Menapaki Historis Istana Kota Lama nan Legendaris di Hulu Riau Tanjungpinang
0 menit baca
![]() |
| Menapaki historis Istana Kota Lama nan legendaris di Hulu Riau Tanjungpinang. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar |
Istana Kota Lama Hulu Riau, Warisan Kejayaan Tanjungpinang Tempo Dulu
Di tepian Sungai Carang Hulu Riau Tanjungpinang, jejak kejayaan tempo dulu yaitu Istana Kota Lama, masih tersisa dalam kesunyian.
Di antara pepohonan dan aliran sungai yang dahulu sibuk dilayari kapal, masih berdiri sisa-sisa tembok Istana Kota Lama yang legendaris itu.
Istana Kota Lama di Hulu Riau Sungai Carang Tanjungpinang itu, pernah memainkan peran penting dalam lintasan historis Kesultanan Riau Lingga.
Keberadaan Istana Kota Lama tidak bisa dilepaskan dari dinamika politik regional yang melibatkan kekuatan Melayu, Bugis, hingga kolonial.
Berdasarkan catatan historis, kawasan Hulu Riau pernah menjadi ibu kota Kesultanan Riau Lingga setelah kejatuhan Melaka ke tangan Portugis.
Istana Kota Lama kemudian dibangun sebagai kediaman sultan sekaligus pusat pemerintahan dan administrasi Kesultanan Riau Lingga.
Dari Istana Kota Lama di tepian Sungai Carang Tanjungpinang ini, kebijakan dirumuskan, hubungan diplomatik dijalin, serta roda pemerintahan dijalankan.
Selain itu, sekitar abad 17 hingga abad 18, istana legendaris yang terletak di kawasan strategis, menjadi pusat perdagangan, ekonomi dan kebudayaan.
Namun, akibat konflik dan tekanan eksternal, terutama dari pihak kolonial, membuat pusat pemerintahan akhirnya berpindah-pindah.
Seiring waktu, Istana Kota Lama ditinggalkan. Keberadaan bangunannya pun mengalami kerusakan akibat faktor alam dan usia.
Sebagian struktur istana roboh, sehingga melahirkan sebutan baru di kalangan masyarakat setempat untuk Istana Kota Lama yaitu Istana Kota Rebah.
Kini, Istana Kota Lama yang sarat nilai historis itu, semakin rebah dan tidur panjang serta tergerus waktu. Perlahan terlupakan oleh generasi masa kini.
Asal Usul, Latar Belakang Historis dan Puncak Kejayaan
![]() |
| Reruntuhan di situs Istana Kota Lama, 2010 silam. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar |
Menurut catatan historis, kawasan Hulu Riau di Sungai Carang mulai berkembang sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan sejak 1673.
Ketika itu, Laksamana Tun Abdul Jamil atas perintah Sultan Abdul Jalil Syah (Sultan Johor ke-8), membuka kawasan Hulu Riau Tanjungpinang.
Hulu Riau dibuka sebagai pusat perdagangan dan pemerintahan Kesultanan Johor. Proses ini menandai lahirnya Bandar Riau.
Kawasan ini kemudian menjadi sangat dikenal sebagai pusat yang ramai dan strategis, termasuk dalam jalur perdagangan Selat Melaka.
Lokasi yang strategis di Hulu Riau Sungai Carang Tanjungpinang, memudahkan akses laut sekaligus melindungi pusat pemerintahan dari ancaman musuh.
Di bawah pemerintahan Sultan Abdul Jalil Rahmatsyah (Sultan Johor ke-11) pada 1719, ibu kota Kesultanan dipindahkan dari Johor ke Hulu Riau Tanjungpinang.
Di tempat inilah kemudian Istana Kota Lama mencapai puncak statusnya dan berjaya sebagai pusat pemerintahan, diplomasi dan perdagangan.
Dalam masa kejayaannya, kawasan Hulu Riau menjadi jantung aktivitas ekonomi dan budaya, bersaing dengan pusat perdagangan lain di Asia Tenggara.
Perdagangan rempah, kain dan barang dagangan lain mengalir melalui pelabuhan ini, menjalin hubungan dengan pedagang dari berbagai penjuru dunia.
Jejak Arkeologis, Nilai Historis dan Warisan yang Terlupakan
![]() |
| Wisata hutan bakau di Sungai Carang Tanjungpinang, 2012 silam. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar |
Kawasan Istana Kota Lama telah ditetapkan sebagai benda cagar budaya. Namun sayangnya, perhatian terhadap pelestarian situs ini belum optimal.
Keberadaan Istana Kota Lama belum sepenuhnya mendapat perhatian. Minimnya perawatan dan anggaran, membuat situs ini, kian terpinggirkan.
Banyak fasilitas dan struktur pendukung di kawasan ini yang mengalami kerusakan akibat minimnya perawatan dan anggaran.
Kini yang tersisa dari Istana Kota Lama adalah puing-puing bangunan, struktur batu serta fondasi yang menjadi petunjuk keberadaan istana tersebut.
Meskipun tidak lagi tampak utuh, keberadaan situs Istana Kota Rebah ini menyimpan nilai arkeologis dan historis yang tinggi.
Sebab kawasan ini dinilai sebagai bukti konkret kejayaan peradaban Melayu di Hulu Riau Sungai Carang Tanjungpinang, Pulau Bintan.
Jika dikelola dengan baik, Istana Kota Lama dapat menjadi pusat edukasi historis dan destinasi wisata budaya di Tanjungpinang dan Kepulauan Riau.
Upaya pemerintah setempat, seperti pembangunan pelantar kayu dan kawasan hutan bakau sebagai bagian wisata edukatif, pernah dilakukan.
Namun sejumlah fasilitas mengalami kerusakan dan terbengkalai sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi pelestarian warisan historis ini.
Istana Kota Lama atau Istana Kota Rebah bukan sekadar situs fisik. Namun merupakan simbol historis di Hulu Riau Sungai Carang Tanjungpinang.
Kawasan ini menjadi pengingat historis yang mengajarkan pentingnya pelestarian agar generasi mendatang dapat memahami jejak historis tempo dulu.
Tidak hanya itu, Istana Kota Lama adalah situs yang menyimpan cerita kejayaan perdagangan dan perjuangan identitas klasik.
Menjaga Ingatan, Merawat Historis
![]() |
| Sisa tembok Istana Kota Lama Hulu Riau Sungai Carang Tanjungpinang, 2010 silam. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar |
Menapaki Istana Kota Lama bukan sekadar perjalanan, tetapi juga perjalanan menembus waktu dam menghidupkan kembali ingatan kejayaan tempo dulu.
Situs historis ini menjadi pengingat bahwa Tanjungpinang bukan hanya kota modern dan berkembang, melainkan kota yang sarat dengan narasi historis.
Upaya pelestarian, dokumentasi dan pengenalan historis kepada generasi muda menjadi kunci agar situs ini tidak sekadar menjadi reruntuhan.
Tetapi Istana Kota Lama di Tanjungpinang ini, menjadi sebuah warisan historis peradaban yang terus bercerita tentang kejayaan tempo dulu.
Warisan yang memberikan pelajaran penting bagi generasi mendatang untuk memaknai dan menghargai jejak historis Tanjungpinang tempo dulu.
Meskipun kini hanya tinggal reruntuhan, nama Istana Kota Lama tetap menjadi catatan yang tidak terpisahkan dari historis kerajaan-kerajaan di Nusantara. (*)
Penulis: Yusnadi Nazar




