Dari Kekayaan Alam Pulau Bintan Menjadi Karya Seni Klasik Ramah Lingkungan

Dari Kekayaan Alam Pulau Bintan Menjadi Karya Seni Klasik Ramah Lingkungan
Dari kekayaan alam Pulau Bintan menjadi karya seni klasik ramah lingkungan. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar

Karya Seni Klasik dengan Teknik Goresan Tangan

Di tengah derasnya arus teknologi, muncul sebuah karya seni klasik yang menggabungkan kepekaan manusia dengan kekayaan alam yaitu ecodrawing.

Selain menciptakan karya seni klasik, teknik ini menghadirkan perpaduan unik antara goresan tangan dan jejak alami dari daun, bunga, kulit hingga akar pohon.

Menggunakan teknik ecodrawing, hasilnya bukan sekadar gambar, melainkan visual yang menyimpan pesan ekologis dan ramah lingkungan.

Teknik ini memanfaatkan daun, akar atau bunga yang ditempel, ditempel, hingga menciptakan pola alami di atas kertas atau kain. 


Setelah itu, karya seni klasik ini diperkuat dengan goresan pensil atau tinta untuk menghadirkan komposisi dan visual yang artistik.

Di balik proses yang sederhana, terdapat nilai estetika sekaligus gerakan kecil untuk mengingatkan pentingnya menghargai alam tanpa eksploitasi.

Karya seni klasik ini meninggalkan jejak ciptaan Tuhan dalam bentuk yang paling jujur. Merekam pola urat daun, serta warna alami tumbuhan. 

Tidak hanya menjadi teknik melukis, ecodrawing berkembang menjadi kerajinan bernilai ekonomis. Mulai dari dekorasi dinding, tas dan kaus bermotif alami.

Seniman Pulau Bintan Mengusung Seni Ecodrawing

Di Pulau Bintan, teknik ecodrawing ini kembali mendapat tempat berkat sentuhan seorang seniman lokal yakni Muhammad Firdaus (39). 

Di tengah era digital, ia memilih menghadirkan karya seni klasik berbasis alam yang elegan, ekonomis, sekaligus ramah lingkungan. 

Firdaus menjadi seniman pertama di Bintan yang mengembangkan ecodrawing secara serius dan berkelanjutan.

Baginya, sebuah karya seni klasik yang dibuatnya, tidak hanya tentang keelokan visual, tetapi juga ada sebuah pesan yang ingin disampaikan. 


Melalui ecodrawing, Firdaus ingin membuka ruang baru bahwa alam sekitar dapat menjadi inspirasi sekaligus medium seni.

“Harapan kami, ecodrawing bisa menjadi identitas seni baru di Bintan, dan mendorong generasi muda lebih peduli terhadap alam,” katanya. 

Saat berkarya, Firdaus biasanya memanfaatkan daun ketapang dan daun sirih. Kulit pohon ketapang dan akar mengkudu, menjadi pewarna alami. 

Menurut Firdaus, daun ketapang yang diolah dengan baik, dapat menghasilkan ragam warna, mulai dari hitam, hijau, kuning hingga cokelat.

Sementara daun sirih setelah diolah, dapat memberikan warna hijau alami yang dapat berubah menjadi cokelat seiring proses oksidasi.

“Setiap daun punya pola urat yang berbeda. Tidak ada hasil yang benar-benar sama,” ungkapnya.


Selain daun, kulit dan akar pohon, ia juga menggunakan air tunjung, tawas, kapur, dan cuka untuk mengeluarkan pigmen warna.

Bahan kimia ini untuk mengikat agar tinta tidak gampang luntur, terutama ketika diaplikasikan pada kaus atau bahan kain," jelas Firdaus.

Kini, karya seni klasik Firdaus tidak hanya sebagai lukisan, tetapi juga dituangkan dalam berbagai produk kreatif seperti tas kain, kaus, dan hiasan dinding.

Sentuhan alam dan goresan tangan itulah yang membuat setiap produk karya seni klasik Firdaus, memiliki keunikan tersendiri.

Rumah Produksi Bintan Ecodrawing

Dari Kekayaan Alam Pulau Bintan Menjadi Karya Seni Klasik Ramah Lingkungan
Seniman ecodrawing tengah melukis di atas baju kaus menggunakan daun ketapang. Arsip Foto : © Yusnadi Nazar

Sejak 2019, Firdaus telah membuka rumah produksi seni ecodrawing bertajuk Bintan Ecodrawing di Jalan Triwijaya Nomor 100, Toapaya Selatan. 

Di sana, masyarakat bisa belajar menggambar, melukis, sekaligus mengenal jenis-jenis daun yang tumbuh di sekitar mereka.

Karya Firdaus pun mulai mencuri perhatian. Selain diminati perorangan, karyanya pernah tampil dalam pameran, bazar dan event pariwisata di Bintan.


“Alhamdulillah, responsnya positif. Banyak juga yang memesan karya ecodrawing kami,” ungkap Sarjana Administrasi Publik itu.

Tidak hanya itu, seni ecodrawing membawa pesan bahwa bahan alam jika diolah dengan kreatif tanpa merusak lingkungan, bisa mendatangkan manfaat.

“Dengan semangat menjaga alam, karya seni klasik dari Bintan ini, bisa menjadi simbol kreativitas berkelanjutan,” tutup Firdaus.

Penulis: Yusnadi Nazar
Posting Komentar