Warisan Pulau Ikonik di Tanjungpinang, Ketika Historis Menjadi Sumber Kehidupan

Warisan Pulau Ikonik di Tanjungpinang, Ketika Historis Menjadi Sumber Kehidupan
Warisan pulau ikonik di Tanjungpinang, ketika historis menjadi sumber kehidupan. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar

Catatan Visual - Pulau historis itu berdiri tenang di tengah perairan Tanjungpinang. Dari kejauhan, kubah kuning masjid tampak menyala diterpa cahaya matahari. 

Terpaan cahaya itu seolah-olah menjadi penanda bahwa di pulau warisan itulah historis Melayu pernah mencapai puncak kejayaan. 

Pulau ikonik itu adalah Pulau Penyengat. Sebuah pulau historis yang menyimpan jejak tempo dulu dan denyut kehidupan masyarakat Melayu.

Di pulau kecil itu, historis tidak tumbuh sebagai cerita mati. Ia hidup dalam lorong kampung, pada rumah-rumah tua yang masih bertahan melawan usia. 
Bahasa Melayu yang tetap dijaga santunnya, hingga pada tradisi adat yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. 

Pulau Penyengat di Tanjungpinang itu telah menjadi sebuah ruang atau tempat masa tempo dulu dan masa kini saling bertemu.

Dalam catatan historis Kesultanan Riau Lingga, Pulau Penyengat pernah menjadi pusat pemerintahan, kebudayaan, sekaligus perkembangan intelektual Melayu.

Dari sinii lahir intelektual Melayu, Raja Ali Haji. Sosok yang masyhur sebagai penulis Gurindam Dua Belas dan tokoh pencetus Bahasa Indonesia.

Jejak kebesaran Melayu itu masih berdiri hingga kini melalui Masjid Raya Sultan Riau Penyengat yang dibangun pada awal abad 19. 
Masjid bercat kuning itu bukan sekadar tempat ibadah, melainkan simbol peradaban Melayu yang pernah tumbuh megah di kawasan Selat Malaka.

Dindingnya seolah-olah menyimpan banyak kisah tentang para ulama, raja, bangsawan, sastrawan hingga para pejuang Melayu. 

Tidak jauh dari masjid, makam para tokoh penting Melayu menjadi penanda lain tentang betapa pentingnya pulau ini dalam historis Nusantara. 

Namun di tengah warisan historis yang besar itu, Pulau Penyengat hari ini juga tetap menghadapi tantangan zaman yang terus berkembang. 

Modernisasi dan wisata yang berkembang, membuat masyarakat berupaya menjaga keseimbangan pelestarian budaya dan kebutuhan ekonomi.

Karena itu, historis di Pulau Penyengat perlahan tidak lagi dipandang hanya sebagai peninggalan tempo dulu. Tetapi mulai menjadi sumber kehidupan.
Wisata dan budaya berkembang, rumah-rumah kreatif tumbuh, kerajinan Melayu dipasarkan dan tradisi adat istiadat pun diperkenalkan. 

Masyarakat setempat memahami bahwa kekuatan terbesar Pulau Penyengat bukan terletak pada kemegahan bangunan semata. 

Melainkan pada cerita yang diwariskan turun-temurun. Setiap sudut memiliki hikayat dan historis. Setiap tradisi, menyimpan nilai tentang jati diri Melayu.

Kini warisan pulau ikonik itu masih terus hidup. Ia menjadi harapan tentang bagaimana historis dapat menjadi sumber kehidupan masa depan.

Menjadi Pusat Ekonomi Berbasis Historis dan Budaya

Pulau Penyengat bukan sekadar destinasi wisata. Pulau ini memiliki peluang besar menjadi pusat ekonomi berbasis historis dan budaya Melayu.

Direktur Perencanaan Peningkatan Produktivitas dan Pembangunan Tematik Bappenas, Uke Mohammad Hussein angkat bicara. 

Ia mengatakan pemerintah pusat saat ini tengah mendorong tiga fokus pembangunan tematik yakni ekonomi hijau, ekonomi biru dan ekonomi oranye.
“Salah satu tugas pokok kami adalah mengembangkan ekonomi oranye itu,” ujarnya saat berkunjung ke Pulau Penyengat.

Ekonomi oranye merujuk pada pengembangan sektor berbasis budaya, kreativitas, warisan historis, hingga ekonomi kreatif.

