Sri Bayintan Kijang, Pelabuhan Legendaris dan Ikon Maritim Pulau Bintan
0 menit baca
![]() |
| Sri Bayintan Kijang, pelabuhan legendaris dan ikon maritim Pulau Bintan. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar |
Catatan Visual - Riak kecil ombak telah lama menjadi saksi perjalanan ribuan kapal yang datang dan pergi di pelabuhan legendaris Pulau Bintan.
Di antara aktivitas maritim tersebut, pelabuhan legendaris itu memiliki tempat istimewa dalam ingatan masyarakat Pulau Bintan terutama masyarakat Kota Tua Kijang.
Bagi generasi lama, nama Pelabuhan Sri Bayintan di Kijang, bukan sekadar terminal penumpang atau tempat bongkar muat barang.
Ia merupakan ikon maritim, tempat perpisahan dan pertemuan, simpul ekonomi dan penghubung Pulau Bintan dengan berbagai kota di Indonesia.
Historis Kota Tua Kijang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan industri pertambangan bauksit. Sejak dekade 1930-an, kawasan ini berkembang pesat.
Kala itu, perusahaan tambang NV Indische Bauxiet Exploitatie Maatschappij (NIBEM), membuka pertambangan bauksit secara besar-besaran.
Kehadiran industri tersebut mengubah wajah Kota Tua Kijang dari kawasan pesisir yang tenang menjadi kota industri pertambangan yang sibuk.
Infrastruktur dibangun mulai dari jalur kereta gantung (cable way), perumahan, fasilitas penelitian geologi, hingga dermaga untuk mengangkut hasil tambang.
Pelabuhan legendaris itu menjadi denyut utama kota. Tanpa jalur laut, mustahil ribuan ton bauksit dapat dikirim keluar Pulau Bintan.
Warisan infrastruktur maritim inilah yang kemudian berkembang menjadi salah satu pelabuhan terpenting di Kabupaten Bintan.
Lahirnya Pelabuhan Sri Bayintan
Memasuki era Indonesia modern, kebutuhan transportasi laut semakin meningkat. Pemerintah kemudian mengembangkan fasilitas pelabuhan.
Infrastruktur Pelabuhan Sri Bayintan di Kijang, menjadi pelabuhan umum yang melayani angkutan penumpang dan logistik.
Nama "Sri Bayintan" sendiri mencerminkan identitas Pulau Bintan sebagai salah satu pusat historis dan kebudayaan Melayu sejak berabad-abad lalu.
Selain itu, nama Sri Bayintan mencerminkan dan menjadi simpul perdagangan maritim di kawasan Selat Malaka masa lalu.
Pelabuhan Sri Bayintan berada di lokasi yang sangat strategis karena menghadap jalur pelayaran internasional. Sejak masa kesultanan telah ramai dilintasi kapal internasional.
Historis panjang Pulau Bintan sebagai kawasan pelabuhan, telah tercatat sejak abad 13 dan mencapai masa kejayaan pada era Kesultanan Johor Riau Lingga.
Gerbang Laut Utama Menuju Bintan
Sebelum transportasi udara berkembang pesat, Pelabuhan Sri Bayintan menjadi pintu masuk utama masyarakat menuju Pulau Bintan.
Kapal Pelni secara rutin bersandar membawa penumpang dari Jakarta, Batam, Tanjung Priok, Pontianak, Natuna, hingga berbagai kota di Sumatera.
Setiap kali kapal besar tiba dan saat musim mudik, suasana Pelabuhan Sri Bayintan, seakan berubah menjadi lautan manusia.
Di sisi lain, pedagang sibuk menjajakan makanan. Buruh pelabuhan sibuk memindahkan barang dan melakukan bongkar muat barang.
Para keluarga menunggu sanak saudara yang pulang kampung. Anak-anak berlarian menyaksikan kapal raksasa yang perlahan merapat ke pelabuhan.
Bagi masyarakat Kijang Pulau Bintan, bunyi sirene kapal-kapal besar tersebut menjadi pertanda datangnya kehidupan baru setiap hari.
Nadi Perekonomian Kabupaten Bintan
Sri Bayintan juga melayani distribusi logistik. Berbagai kebutuhan pokok, material bangunan, kendaraan, keluar masuk melalui pelabuhan ini.
Bahkan selama bertahun-tahun, Pelabuhan Sri Bayintan Kijang, menjadi salah satu penggerak utama roda ekonomi Kabupaten Bintan.
Aktivitas bongkar muat berlangsung sepanjang hari. Truk-truk antre memasuki pelabuhan, gudang penyimpanan dipenuhi berbagai komoditas.
Pelabuhan juga menjadi tempat bertemunya pelaut, sopir, pedagang, nelayan dan pekerja yang menggantungkan hidup pada aktivitas maritim.
Seiring modernisasi sektor kepelabuhanan nasional, pengelolaan Pelabuhan Sri Bayintan, berada di bawah PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo).
Berbagai pembenahan fasilitas dilakukan untuk meningkatkan pelayanan masyarakat, baik bagi penumpang maupun aktivitas logistik.
Terminal penumpang diperbaiki. Fasilitas pelabuhan ditingkatkan. Peralatan bongkar muat di pelabuhan pun semakin modern.
Kini, Pelabuhan Sri Bayintan tidak hanya melayani kapal penumpang, tetapi juga peti kemas dan aktivitas logistik yang menopang kebutuhan masyarakat Bintan.
Bahkan, pelabuhan ini juga sering dimanfaatkan sebagai sarana edukasi untuk memperkenalkan dunia kemaritiman kepada pelajar.
Pelabuhan yang Menyimpan Ribuan Kenangan
Bagi masyarakat Kijang, Sri Bayintan lebih dari sekadar bangunan beton di tepi laut. Di sinilah perantau pertama kali menginjakkan kaki saat pulang kampung.
Di sinilah banyak orang tua melepas anaknya merantau. Di sinilah kapal-kapal Pelni menjadi simbol harapan bagi siapa saja yang mencari kehidupan baru.
Banyak kisah cinta dimulai di ruang tunggu pelabuhan. Tidak sedikit cerita haru tercipta saat keluarga mengantar keberangkatan anggota keluarganya.
Pelabuhan Sri Bayintan di Kijang seakan-akan menjadi panggung kehidupan yang terus berulang dari generasi ke generasi.
Kota Tua Kijang hari ini mungkin telah banyak berubah. Industri bauksit tidak ada lagi dan sebagian bangunan lama telah berganti wajah.
Namun Pelabuhan Sri Bayintan tetap berdiri sebagai saksi perjalanan Kota Tua Kijang dan menjadi penghubung antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Setiap kapal yang bersandar seolah mengulang cerita yang sama tentang keberanian meninggalkan kampung halaman dan kerinduan untuk kembali pulang.
Di tengah modernisasi transportasi, Pelabuhan Sri Bayintan tetap memiliki nilai historis yang tidak mungkin tidak tergantikan.
Ia adalah simbol kejayaan maritim Kota Tua Kijang dan pengingat bahwa sejak dahulu, Pulau Bintan menjadi bagian penting dari jaringan pelayaran Indonesia.
Selama riak ombak masih ada dan kapal-kapal masih berlayar, pelabuhan legendaris Sri Bayintan, akan terus sebagai ikon maritim Kabupaten Bintan. (*)
Penulis: Yusnadi Nazar

