Jejak Intelektual dan Penulis Legendaris di Pulau Historis Tanjungpinang

Jejak Intelektual dan Penulis Legendaris di Pulau Historis Tanjungpinang
Menelusuri jejak intelektual dan penulis legendaris di pulau historis Tanjungpinang. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar

Catatan Visual - Di sebuah pulau historis, jejak para intelektual tempo dulu dan penulis legendaris pernah tumbuh sebagai denyut peradaban Melayu. 

Dari pulau historis di Tanjungpinang itu, lahir tradisi menulis, berdiskusi, hingga penerbitan. Tradisi yang lahir dari tangan intelektual dan para penulis.

Pulau historis itu bukan sekadar pusat pemerintahan Kesultanan Riau Lingga, melainkan rumah bagi para penulis legendaris yang mewariskan pemikiran.
Tempo dulu, pulau historis yang terkenal dengan sebutan Pulau Penyengat itu, terkenal sebagai ruang intelektual dan para pemikir. 

Pulau Penyengat menjadi tempat ulama, sastrawan dan bangsawan hingga ahli pengobatan, bertemu dalam gelanggang ilmu pengetahuan. 

Manuskrip-manuskrip yang ditulis tangan di bawah cahaya pelita, pembahasan sastra, agama, hukum adat hingga tata bahasa Melayu. 
Tradisi itu melahirkan nama besar seperti Raja Ali Haji, tokoh yang dianggap sebagai penulis legendaris dalam historis kebudayaan Melayu. 

Melalui karya monumentalnya, Gurindam Dua Belas, Raja Ali Haji menulis puisi nasihat, merawat identitas bahasa Melayu menjadi dasar bahasa Indonesia modern.

Jejak intelektual itu tidak lahir dalam ruang yang sunyi. Lingkungan istana Kesultanan Riau Lingga menjadi pusat pertukaran gagasan terbuka.
Kapal-kapal dari berbagai negeri di dunia pun singgah di Pulau Penyengat dengan membawa kitab, kabar dan pemikiran baru. 

Para penulis legendaris masa itu tidak sekadar menghasilkan karya sastra, tetapi juga menyusun catatan historis, hukum dan pemikiran sosial.

Dari suasana itulah, tradisi membaca dan menulis tumbuh sebagai bagian dari kehidupan masyarakat elite Melayu di Pulau Penyengat. 

Rusydiah Club, Memperkuat Tradisi Menulis dan Berpikir

Selain Raja Ali Haji, sejumlah tokoh dan penulis legendaris turut dikenal aktif dalam dunia literasi dan penyalinan naskah. 

Dari pulau historis itu juga lahir sebuah perkumpulan intelektual dan cendekiawan Melayu yang kemudian dikenang sebagai Rusydiah Club.

Kehadiran perkumpulan intelektual seperti Rusydiah Club semakin memperkuat tradisi berpikir kritis di Pulau Penyengat Tanjungpinang.

Perkumpulan itu menjadi ruang diskusi kaum cendekiawan Melayu dalam membahas sastra, pendidikan, hingga persoalan sosial masyarakat. 
Dari sinilah lahir berbagai tulisan yang kemudian menyebar ke wilayah Johor, Singapura, Semenanjung Malaya hingga belahan dunia. 

Berdasarkan catatan historis, Rusydiah Club diperkirakan berdiri pada 1892 atau 1895, ketika Kesultanan Riau Lingga, berada dalam tekanan kolonial.

Pulau Penyengat yang sebelumnya dikenal sebagai pusat pemerintahan dan agama Islam, kemudian berkembang menjadi pusat intelektual dunia Melayu. 

Dalam catatan Masyarakat Sejarawan Kepri, Rusydiah Club disebut sebagai organisasi modern. Menghimpun kaum intelektual dan penulis. Bahkan sebelum lahirnya Budi Utomo.
Nama “Rusydiah” berasal dari kata Arab “rushd” bermakna petunjuk atau kecerdasan. Sedangkan “club” memperlihatkan pengaruh modernitas.

Perpaduan dua istilah tersebut mencerminkan watak Rusydiah Club yaitu organisasi modern yang berakar kuat pada tradisi keilmuan Islam dan Melayu. 

Pemimpin pertama adalah Tengku Besar Abdullah ibni Raja Muhammad Yusuf al-Ahmadi. Dilanjutkan oleh Tengku Abdulkadir hingga 1910.

Anggotanya terdiri dari para bangsawan, ulama, dan intelektual seperti Raja Ali Kelana, Raja Khalid Hitam, Said Ali, hingga Sayyid Shaykh al-Hadi. 
Rusydiah Club juga mendapat dukungan langsung dari Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah yang menjadi sultan terakhir Kesultanan Riau Lingga.

Meski nama Rusydiah Club lebih dikenal pada penghujung abad 19, namun akar tradisi intelektual dan dunia menulis telah tumbuh jauh sebelumnya. 