Pengembangan ekonomi di berbagai sektor tersebut, dinilai akan mampu menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.
Bagi Uke dan pemerintah pusat, Pulau Penyengat Tanjungpinang, memiliki seluruh unsur penting untuk tumbuh dalam kerangka tersebut. 

Historis Melayu yang kuat, jejak intelektual, arsitektur tradisional, hingga kuliner khas, menjadi modal yang tidak dimiliki banyak daerah lain.

“Alhamdulillah sudah keempat kali kami ke sini, jauh lebih baik dari pertama kunjungan kami ke Pulau Penyengat,” katanya.

Ketika Historis Menjadi Pengalaman

Pulau Penyengat selama ini dikenal sebagai pusat penting kebudayaan Melayu di Nusantara. Dari pulau inilah lahir tokoh besar Melayu, Raja Ali Haji.

Tokoh penulis Gurindam Dua Belas sekaligus penyusun tata bahasa Melayu modern yang kelak menjadi fondasi Bahasa Indonesia.

Di pulau ini pula berdiri Masjid Raya Sultan Riau Penyengat, masjid ikonik yang menjadi simbol penting kejayaan Kesultanan Riau Lingga.
Namun menurut Uke, wisata budaya tidak cukup hanya menampilkan situs historis. Nilai budaya hidup melalui pengalaman yang dapat dirasakan wisatawan.

“Tur bukan sekadar melihat situs, tetapi ada storytelling dan pewarisan nilai kepada generasi penerus. Budaya itu bisa dimonetisasi melalui kegiatan wisata,” ujarnya.

Gagasan tersebut muncul karena beberapa atau sebagian situs di Pulau Penyengat, dinilai masih minim penjelasan historis yang memadai. 
Padahal, di balik setiap situs, tersimpan kisah panjang tentang diplomasi Melayu, perkembangan sastra, hingga perjuangan melawan kolonial. 

Karena itu, Bappenas mendorong agar setiap titik wisata budaya dilengkapi informasi, narasi budaya, serta paket wisata yang lebih terstruktur.

“Kalau mau ke mana pun situsnya, informasi dan storytelling sudah siap. Saat ini masih ada situs yang belum punya storytelling,” lanjutnya.

Menjaga Warisan, Menata Masa Depan

Warisan Pulau Ikonik di Tanjungpinang, Ketika Historis Menjadi Sumber Kehidupan
Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar

Bagi masyarakat Pulau Penyengat, tradisi yang ada bukan sekadar seremoni wisata. Ia merupakan bagian dari identitas yang diwariskan turun-temurun.

Bappenas melihat pengalaman budaya tersebut dapat menjadi kekuatan ekonomi baru jika dikembangkan secara serius. 

Tidak hanya sektor wisata, tetapi juga sektor ekonomi seperti kerajinan, seni pertunjukan, fesyen Melayu hingga kuliner tradisional.
Uke menilai, kuliner khas Pulau Penyengat juga memiliki peluang besar untuk diperkenalkan lebih luas sebagai identitas daerah.

“Bukan hanya budaya dan sejarah, tetapi juga kuliner khas yang bisa diangkat dan dipasarkan sehingga orang tahu ciri khas Pulau Penyengat,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tanjungpinang, Muhammad Nazri, menyambut baik perhatian pemerintah pusat.
Menurutnya, Pulau Penyengat memiliki posisi penting sebagai warisan budaya Melayu dan sebagai pusat pengembangan ekonomi kreatif. 

“Pulau Penyengat memiliki potensi besar menjadi kekuatan ekonomi kreatif berbasis budaya di Kepri,” jelasnya. 

Harapan besar kini bertumpu pada sinergi yang baik antara pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Kepri dan Pemko Tanjungpinang.
Sinergi berkelanjutan itu agar pengembangan Pulau Penyengat Tanjungpinang, tidak hanya berhenti pada pembangunan fisik semata.

Sebab bagi masyarakat, menjaga historis bukan hanya tentang merawat. Tetapi memastikan warisan Melayu mampu memberi penghidupan yang layak.

Di Pulau Penyengat, historis tampaknya tengah mencari jalan menuju masa depan melalui budaya dan harapan ekonomi yang tumbuh dari tradisi Melayu. (*)

Penulis: Yusnadi Nazar
Posting Komentar