Jejak Kedai Kopi Hawai Legendaris, Secangkir Kenangan dari Kota Tua Pulau Bintan

Jejak Kedai Kopi Hawai Legendaris, Secangkir Kenangan dari Kota Tua Pulau Bintan
Jejak Kedai Kopi Hawai legendaris, secangkir kenangan dari Kota Tua Pulau Bintan. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar

Catatan Visual - Di sudut Kota Tua Kijang, saat laju kendaraan belum seramai hari ini dan bercampur deretan rumah toko tua, berdiri Kedai Kopi Hawai legendaris. 

Kedai kopi sederhana yang namanya begitu akrab di telinga masyarakat Pulau Bintan terutama Kota Lama Tanjungpinang dan Kota Tua Kijang.

Kini, bangunan kedai kopi yang pernah menjadi saksi ribuan perbincangan itu telah tiada. Kebakaran besar melanda pada tahun 2016. 

Api menghapus jejak fisiknya dari lanskap Kota Tua Kijang. Namun kenangan tentang secangkir kopi pekat, tetap hidup seolah tidak pernah ikut terbakar. 

Bagi masyarakat Kota Tua Kijang, Kedai Kopi Hawai bukan hanya tempat menikmati kopi. Ia adalah ruang yang menyatukan berbagai kalangan.

Sejak berdiri pada tahun 1969, kedai ini menjadi persinggahan para buruh tambang, nelayan, sopir, pedagang, pegawai negeri, hingga pejabat.

Semuanya duduk sejajar di bangku kayu panjang dan meja kayu bulat tanpa memandang jabatan maupun latar belakang.

Di sanalah kabar terbaru beredar lebih cepat daripada koran pagi. Berbagai hal dibahas. Urusan kampung diselesaikan tanpa meja rapat. 

Tawa, canda dan perdebatan ringan hingga sedikit ketegangan perdebatan ringan, menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Suasana itu menjadikan Kedai Kopi Hawai punya nilai lebih. Ia adalah ruang yang lahir secara alami, jauh sebelum istilah coffee shop dikenal masyarakat.

Mengapa Bernama Kedai Kopi Hawai?

Banyak orang yang singgah di Pulau Bintan mengira nama "Hawai" berasal dari Kepulauan Hawaii di Amerika. Padahal historisnya berbeda.

Berbagai catatan menyebut, nama tersebut merupakan pemberian seorang pejabat kecamatan pada masa awal kedai berdiri. 

Sejak saat itu nama "Kedai Kopi Hawai" melekat kuat hingga menjadi identitas yang dikenal luas oleh masyarakat Pulau Bintan, Kepulauan Riau.

Menariknya, biji kopi yang digunakan pun bukan berasal dari Hawaii. Sang pemilik mengambil kopi dari Jambi, kemudian meraciknya menggunakan resep keluarga. 

Resep tersebut diwariskan secara turun-temurun hingga memunculkan perpaduan racikan yang melahirkan cita rasa yang sulit ditemukan di tempat lain.

Di kedai kopi itu, tidak ada mesin espresso mahal. Tidak ada alat seduh modern. Segala sesuatu dilakukan dengan cara tradisional.

Salah satu ciri khas Kedai Kopi Hawai yang legendaris itu adalah kebiasaan pemilik merebus cangkir kopi sebelum digunakan. 

Cangkir keramik putih kecil dan khas bermotif klasik itu, dipanaskan terlebih dahulu sehingga suhu kopi tetap terjaga ketika disajikan.

Air kopi panas dengan aroma khas itu, kemudian dituangkan ke dalam cangkir kecil yang menjadi identitas kedai Kedai Kopi Hawai. 

Bagi pelanggan lama, ukuran cangkir yang mungil justru menjadi bagian dari kenikmatan. Kopi kemudian diminum perlahan sambil berbincang panjang.

Tradisi sederhana tersebut tetap dipertahankan oleh generasi penerus karena dianggap menjadi salah satu rahasia aroma dan rasa Kopi Hawai.

Kota Tua Kijang dan Aroma Kopi

Pada dekade 1970 hingga 1990-an, Kota Tua Kijang merupakan salah satu kota tambang bauksit dan pusat aktivitas ekonomi di Pulau Bintan.

Pasar Berdikari selalu ramai sejak pagi. Kapal-kapal keluar masuk pelabuhan membawa hasil laut dan kebutuhan pokok. 

Di tengah aktivitas ekonomi sam kesibukan kota itulah, Kedai Kopi Hawai hadir dan menjadi tempat singgah yang nyaris tidak pernah sepi.

Banyak pelanggan datang bukan semata-mata mencari kopi. Para penikmat kopi itu juga datang mencari suasana.

Ada yang membaca koran sambil menyeruput kopi. Ada yang sekadar menunggu waktu sebelum bekerja. Ada yang sengaja datang untuk bertemu kawan.

Suasana hangat tanpa gawai dan akrab khas tempo dulu itu, menjadi bagian kehidupan dan pemandangan yang sulit ditemukan pada masa kini. 

Api Menghapus Sebuah Babak dan Warisan yang Tidak Pernah Hilang

Jejak Kedai Kopi Hawai Legendaris, Secangkir Kenangan dari Kota Tua Pulau Bintan
Kedai Kopi Hawai Legendaris di Kota Tua Kijang. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar

Tahun 2016 menjadi titik yang mengubah historis. Kebakaran melanda kawasan Pasar Berdikari, menghanguskan bangunan tua Kota Tua Kijang.

Di antara bangunan-bangunan tua yang hilang adalah Kedai Kopi Hawai yang telah berdiri sejak puluhan tahun dan telah melegenda. 

Peristiwa itu menyisakan kesedihan. Bukan hanya bagi keluarga pemilik, tetapi juga bagi pelanggan yang kehilangan salah satu simbol Kota Tua Kijang.

Banyak orang-orang yang menyebut, yang terbakar bukan sekadar bangunan tua, melainkan ruang tempat ribuan kenangan yang tercipta.

Meski bangunan lama Kedai Kopi Hawai telah tiada, namun semangat untuk mempertahankan warisan keluarga tidak ikut padam.

Generasi kedua kemudian membuka kembali Kedai Kopi Hawai di kawasan Jalan Barek Motor, tidak jauh dari lokasi asalnya.

Aroma dan resep kopi lama tetap dipertahankan. Cara penyajian kopi pun tidak banyak berubah. Tetap disajikan secara tradisional.

Masyarakat masih dapat menikmati cita rasa yang sama, meskipun nuansa romantis Kota Tua dan bangunan tua legendaris sudah tidak dapat dihadirkan sepenuhnya.

Di tengah menjamurnya kedai kopi modern, cerita Kedai Kopi Hawai mengingatkan secangkir kopi memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar rasa.

Ia menyimpan historis sebuah kota. Merekam denyut kehidupan masyarakat. Menjadi tempat lahirnya persahabatan, gagasan dan keputusan penting.

Bangunan tua itu memang telah lenyap dari peta Kota Tua. Namun aroma kopinya masih berembus dalam ingatan bagi yang pernah duduk di sana.

Karena sesungguhnya, Kedai Kopi Hawai legendaris itu, tidak pernah benar-benar hilang dan percaya bahwa historis kota terkadang dapat dimulai dari secangkir kopi. (*)

Penulis: Yusnadi Nazar

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image