Tradisi itu tumbuh melalui Raja Ali Haji. Ulama, sejarawan, ahli bahasa, sekaligus pujangga yang menjadikan Pulau Penyengat sebagai pusat intelektual. 

Melalui karyanya Gurindam Dua Belas, Tuhfat al-Nafis, dan Kitab Pengetahuan Bahasa, ia membangun fondasi bahasa Indonesia modern.

Pulau Penyengat, Taman Para Penulis

Tradisi menulis kala itu juga menjalar ke berbagai lapisan. Ulama, bangsawan, tabib, bahkan masyarakat, menghasilkan manuskrip dan syair. 

Sehingga pulau historis yang berada di hadapan Tanjungpinang itu pun dikenal sebagai “Bustan al-Katibin” atau taman para penulis. 

Di rumah-rumah warga, naskah-naskah lama diwariskan turun-temurun sebagai bagian dari ingatan historis dan kebudayaan Melayu.
Rusydiah Club pun menjadi wadah yang menyatukan semangat literasi. Anggotanya tidak hanya berdiskusi tentang sastra dan agama.

Perkumpulan intelektual dan para penulis itu juga membicarakan politik, pendidikan, hingga strategi menghadapi kolonial. 

Sehingga kala itu, di tengah tekanan kolonial, sebuah pena dijadikan jihad dan alat perjuangan yang halus namun sangat berpengaruh.

Kekuatan Utama Rusydiah Club

Salah satu kekuatan utama Rusydiah Club adalah percetakan. Mencetak berbagai karya sastra, kitab agama, syair, dan tulisan pemikiran Melayu. 

Percetakan yang berdiri di bawah Rusydiah Club ini menjadi salah satu pusat penerbitan penting di dunia Melayu pada zamannya. 

Penerbitan karya-karya tulisan itu melalui percetakan bernama Mathba’ah al-Riauwiyah dan Rumah Cap Kerajaan Riau Lingga.
Tercatat, 190 lebih judul karya tulis terbit dan beredar ke berbagai negeri. Majalah Al-Imam dan Al-Ikhwan juga menjadi media penyebaran gagasan reformis.

Melalui gagasan dan aktivitas literasi itu, Rusydiah Club terus mengembangkan tradisi menulis, semangat literasi dan budaya intelektual Melayu.

Selain itu, Rusydiah Club di Pulau Penyengat juga gencar menyuarakan dengan lantang semangat kebangsaan dan pembelaan terhadap tanah air. 

Dari sana juga, gagasan tentang identitas Melayu, agama Islam dan pendidikan menyebar hingga ke Singapura, Johor, hingga kawasan Nusantara lainnya.
Tradisi menulis di Pulau Penyengat juga memperlihatkan bahwa dunia Melayu tidak tertutup terhadap perkembangan zaman. 

Para anggota Rusydiah Club aktif menjalin hubungan dengan dunia luar, termasuk Timur Tengah dan pusat-pusat intelektual Melayu lainnya. 

Perkumpulan ini membaca surat kabar, menerjemahkan pemikiran, serta berdialog dengan gagasan modern tanpa meninggalkan akar budaya.

Cerita Besar Kejayaan Literasi di Pulau Kecil

Jejak Intelektual dan Penulis Legendaris di Pulau Historis Tanjungpinang
Tapak gedung Rusydiah Club di Pulau Penyengat Tanjungpinang. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar

Kini, jejak Rusydiah Club memang tinggal tapak dan puing historis. Gedung perkumpulannya, telah lama hilang dimakan zaman. 

Namun tapak bekas gedung percetakan dan kawasan intelektual serta para penulis, masih tertinggal dan dapat ditemukan di Pulau Penyengat. 

Di pulau kecil itu, historis pernah mencatat, pena dan manuskrip serta karya tulis, menjadi alat menjaga marwah Melayu.

Rusydiah Club bukan sekadar perkumpulan elite dan modern. Ia simbol ilmu pengetahuan, sastra dan tradisi menulis yang pernah menjadi jantung peradaban.
Dari Pulau Penyengat, kata-kata pernah bergerak melampaui lautan, menjadikan sebuah pulau kecil di Tanjungpinang itu sebagai tempat besar para intelektual. 

Kini, jejak para penulis legendaris itu masih dapat dirasakan melalui bangunan tua, manuskrip, dan ingatan memori masyarakat Pulau Penyengat. 

Pulau kecil di hadapan Tanjungpinang itu seakan menjadi lembar hidup yang menyimpan cerita besar tentang kejayaan para intelektual dan penulis. 

Di tengah modernisasi, Rusydiah Club di pulau historis Tanjungpinang itu, menjadi memori kuat keberadaan jejak intelektual yang menjaga tradisi tulis menulis. (*)

Penulis: Yusnadi Nazar
Posting Komentar