Menengok Taman Bacaan Klasik Tanjungpinang, Koleksi Ribuan Buku Lawas
0 menit baca
![]() |
| Menengok taman bacaan klasik Tanjungpinang, koleksi ribuan buku lawas. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar |
Taman Bacaan Klasik Tanjungpinang yang Kembali Hidupkan Minat Baca Buku
Di tengah gempuran gawai dan arus informasi serba digital, sebuah taman bacaan klasik di Tanjungpinang, justru kembali menemukan denyut kehidupannya.
Rak-rak kayu berisi ribuan buku lawas, komik, novel hingga buku pelajaran, masih berdiri tegak, menjadi saksi ruang literasi yang menolak punah oleh zaman.
Di taman bacaan klasik inilah, minat baca yang sempat meredup kembali disemai, menghadirkan nostalgia dan harapan baru bagi generasi muda.
Selain itu, taman bacaan klasik itu juga bukan sekadar ruang berisi rak-rak buku. Ia adalah ladang pengetahuan dan tempat imajinasi tumbuh.
Jauh sebelum gawai dan internet ada, sekitar dekade 1970-an, di sudut tenang Jalan Teratai, Kota Lama Tanjungpinang, berdiri sebuah ruang literasi.
Tempat itu dikenal sebagai Taman Bacaan Singgalang yang kemudian lebih populer dengan nama Taman Bacaan Doraemon.
Rak-rak kayu yang dipenuhi majalah anak, buku cerita, komik, novel, hingga ensiklopedia, menjadi magnet bagi anak-anak Generasi X dan generasi awal milenial.
Setiap sore, sepulang sekolah, mereka datang beramai-ramai. Duduk bersila, membuka halaman demi halaman, lalu tenggelam dalam dunia kata dan gambar.
Tidak sedikit Generasi X Tanjungpinang yang mengakui, kegemaran membaca bermula dari ruang literasi sederhana di sudut jalan itu.
Dari sana pula lahir guru, wartawan, pegawai negeri, pengusaha, dan beragam profesi lainnya. Semua berawal dari kebiasaan membaca di masa lalu.
Bagi warga Tanjungpinang era 1970–1980-an, Taman Bacaan Singgalang atau Doraemon adalah potongan nostalgia yang tidak tergantikan.
“Kami masih ingat, pulang sekolah, tujuan utamanya ke Taman Bacaan Singgalang untuk baca komik atau novel,” kenang Nuryenis (50 tahun), warga Tanjungpinang.
Baginya, taman bacaan klasik itu bukan sekadar tempat membaca, melainkan ruang ilmu pengetahuan dan tumbuhnya imajinasi.
Menjadi ruang atau tempat bertemu tokoh-tokoh inspiratif, mengerjakan pekerjaan rumah sekolah, sekaligus menumbuhkan mimpi masa depan.
“Kalau sudah ke sana, bisa berjam-jam, baca buku, buat PR, sambil bercanda dengan kawan-kawan. Rasanya lengkap,” ujarnya mengenang masa lalu.
Menurut Nuryenis, keberadaan taman bacaan saat ini, menjadi pengingat bahwa membaca buku fisik, memiliki nilai penting yang tidak boleh hilang.
“Membaca dari buku itu berbeda. Itu yang kami ajarkan ke anak-anak kami sekarang,” kata sarjana Sastra Inggris tersebut.
Bertahan di Tengah Zaman, Warisan Literasi yang Tetap Hidup
Waktu berlalu, namun jejak taman bacaan klasik itu belum pudar. Taman Bacaan Singgalang memang tutup, tetapi Taman Bacaan Doraemon, masih bertahan.
Kini Taman Bacaan Doraemon telah pindah dan saat ini berlokasi di sudut Jalan Dr. Sutomo, kawasan Kampung Baru, Tanjungpinang.
