Dari Kekayaan Alam Pulau Bintan Menjadi Karya Seni Klasik Ramah Lingkungan
![]() |
| Dari kekayaan alam Pulau Bintan menjadi karya seni klasik ramah lingkungan. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar |
Teknik Goresan Tangan dengan Jejak Daun dan Bunga
Pada zaman teknologi masa kini, muncul sebuah karya seni klasik dan penuh makna yaitu ecodrawing. Teknik ecodrawing ini memadukan sumber kekayaan alam dengan sentuhan tangan manusia.
Dari ide dan kreativitas goresan tangan manusia itu, akan menghasilkan sebuah karya seni klasik sekaligus menjadi salah satu kerajinan tangan yang estetik dan ramah lingkungan.
Karya seni klasik ecodrawing adalah teknik lukis dengan memanfaatkan daun atau bunga, kulit pohon hingga akar pohon sebagai media, pola dan warna.
Bahan-bahan sumber kekayaan alam ini lalu ditempel, ditekan atau dijadikan cetakan di atas kertas dan kain atau baju. Kemudian dipadukan dengan goresan pensil dan tinta.
Lebih dari sekadar teknik menggambar atau melukis, karya seni klasik ecodrawing kini berkembang menjadi kerajinan tangan yang kreatif estetik dan bernilai ekonomis.
Hasil dari goresan tangan manusia itu, bukan sekadar gambar, melainkan sebuah seni visual yang tentunya menghadirkan kesegaran alami dan ramah lingkungan.
Selain itu, kerajinan tangan ini juga menanamkan pesan ekologis. Dengan memanfaatkan bahan dari alam, siapa pun yang melihat karya seni klasik ini akan diajak untuk lebih menghargai lingkungan.
Selanjutnya dengan melihat karya seni ecodrawing, siapa saja akan menghargai sebuah karya seni yang mengajarkan bagaimana kekayaan alam dapat menjadi sumber inspirasi tanpa harus dieksploitasi.
Seni ecodrawing juga untuk mengabadikan jejak alam ciptaan Yang Maha Kuasa. Tidak hanya melukis, tetapi juga membawa ruh dari daun atau bunga yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Tidak hanya itu, seni ecodrawing bukan sekadar tren seni, melainkan gerakan kecil untuk mengingatkan bahwa keindahan bisa hadir dari kesederhanaan dan kekayaan alam.
Dari bahan alam berupa sehelai daun dan sedikit kreativitas dan sentuhan tangan manusia, makan lahirlah karya seni klasik yang mendekatkan manusia dengan alam dan lingkungan.
Seniman Pulau Bintan Hadirkan Karya Ramah Lingkungan lewat Teknik Ecodrawing
![]() |
| Seniman ecodrawing tengah melukis di atas baju kaus menggunakan daun ketapang. Arsip Foto : © Yusnadi Nazar |
Di tengah era teknologi digital, seorang seniman asal Pulau Bintan memilih jalan berbeda dalam menciptakan sebuah karya seni klasik.
Ia menghadirkan karya seni atau kerajinan tangan berbahan alam yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga bernilai ekonomis dan ramah lingkungan melalui teknik lukis ecodrawing.
Seniman ecodrawing itu Muhammad Firdaus (39). Ia merupakan seniman pertama di Pulau Bintan yang menggunakan teknik ecodrawing dalam menciptakan karya yang bernilai seni yang ramah lingkungan dan ekonomis.
Baginya, sebuah karya seni bukan hanya sekadar mengenai keindahan visual, tapi juga memiliki makna dan sebuah pesan mendalam yang tersampaikan.
Melalui karya seni ecodrawing, ia ingin menunjukkan bahwa kekayaan alam di bumi ini bisa menjadi medium sekaligus inspirasi dalam menciptakan karya seni.
“Harapan kami, ecodrawing menjadi identitas seni baru di Bintan, sekaligus membuka jalan bagi generasi muda untuk lebih peduli terhadap alam lewat seni,” kata Firdaus.
Teknik seni ecodrawing, jelas Firdaus, memanfaatkan bahan-bahan alami seperti daun dan bunga. Kulit dan akar pohon juga menjadi pewarna alami untuk menghasilkan lukisan yang bernuansa artistik.
Setiap coretan atau goresan tangan, seolah mengajak penikmatnya kembali pada harmoni alam, sekaligus menjadi pengingat tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan tanpa melakukan eksploitasi.
"Kalau kami biasanya pakai daun ketapang dan daun sirih. Kulit pohon ketapang dan akar pohon mengkudu, bisa jadi pewarna alami," ungkapnya.
Menurut Firdaus, penggunaan daun ketapang punya nilai lebih. Daun yang mudah ditemui ini bisa memunculkan banyak warna seperti hitam kuning, hijau hingga cokelat.
Sedangkan penggunaan daun sirih, membuat hasil lukisan akan bertahan lebih lama dan juga dapat memunculkan warna hijau alami dan warna cokelat setelah terkena oksigen.
"Intinya semua daun dari pohon apapun bisa digunakan untuk ecodrawing. Setiap daun punya pola urat yang berbeda dan itu bisa menjadi karya seni unik. Tidak ada yang sama persis," jelasnya.
Firdaus melanjutkan, teknik ecodrawing juga memanfaatkan air tunjung, tawas, kapur, cuka (bahan kimia alami) yang diolah menjadi pewarna atau tinta.
Bahan-bahan ini berguna untuk memunculkan warna asli pigmen daun atau bunga. Bahan-bahan ini juga berfungsi untuk mengikat warna di media seperti baju, agar tidak luntur.
"Bahan kimia alami sebagai tinta, berfungsi untuk menghasilkan warna asli atau pigmen yang terkandung pada daun atau bunga yang digunakan saat melukis di baju," sebut Firdaus.
Selain dipamerkan dalam bentuk lukisan, karya seni ecodrawing juga dituangkan ke berbagai produk kerajinan tangan seperti lukisan tas kain, lukisan baju kaus, hingga lukisan hiasan dinding.
"Sentuhan alami ini membuat setiap karya unik karena tidak ada yang benar-benar sama," kata Firdaus.
Sejak akhir tahun 2019 lalu, Firdaus telah berkiprah di dunia seni ecodrawing. Ia membuka sebuah rumah produksi seni ecodrawing bernama 'Bintan Ecodrawing' di Jalan Triwijaya, Nomor 100 Toapaya Selatan, Bintan.
"Siapa saja bisa belajar menggambar dan melukis sekaligus mengenal jenis daun dan bunga yang ada di sekitar mereka," ujar Sarjana Administrasi Publik ini.
Saat ini, hasil karya seni kreativitas Firdaus, mulai dilirik. Tidak hanya dilirik individu, karya sini sentuhan tangannya, pernah dipamerkan dalam beberapa bazar dan event pariwisata di Pulau Bintan.
"Alhamdulillah, banyak orang yang tertarik. Ada juga yang pesan karya seni ecodrawing buatan kami," ucapnya.
Terakhir, tetapi tidak kalah penting, lebih dari sekadar karya seni, ecodrawing ini membawa pesan edukasi tentang keberlanjutan dan melestarikan alam.
Proses kreatifnya mengajarkan bagaimana memanfaatkan kembali sisa-sisa alam yang kerap dianggap remeh, tanpa perlu merusak lingkungan.
"Dengan semangat menjaga alam, karya seni klasik ecodrawing dari Pulau Bintan ini, perlahan bisa menjadi simbol kreativitas yang berkelanjutan," tutup Firdaus. (*)
Penulis: Yusnadi Nazar

