Kenangan Tempo Dulu di Tepi Laut Tanjungpinang, Saat Hidup Terasa Lebih Sederhana

Kenangan Tempo Dulu di Tepi Laut Tanjungpinang, Saat Hidup Terasa Lebih Sederhana
Kenangan tempo dulu di tepi laut Tanjungpinang, saat hidup terasa lebih sederhana. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar

Catatan Visual - Ada masa saat Tanjungpinang berjalan lebih pelan, namun terasa begitu hangat dan penuh makna. Kenangan tempo dulu pun masih membekas.

Di jalan-jalan yang belum ramai, rumah-rumah kayu berdiri sederhana, serta sapaan akrab antar warga, kehidupan pun mengalir. 

Anak-anak bermain di tepi laut hingga senja, orang tua berbincang-bincang dan kebahagiaan hadir dari hal-hal kecil yang kini mulai sulit ditemukan. 

Saat hidup terasa lebih sederhana namun begitu membekas di hati. Itulah nostalgia dan kenangan tempo dulu di tepi laut Tanjungpinang.

Ada juga masa ketika kebahagiaan anak-anak di Tanjungpinang tidak membutuhkan gawai, pusat hiburan, atau lapangan berumput modern. 

Cukup menunggu air laut surut di kawasan tepi laut, lalu berlari ceria bersama teman-teman sebaya dan bermain bola kaki hingga senja.

Di hamparan pasir bercampur lumpur itulah tawa tumbuh, persahabatan terjalin dan kenangan masa kecil tercipta tanpa dibuat-buat.

Setiap sore, ketika laut mulai menjauh meninggalkan daratan, anak-anak berdatangan dari berbagai penjuru kampung. 

Ada yang datang tanpa alas kaki, ada yang membawa bola plastik lusuh, ada pula yang sekadar ingin ikut melihat dan meramaikan.

Tidak ada seragam atau jersey khusus, tidak ada wasit, tak ada aturan resmi. Tiang gawang dibuat dari kayu kecil yang ditancapkan di tanah basah.

Garis tepi dibuat seingatnya, ukuran gawang disepakati seadanya. Namun justru di situlah letak kebebasan dan kebahagiaannya. 

Bola yang memantul tidak beraturan karena lumpur, pemain yang terpeleset lalu tertawa bersama, hingga teriakan gol yang menggema.

Kadang laga terhenti karena bola hanyut dibawa sisa arus. Beberapa anak berlari mengejar, yang lain menunggu sambil menggoda teman yang jatuh tersungkur. 

Tidak ada yang marah, tidak ada yang merasa kalah terlalu dalam. Yang penting bermain hingga senja tiba lalu bersiap pulang bersama.

Selepas permainan usai, tubuh penuh lumpur dan kaki penuh pasir. Namun wajah berseri-seri. Pulang membawa rasa puas yang sederhana.

Hari itu bermain bersama. Malamnya tidur lelap, menunggu besok sore untuk mengulang kegembiraan dan keceriaan yang sama.

Semua kebahagiaan dan keceriaan waktu senja di tepi laut Tanjungpinang, menjadi kenangan tempo dulu yang tidak mungkin diulang sama persis pada hari ini.

Kenangan Tempo Dulu yang Tetap Hidup

Kenangan Tempo Dulu di Tepi Laut Tanjungpinang, Saat Hidup Terasa Lebih Sederhana
Sejumlah anak bermain bola kaki saat air laut surut di tepi laut Tanjungpinang. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar

Kini pemandangan itu menghilang. Kawasan tepi laut Tanjungpinang terus berubah seiring pembangunan modern dan tuntutan zaman. 

Reklamasi, penataan kota, jalan beton, bangunan modern dan ruang-ruang baru, menggantikan bentang pesisir yang dahulu menjadi arena bermain alami. 

Tempat anak-anak berlari mengejar bola saat air laut surut tidak lagi seluas dulu, bahkan di beberapa sudut telah sepenuhnya berganti wajah.

Pembangunan memang membawa kemajuan. Kota menjadi lebih rapi, akses semakin mudah dan wajah Tanjungpinang tampak semakin modern.

Namun di balik itu, ada ruang kenangan tempo dulu yang ikut tenggelam. Generasi hari ini, mungkin memiliki tempat bermain yang bagus. 

Lapangan modern yang lebih layak dan teknologi yang lebih canggih. Tetapi mungkin belum tentu merasakan kegembiraan liar dan polos.

Seperti halnya anak-anak generasi lama yang pernah merasakan pasir dan lumpur saat bermain bola kaki di kawasan tepi laut Tanjungpinang.

Kenangan tempo dulu itu kini tinggal cerita di kepala siapa saja yang pernah mengalaminya dan merasakan bermain saat senja.

Saat bertemu kawan lama, kenangan tempo dulu di tepi laut Tanjungpinang, pasti sering terlintas dan muncul kembali. 

Siapa yang paling jago mencetak gol, siapa yang paling sering jatuh, semua dikenang sambil tertawa, seolah waktu belum benar-benar pergi.

Kawasan tepi laut Tanjungpinang kini mungkin telah berubah sepenuhnya, namun jejak masa kecil itu, tetap hidup dalam ingatan.

Sebab tempat bisa berganti rupa, namun kenangan tempo dulu yang pernah lahir di sana, akan selalu menemukan jalannya untuk pulang. (*)

Penulis: Yusnadi Nazar

Posting Komentar