Nostalgia Ocean Corner Tanjungpinang, Sudut Klasik Kota yang Kini Berganti Wajah
![]() |
| Nostalgia Ocean Corner Tanjungpinang, sudut klasik kota yang kini berganti wajah. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar |
Catatan Visual - Ocean Corner di tepi laut Tanjungpinang, merupakan salah satu sudut klasik kota yang menyimpan berbagai macam kenangan.
Di tempat inilah generasi muda Tanjungpinang pernah menghabiskan senja, bercengkerama ditemani angin laut dan matahari terbenam.
Kini, sudut klasik kota bernama Ocean Corner itu, telah berganti wajah menjadi Tugu Sirih Emas. Namun kenangannya masih hidup dalam ingatan.
Di Tanjungpinang sendiri, ada beberapa tempat yang tidak sekadar menjadi ruang publik. Ia menjadi bagian dari perjalanan hidup sebuah generasi.
- Baca Juga: Jejak Sampan Kotak, Transportasi Legendaris Penghubung Daratan Tanjungpinang dan Pulau Dompak
Salah satunya adalah Ocean Corner, sebuah sudut klasik kota yang sederhana dan menjadi ikon kota yang cukup populer pada masanya.
Pada dekade 1990an hingga awal 2000an, Ocean Corner menjelma sebagai titik temu paling populer bagi anak muda, keluarga hingga wisatawan.
Hari ini, siapa pun yang datang ke kawasan itu, akan disambut oleh megahnya Tugu Daun Sirih Emas, ikon baru yang berdiri di tepi laut.
Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa sebelum Tugu Sirih Emas itu hadir, lokasi tersebut lebih dahulu dikenal luas dengan nama Ocean Corner.
Sebuah Sudut Klasik yang Menghadap Laut
Ocean Corner berada di ujung Jalan Hang Tuah Tanjungpinang menuju Pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjungpinang. Tepat di depan Gedung Daerah.
Letak Ocean Corner sangat strategis karena menjadi pintu pertama yang dilihat para penumpang kapal saat tiba di Tanjungpinang.
Menghadap langsung ke laut, Ocean Corner menawarkan panorama matahari terbenam dan Pulau Penyengat, lengkap dengan kubah kuning Masjid Sultan Riau.
Panorama senja Ocean Corner itulah yang menjadi daya tarik utama, sejak kawasan tersebut mulai ramai dimanfaatkan sebagai ruang publik.
Pada masa itu belum banyak taman kota modern. Karena itulah Ocean Corner berkembang secara alami sebagai tempat berkumpul masyarakat.
Sore hari, anak kecil mandi di laut, anak muda bermain sepeda dan skateboard. Pasangan muda duduk di tepian beton menikmati matahari terbenam.
Lebih dari Sekadar Tempat Kumpul, Ikon yang Menjadi Penanda Kota
Bagi generasi 1990an hingga 2000an, menyebut Ocean Corner sama artinya dengan menyebut tempat berkumpul paling terkenal di Tanjungpinang.
Di sana tidak ada pusat perbelanjaan mewah ataupun kafe modern. Yang tersedia hanyalah hamparan laut dan panorama senja.
Saat senja tiba, ditemani suara kapal keluar masuk Pelabuhan Sri Bintan Pura serta jajanan kaki lima, menjadi pelengkap suasana.
Di sinilah banyak persahabatan terjalin. Banyak cerita cinta bermula. Berbagai komunitas hingga pelajar, menjadikan Ocean Corner sebagai titik kumpul.
Selain itu, Ocean Corner Tanjungpinang kerap digunakan sebagai lokasi berbagai kegiatan masyarakat dan perayaan hari besar.
Kemudian pertunjukan seni hingga seremoni pemerintahan digelar di Ocean Corner karena posisinya yang mewakili wajah Kota Tanjungpinang.
Pada masa itu, Ocean Corner juga memiliki monumen lambang Kota Tanjungpinang yang menjadi latar favorit berfoto.
Bersama patung anjing laut, keong raksasa, Tugu Pensil dan Gedung Daerah, kawasan ini membentuk identitas visual tepi laut yang melekat di ingatan.
Bahkan hingga kini, banyak generasi lama masih menyebut kawasan tersebut sebagai Ocean Corner meskipun bentuk fisiknya telah berubah total.
Pergantian nama dan wajah pun tidak serta-merta menghapus memori dan ingatan yang telah terbentuk selama puluhan tahun.
Berubah Menjadi Tugu Sirih Emas
Perubahan zaman dan modernisasi serta perkembangan Kota Tanjungpinang, membawa wajah baru bagi kawasan tepi laut.
Pemerintah kemudian melakukan revitalisasi untuk menjadikan tepi laut sebagai ruang publik modern sekaligus etalase ibu kota Provinsi Kepulauan Riau.
Di lokasi Ocean Corner, kemudian dibangun Taman Gurindam 12 dan Tugu Sirih Emas, sebuah monumen yang melambangkan budaya Melayu.
Sirih dalam tradisi dan budaya Melayu merupakan simbol penghormatan, persaudaraan dan keramahan serta penyambutan tamu.
Bentuk daun sirih berwarna emas dipilih sebagai representasi identitas budaya Kepulauan Riau yang kuat dengan tradisi Melayu.
Tugu Sirih Emas tersebut diresmikan pemerintah pada penghujung tahun 2020. Sejak saat itu, ia menjadi ikon baru kawasan tepi laut Tanjungpinang.
Kenangan yang Tak Pernah Hilang, Dari Tempat Berkumpul Menjadi Landmark Wisata
Kini kawasan di sekitar Tugu Sirih Emas telah berkembang jauh lebih modern. Berbagai fasilitas publik hadir melengkapi kawasan itu.
Mulai dari jalur pedestrian, taman, area kuliner, ruang terbuka hijau hingga pelataran yang rutin menjadi lokasi penyelenggaraan berbagai kegiatan.
Kawasan ini juga menjadi bagian penting dari koridor wisata tepi laut yang membentang dari Pelabuhan Sri Bintan Pura menuju Gurindam 12.
Lokasinya terhubung dengan sejumlah ikon kota lainnya seperti Gedung Gonggong, Gedung LAM, Gedung Daerah, Tugu Pensil, serta kawasan Kota Lama.
Meskipun kini tampil lebih megah, bagi banyak masyarakat Tanjungpinang, nama Ocean Corner tetap memiliki tempat tersendiri.
Ia adalah simbol masa ketika menikmati sore tidak membutuhkan banyak hal. Cukup duduk di tepi laut, memandang kapal lalu-lalang dan matahari terbenam.
Meskipun tempat itu telah berganti rupa, bangunannya mungkin telah berubah. Namun cerita yang ada masih hidup dalam ingatan.
Menjadi tempat di mana denyut kehidupan kota pernah berpusat dan nostalgia pasti selalu menemukan jalannya untuk kembali.
Ocean Corner boleh saja telah menjadi Tugu Sirih Emas, tetapi bagi historis Kota Tanjungpinang, ia tetap dikenang sebagai salah satu ruang publik legendaris. (*)
Penulis: Yusnadi Nazar

