanan historis masyarakat, menyatukan unsur ritual, cerita dan nilai budaya yang diwariskan lintas generasi.

Selain itu, tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga lapisan cerita historis panjang, sakral dan identitas masyarakat Melayu di Kepulauan Riau.

Menurut catatan historis budaya, asal usul Mak Yong diperkirakan muncul dari kawasan Patani (sekarang Thailand Selatan) sekitar abad ke-16.

Tempo dulu, seni teater Melayu klasik itu tersebar ke Kelantan (Malaysia) sebelum akhirnya menyeberang ke wilayah Kepulauan Riau.

Di Kepulauan Riau sendiri, seni teater Melayu klasik itu berkembang pesat pada masa Kesultanan Riau-Lingga (1722 hingga 1911).

Tempo dulu, seni teater yang masyhur dengan sebutan Mak Yong itu, bukan sekadar hiburan rakyat. Ia adalah bagian dari kekayaan budaya Melayu. 

Mak Yong berkembang pesat di pusat-pusat Kesultanan Riau Lingga seperti Daik, Tanjungpinang dan Bintan, Batam dan daerah lainnya di Kepulauan Riau.

Bahkan para pegiat seni teater Melayu klasik itu diperlakukan layaknya pelayan istana dan mendapat dukungan penuh dari pihak Kesultanan.

Mak Yong, Seni yang Menyatukan

Mak Yong di Kepulauan Riau menyatukan unsur drama, tari, nyanyian, musik, dan ritual dalam sebuah alur yang saling berhubungan.

Ini bukan sekadar sandiwara, pementasan biasanya diiringi dengan pra-ritual, memohon restu leluhur dan persembahan sebelum cerita dimulai.

Sedangkan perbedaan menarik antara Mak Yong di Kepulauan Riau dan di Kelantan Malaysia adalah penggunaan topeng.

Di Kepulauan Riau, tokoh-tokoh tertentu, khususnya lelaki dan dan karakter unik lainnya diwujudkan dengan penggunaan topeng.

Sementara itu, di Kelantan Malaysia, seni teater Melayu klasik itu, dikenal tanpa penggunaan topeng. Itulah yang membedakannya. 

Tokoh-tokoh utama pementasan seperti awang, inang, raja, Mak Yong, Pak Yong dan wak perambun, menyampaikan kisah-kisah klasik Melayu. 

Tidak hanya itu, penyampaian kisah dalam seni teater Melayu klasik itu juga berakar pada legenda lokal, moral dan humor rakyat. 

Terkadang pementasan berlangsung selama beberapa malam, meskipun saat ini biasanya lebih singkat, sesuai dengan konteks budaya modern.

Mak Yong dan Identitas Melayu di Tanjungpinang

Seni Mak Yong di Gedung Daerah Tanjungpinang, 2012 silam. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar

Bagi masyarakat Tanjungpinang dan Kepulauan Riau, Mak Yong bukan sekadar seni teater Melayu klasik, melainkan sebuah warisan tempo dulu. 

Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah Tanjungpinang juga menyimpan koleksi tentang Mak Yong sebagai bagian penting dari historis lokal.

Selain itu, Mak Yong juga menceritakan fungsinya sebagai hiburan hingga sebagai medium penyembuhan tradisional.

Pesona Mak Yong juga terletak pada hubungannya dengan komunitas di kampung di Pulau Mantang, Kijang, Bintan dan Dompak Tanjungpinang.

Saat ini warga generasi lama masih mengenang wajah pemain legendaris yang sejak kecil mengajarkan gerak tari dan dialog lisan dari generasi ke generasi.

Bagi penduduk Kepulauan Riau, Mak Yong bukan sekadar seni teater Melayu klasik, melainkan sebuah identitas dan warisan yang terus dilestarikan.

Pelestarian sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia

Memahami Seni Teater Melayu Klasik Tanjungpinang Kepulauan Riau Tempo Dulu
Pementasan seni teater Melayu klasik Mak Yong di Pamedan Tanjungpinang, 2015 silam. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar

Seiring zaman, Mak Yong menghadapi tantangan besar. Mulai perubahan gaya hidup hingga minimnya minat generasi muda yang kuat dalam pendidikan formal. 

Namun upaya pelestarian terus dilakukan. Pemerintah setempat, sanggar seni dan komunitas budaya aktif menggelar seni teater Melayu klasik ini.

Berbagai festival budaya menjadi bukti bahwa Mak Yong bukan sekadar warisan tempo dulu, tetapi bagian hidup budaya yang masih bernapas. 

Bahkan, baru-baru ini, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) IV Kepulauan Riau kembali menghadirkan pementasan seni Mak Yong.

Seni teater Melayu klasik yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Dunia itu digelar di Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepulauan Riau. 

Kepala BPKW IV Jumhari, mengatakan pementasan ini bertujuan menjangkau audiens luas sekaligus memberikan apresiasi terhadap kekayaan budaya Melayu.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya BPKW IV untuk menumbuhkan rasa bangga masyarakat terhadap warisan budaya seperti Mak Yong.

Pementasan Mak Yong tersebut diharapkan terus lestari dan mendapat tempat di hati masyarakat sebagai kekayaan budaya yang bernilai tinggi.

Selain itu, Jumhari, menegaskan bahwa Mak Yong bukan sekadar pertunjukan, melainkan identitas budaya yang perlu dihidupkan di tengah modernisasi.

“Mak Yong harus tetap hadir di ruang publik agar generasi sekarang dan mendatang memahami nilai budaya,” kata Jumhari, belum lama ini.

Pementasan ini juga menjadi sarana mempererat hubungan kebudayaan antara Indonesia dan Malaysia yang memiliki akar tradisi Melayu.

“Pelestarian budaya tidak hanya soal menjaga warisan, tetapi juga membangun pengertian dan penghargaan lintas negara,” jelas Jumhari. 

Kini Mak Yong yang diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia itu juga memperkuat rasa bangga dan kepemilikan atas budaya Melayu yang kaya.

Meskipun di tengah modernisasi, Mak Yong tetap menjadi panggung di mana masyarakat Melayu Kepulauan Riau menemukan kembali akar budayanya.

Melalui lantunan lagu, gerak tari dan kisah yang hidup lebih dari beberapa abad, Mak Yong adalah adalah seni yang menghubungkan tempo dulu dan masa kini.

Mak Yong juga sebagai simbol kesetiaan terhadap tradisi dan panggilan bagi generasi muda untuk terus menjaga nyala seni teater Melayu klasik ini. (*)

Penulis: Yusnadi Nazar

Posting Komentar