Jejak Klasik Penulis Lirik asal Tanjungpinang di Jagat Musik Indonesia
0 menit baca
![]() |
| Jejak klasik penulis lirik asal Tanjungpinang di jagat musik Indonesia. Arsip Foto: © Teguh Diswanto |
Sosok Penulis Lirik, Menciptakan Karya Hits, Dinyanyikan Musisi Top Tanah Air
Mungkin tidak banyak yang tahu, dari Tanjungpinang, lahir seorang penulis lirik yang jejak karyanya pernah menguasai ruang dengar musik Indonesia.
Di balik lagu populer yang dinyanyikan penyanyi papan atas Tanah Air, nama Teguh Diswanto tercatat sebagai salah satu penulis lirik.
Tidak hanya sebagai penulis lirik, Teguh Diswanto juga bertindak sebagai arranger, komposer sekaligus produser yang berpengaruh di masanya.
Lebih dari seperempat abad, Teguh Diswanto telah menapaki dunia musik Tanah Air. Pria berusia 50 tahun ini, juga malang melintang sebagai gitaris.
Sebagai penata musik dan pemain gitar andal, hingga menjadi produser, sosok Teguh Diswanto berada di balik lahirnya berbagai lagu hits Indonesia.
Bagi kalangan musisi dan insan industri musik, nama Teguh bukanlah sosok asing. Karyanya telah dinyanyikan sederet penyanyi ternama.
Karyanya yang dinyanyikan sejumlah musisi top Indonesia, juga sempat menduduki tangga lagu nasional pada masanya.
Dari studio rekaman hingga panggung besar, sentuhan musikal Teguh kerap menjadi fondasi karya yang melekat di ingatan para pendengar.
Sejumlah lagu ciptaannya dinyanyikan Ari Lasso, mantan vokalis Dewa 19, seperti Karena Aku T’lah Denganmu, Doa Untuk Cinta, dan Kata Siapa.
Sementara Judika, penyanyi solo yang jebolan Indonesian Idol, membawakan karya Teguh Diswanto berjudul Bukan Rayuan Gombal.
Grup vokal legendaris Warna juga menyanyikan lagu ciptaannya bertajuk 50 Tahun Lagi, yang kemudian turut dipopulerkan Yuni Shara dan Raffi Ahmad.
Tidak hanya itu, Bunga Citra Lestari (BCL) membawakan lagu Kecewa, salah satu karya Teguh Diswanto yang sempat menjadi hits di era musik pop Indonesia.
Namanya juga tercatat di balik lagu Terlalu Cinta yang dinyanyikan musisi senior Fariz RM. Ini membuktikan keluwesannya menjangkau lintas generasi.
Mencipta Lirik Menuntut Kepekaan
Menurut Teguh, menciptakan lirik lagu yang mampu bertahan dan diterima publik, bukan perkara sederhana dan tidak mudah.
Proses kreatif menuntut kepekaan terhadap banyak hal. Mulai dari pengalaman personal, cerita orang lain, hingga fenomena sosial yang berkembang.
“Lirik harus relevan dan melodinya kuat serta mudah diingat,” ungkapnya.
Teguh menambahkan, seorang penulis lirik dituntut mampu beradaptasi dengan karakter vokal dan kepribadian penyanyi atau vokalis.
"Tidak jarang, lagu diciptakan secara khusus agar selaras dengan warna suara serta citra penyanyi," sebutnya.
Kolaborasi pun menjadi kunci penting. Penulis lirik perlu berdialog dan memahami visi musikal penyanyi yang akan membawakan karyanya.
“Lagu harus menyatu dengan karakter suara penyanyi agar pesan dan emosi lagu dapat tersampaikan dengan utuh,” kata Teguh.
Di sisi lain, Teguh menilai penulis lirik juga berperan sebagai pencipta arah dan tren musik dan tidak sekadar mengikuti pasar
Namun turut membentuk selera publik melalui eksplorasi lirik, perpaduan genre, hingga penggunaan instrumen yang tidak lazim.
Memasuki era digital dan media sosial, kepekaan terhadap perubahan selera pendengar menjadi penting. Lagu hits, lahir dari lirik sederhana namun membekas.
Meski kerap berada di balik layar, Teguh menegaskan bahwa penulis lirik merupakan otak di balik banyak karya besar yang hidup di industri musik.
Kini, Teguh jarang aktif di hiruk pikuk Ibu Kota. Namun kontribusinya terhadap perkembangan jagat musik Indonesia, tetap berbekas.
“Karya yang baik akan terus dikenang dan dinyanyikan,” ucapnya.
Kini, Teguh memilih kembali ke Tanjungpinang, membawa pengalaman panjangnya sebagai bekal untuk terus berkarya.
Kenangan masa lalu, bagi Teguh, bukan sekadar nostalgia, melainkan sumber motivasi untuk tetap hidup dalam dunia musik.
“Jadilah musisi dari masa lalu, masa kini, dan masa depan,” ajaknya.
Menghidupkan Musik dari Kampung Halaman
![]() |
| Teguh Diswanto saat tampil di event musik di Tanjungpinang. Arsip Foto: © Teguh Diswanto |
Musisi kelahiran Tanjungpinang, 1 Desember 1973 ini, dikenal sebagai gitaris yang juga piawai memainkan sejumlah instrumen musik lain.
Namanya mulai dikenal luas saat bergabung bersama Opet Alatas, mantan bassis band Gigi dan membentuk band Tiket pada awal 2000-an.
Di band beraliran pop rock dan post-britpop tersebut, Teguh juga berperan sebagai gitaris sekaligus penulis lirik.
Bersama Tiket, ia merilis dua album, berjudul Abadillah dan Usai Sudah, sebelum akhirnya memutuskan hengkang pada 2003.
Sejak itu, Teguh lebih banyak berkiprah di balik layar sebagai penulis lirik, arranger, dan produser bagi sejumlah musisi Indonesia.
Saat ini, ia menetap di Tanjungpinang dan aktif dalam komunitas musik lokal Evolusi Muzik, yang menjadi wadah bagi musisi dan band indie lintas genre.
Tidak berhenti di situ, Teguh juga kembali merambah panggung nasional dengan membentuk band Elastic yang berbasis di Yogyakarta.
Band bergenre pop dark blue ini diisi musisi Indonesia yakni Doni Johan (eks vokalis Seventeen) dan Kiki (mantan drummer Canonball).
Sebagai musisi senior, Teguh berharap generasi muda Tanjungpinang tidak ragu mendalami dan menapaki dan dunia musik.
Menurutnya, peta industri kini semakin terbuka dan memberi peluang luas bagi talenta daerah untuk menembus pasar nasional.
Teguh juga menekankan bahwa musik dapat menjadi ruang kreatif positif bagi anak muda, sekaligus menjauhkan mereka dari aktivitas negatif.
“Terus berkarya sampai daya saing bukan lagi masalah,” pesannya.
Teguh turut mendorong pemerintah daerah agar lebih aktif mendukung geliat musik dan seni di Tanjungpinang melalui penyelenggaraan event musik.
“Pemerintah harus ikut bertanggung jawab memajukan musik dan seni,” tegasnya.
Dengan semakin banyaknya event musik, Teguh berharap gairah permusikan lokal kembali hidup dan regenerasi musisi terus berjalan.
“Perbanyak event musik di Tanjungpinang, agar musik itu tidak ditinggalkan,” tutup penulis lirik dan gitaris itu. (*)
Penulis: Yusnadi Nazar