Ruang literasi ini merupakan warisan Almarhum Haleruddin. Kini dikelola oleh generasi kedua yakni dua orang anaknya yaitu Emi (60 tahun) dan Iyang (47 tahun).
“Sekitar tahun 1980-an, tempat ini sangat ramai. Anak-anak datang silih berganti untuk membaca,” ungkap Emi saat ditemui.
Emi bercerita, ayahnya membuka Taman Bacaan Singgalang saat dunia digital belum ada. Saat itu, minat baca anak Tanjungpinang, tumbuh pesat.
Sejak 1970-an, Haleruddin membuka taman bacaan di Jalan Teratai, lalu berkembang dengan membuka cabang di Jalan Teuku Umar Tanjungpinang.
Memasuki awal 1990-an, seiring meningkatnya permintaan, Haleruddin mendirikan Taman Bacaan Doraemon di Jalan Tugu Pahlawan.
“Pada 2007, Singgalang akhirnya tutup. Tinggal Doraemon yang kami kelola hingga sekarang,” jelas Emi, mantan pegawai Telkom Tanjungpinang.
Puluhan ribu koleksi buku yang ada saat ini, menurut Emi, sebagian besar dibeli langsung oleh Almarhum ayahnya dari Jakarta.
Meskipun banyak koleksi buku yang telah tampak usang dan dimakan usia, namun buku-buku itu masih tersusun rapi di rak kayu dan masih terawat.
“Kalau dihitung sejak awal, mungkin jumlahnya ratusan ribu. Ada yang terjual, ada juga yang tidak kembali,” tuturnya.
Koleksi tersebut, kata Emi, mencakup komik lawas, majalah anak, novel populer, hingga buku pelajaran sekolah dari berbagai era.
Menyemai Minat Baca di Era Digital
![]() |
| Emi (kanan) dan Iyang yang mengelola Taman Bacaan Doraemon Tanjungpinang. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar |
Emi mengakui, minat baca sempat menurun drastis seiring masifnya penggunaan internet dan gawai yang semakin modern.
Bahkan, lanjut Emi, taman bacaan klasik milik ayahnya ini, sempat tutup selama empat tahun, sejak tahun 2017 hingga tahun 2021.
Namun pada tahun 2022, Emi dan sang adik Iyang, sepakat untuk melanjutkan tradisi membaca dan membuka kembali taman bacaan klasik tersebut.
“Daripada buku-buku itu berdebu, lebih baik dibuka lagi. Supaya anak-anak sekarang kembali mengenal membaca dari buku,” jelasnya.
Upaya itu perlahan membuahkan hasil. Menurut Emi, minat baca anak Generasi Z dan Generasi Alpha mulai menunjukkan geliat.
Selain itu, banyak orang tua anak yang kini sadar akan pentingnya membatasi ketergantungan anak pada gawai dan kembali membaca buku.
“Untuk anak-anak sekolah, membaca di sini gratis. Kalau orang dewasa ingin nostalgia, bisa membaca atau menyewa buku,” katanya.
Tidak hanya itu, Emi juga membuka kegiatan membaca di lingkungan tempat tinggalnya di Kampung Bukit Tanjungpinang.
Dalam waktu seminggu sekali, Emi menyempatkan dan menggelar kelompok membaca buku bagi anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya.
“Alhamdulillah, responsnya bagus. Banyak anak-anak yang senang membaca buku fisik,” ucapnya.
Menyesuaikan zaman, Taman Bacaan Doraemon juga memanfaatkan platform digital dengan menjual koleksi buku lawas secara daring.
Pesanan pembelian buku lawas datang dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan hingga Sulawesi.
Bagi Emi, taman bacaan klasik ini bukan sekadar usaha, melainkan amanah dari ayahnya dan sebuah warisan yang memiliki nilai tinggi.
“Selama masih ada anak yang mau membaca buku, taman bacaan klasik ini akan terus kami pertahankan,” tutupnya. (*)
Penulis: Yusnadi Nazar


