Wisata Historis Pulau Legendaris Berkembang Pesat, Ekonomi Lokal Ikut Bergerak
0 menit baca
![]() |
| Wisata historis pulau legendaris berkembang pesat, ekonomi lokal ikut bergerak. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar |
Catatan Visual - Pulau legendaris di Tanjungpinang itu kini terus menegaskan diri sebagai salah satu ikon wisata historis paling penting di Kepri.
Sarat jejak peradaban Melayu Islam, pulau legendaris itu kini tidak hanya memikat pelancong, tetapi memberikan dampak nyata bagi ekonomi lokal.
Setiap sudut pulau kecil bernama Pulau Penyengat ini menyimpan cerita. Dari bangunan historis, makam raja-raja hingga tradisi yang masih terjaga.
Pulau Penyengat Tanjungpinang, kini menjadi ruang hidup yang mempertemukan historis, budaya dan religi dalam satu destinasi.
Nama Pulau Penyengat telah lama dikenal sebagai pusat penting peradaban Melayu. Dari pulau inilah lahir karya besar Raja Ali Haji.
Seorang tokoh intelektual yang berperan besar dalam perkembangan tata bahasa Melayu yang kemudian menjadi fondasi Bahasa Indonesia modern.
Nilai historis itulah yang menjadikan Pulau Penyengat ditetapkan sebagai cagar budaya nasional yang terus berkembang pesat.
Pulau Penyengat juga dikembangkan sebagai destinasi wisata historis unggulan, agar menarik banyak pelancong domestik maupun mancanegara.
Pengembangan itu sejalan dengan arah kebijakan nasional melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2025.
Peraturan mengenai pembangunan pariwisata berbasis kualitas dan keberlanjutan. Salah satu pendekatan adalah konsep pariwisata regeneratif.
Melalui konsep ini, pariwisata dapat menghadirkan kunjungan, transaksi ekonomi, pemulihan lingkungan, penguatan sosial masyarakat serta pelestarian budaya lokal.
Pemerintah pusat juga menggulirkan Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Rapi, dan Indah) serta Gerakan Wisata Bersih.
Tidak hanya itu, gerakan ini juga sebagai upaya menciptakan destinasi yang nyaman dan berdaya saing termasuk wisata historis di Pulau Penyengat.
Kini, kebijakan tersebut mulai diterjemahkan dalam berbagai program nyata. Pemerintah Provinsi Kepri melakukan revitalisasi kawasan.
Melakukan penataan jalan, perbaikan drainase, lampu penerangan, penataan objek wisata historis, toilet umum dan pengelolaan sampah.
Namun pembangunan fisik itu bukan satu-satunya fokus. Masyarakat lokal juga dilibatkan sebagai pelaku utama dalam pertumbuhan pariwisata.
Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) mulai tumbuh seiring meningkatnya kunjungan pelancong di Pulau Penyengat.
Masyarakat juga membuka usaha kuliner khas, penjualan cendera mata, jasa pemandu wisata, hingga pengelolaan homestay.
Kekuatan Besar Destinasi Wisata Historis dan Budaya
Menurut Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepri Hasan, Pulau Penyengat memiliki kekuatan besar wisata historis dan budaya yang langsung menyentuh ekonomi lokal.
“Pulau Penyengat bukan hanya memiliki nilai historis, tetapi juga menjadi kekuatan ekonomi melalui pengembangan pariwisata budaya dan religi,” sebutnya.
Strategi ke depan akan terus diarahkan pada konsep pariwisata regeneratif. Pembangunan yang memberi manfaat bagi wisatawan, masyarakat dan lingkungan.
“Pariwisata tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi mampu memperbaiki lingkungan, sosial, dan budaya dengan melibatkan masyarakat secara aktif,” jelasnya.
Tanda-tanda perkembangan pesat itu mulai terlihat. Sepanjang Januari 2026 hingga Maret 2026, jumlah kunjungan pelancong meningkat.
Pada periode itu, kunjungan pelancong ke Pulau Penyengat mencapai sekitar 6.200 orang. Angka tersebut mencakup wisatawan domestik dan mancanegara.
Pelancong yang berkunjung ke Pulau Penyengat, datang dari berbagai negara seperti Malaysia, Singapura, hingga sejumlah negara di Eropa.
Sementara dari dalam negeri, pelancong domestik banyak berdatangan saat hari libur nasional dan momentum Hari Raya Idulfitri.
Lonjakan kunjungan itu menjadi peluang baru. Permintaan terhadap penginapan, kuliner, transportasi lokal, dan produk UMKM terus meningkat.
“Meningkatnya kunjungan ini menjadi peluang besar bagi masyarakat untuk mengembangkan UMKM, homestay dan layanan wisata lainnya,” kata Hasan.
Pemerintah Provinsi Kepri bersama Pemerintah Kota Tanjungpinang juga terus melakukan pembinaan kepada pelaku usaha kecil.
Memberikan pembinaan kepada pengelola homestay agar kualitas layanan wisata historis semakin baik dan mampu memenuhi kebutuhan pelancong.
Selain itu, di balik geliat pertumbuhan pesat, ada pesan penting yang terus digaungkan yaitu menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.
Sebab daya tarik sebuah destinasi, tidak hanya terletak pada historisnya, tetapi juga pada kenyamanan yang dirasakan pelancong.
Pulau Penyengat tidak hanya sekadar tempat mengenang masa lalu. Ia sedang bergerak menjadi contoh bagaimana warisan historis terus tumbuh.
Terus bergerak dan berkembang bersama ekonomi lokal serta dijaga kelestariannya dengan semangat kebersamaan dan keberlanjutan.
“Wisatawan tertarik berkunjung jika destinasi wisata historis bersih, nyaman, dan ramah. Jadi, peran masyarakat penting dalam menjaga Pulau Penyengat,” tutup Hasan. (*)
Penulis: Yusnadi Nazar

