Tadarus sebagai Jalan Merawat Iman dan Kebersamaan di Bulan Ramadan

Tadarus sebagai Jalan Merawat Iman dan Kebersamaan di Bulan Ramadan
Tadarus sebagai jalan merawat iman dan kebersamaan di bulan Ramadan. Arsip Foto: © Yusnadi Nazar

Catatan Visual - Ramadan datang membawa jeda dari kehidupan modern. Di bulan inilah umat Islam diajak kembali menautkan hati dengan Al-Qur’an.

Tidak hanya di bulan Ramadan, kitab suci itu tidak hanya sekadar dibaca, tetapi direnungi dan dihidupkan terus dalam keseharian. 

Salah satu ikhtiar yang terus dijaga adalah tradisi Tadarus, lantunan ayat suci yang mengisi malam-malam Ramadan dengan cahaya keimanan.

Bagi umat Muslim, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Bulan suci ini juga menjadi ruang untuk memperbanyak amalan.

Memperbaiki hubungan dengan Sang Pencipta, sekaligus mendekatkan diri pada Al-Qur’an sebagai jalan terang dan pedoman hidup. 

Tadarus Al-Qur’an pun menjadi ibadah yang hampir tidak terpisahkan dari suasana Ramadan dan selalu dilantunkan dan dihayati. 

Keutamaan membaca Al-Qur’an di bulan Ramadan telah ditegaskan dalam berbagai riwayat. Salah satunya, sabda Nabi Muhammad. 

Rasulullah menyebutkan bahwa setiap huruf Al-Qur’an bernilai pahala, bahkan dilipatgandakan kebaikannya jika dibaca dan diamalkan.

Pesan ini menjadi penguat bagi umat Islam untuk terus meluangkan waktu membaca dan memahami firman Allah, terlebih di bulan penuh berkah.

Tradisi Tadarus yang Hidup di Tengah Masyarakat Islam

Di Tanjungpinang, tradisi ini telah menjadi denyut kehidupan Ramadan. Seusai salat tarawih, masjid, surau, musala, dipenuhi lantunan ayat suci. 

Suara kitab suci Al-Qur’an pun menggema hingga larut malam, bahkan berlanjut dari hari ke hari hingga Ramadan berakhir.

Beragam lapisan usia terlibat dalam tradisi ini. Anak-anak, remaja, orang dewasa hingga para orang tua duduk bersila dalam lingkaran-lingkaran kecil.

Semuanya membaca Al-Qur’an secara bergantian, saling menyimak, mengoreksi dan saling belajar memperbaiki bacaan yang terdengar salah. 

Tadarus tidak hanya berhenti pada membaca. Sejumlah kelompok juga menyelipkan diskusi singkat tafsir untuk memahami makna ayat yang dilantunkan. 

Sehingga dari sinilah nilai Al-Qur’an tidak hanya terdengar, tetapi juga meresap dan menjadi bahan perenungan bersama bagi yang membacanya.

Lebih dari sekadar ibadah personal, Tadarus Al-Qur’an turut menjadi sebuah sarana dakwah dan juga sebagai penguat ukhuwah Islamiyah.

Interaksi antar sesama jemaah terjalin, silaturahmi ikut terawat dan kecintaan terhadap Al-Qur’an, tumbuh secara bersamaan.

Menghidupkan Malam Ramadan, Menanam Cinta Al-Qur’an Sejak Dini

Satu musala yang aktif menghidupkan tradisi Tadarus bulan Ramadan adalah Musala Syariffa Raudhah Jalan Gatot Subroto Tanjungpinang. 

Meski berada di kawasan permukiman dan berukuran sederhana, musala ini menjadi pusat aktivitas ibadah jemaah selama Ramadan.

Pengurus musala menyusun program Tadarus terstruktur dengan target khataman Al-Qur’an selama bulan Ramadan. 

Jemaah musala yang terlibat membaca Al-Qur'an, dibagi ke dalam beberapa kelompok yang mayoritas diisi oleh anak-anak dan remaja.

“Kami melaksanakan Tadarus setiap malam setelah tarawih. Jamaah dibagi ke dalam lima kelompok berisi 10 orang," kata Ustaz Zaini, pembimbing Tadarus.

"Selain membaca, kami juga saling mengoreksi bacaan agar sesuai dengan kaidah tajwid,” tambahnya. 

Menurut Zaini, setiap kelompok memiliki target menyelesaikan bacaan Al-Qur’an sebelum Ramadan berakhir, bertepatan dengan peringatan Nuzulul Qur’an. 

Setelah itu, Tadarus Al-Qur'an sebanyak 30 Juz, kembali dilanjutkan hingga khatam menjelang akhir bulan suci Ramadan.

“Biasanya kelompok remaja sudah khatam sebelum tanggal 17 Ramadan. Setelah itu mengulang kembali sampai Ramadan selesai,” jelasnya.

Bagi pengurus Musala Syariffa Raudhah, melibatkan generasi muda dalam Tadarus untuk menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an sejak dini. 

Tradisi Tadarus Al-Qur'an ini diharapkan terus berlanjut setelah Ramadan dan menjadi bagian dari identitas keislaman generasi muda.

“Membaca Al-Qur’an itu bukan hanya ibadah, tapi juga jati diri seorang Muslim. Kami ingin anak-anak muda tetap menjaga tradisi ini,” kata Ustaz Zaini.

Hal senada dirasakan Ihsan, salah seorang remaja musala. Baginya, Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk lebih mendalami makna Al-Qur'an.

“Ramadan memberi waktu lebih banyak untuk Tadarus. Saya menargetkan minimal satu juz per hari,” ungkapnya.

Selain menambah pahala, Ihsan mengaku tadarus bersama teman-teman juga mempererat kebersamaan dan saling mengingatkan dalam kebaikan. 

“Dengan tadarus berjamaah, kita bisa belajar bersama dan saling menyemangati,” ujarnya.

Merawat Cahaya Ramadan

Menghidupkan malam Ramadan dengan Tadarus Al-Qur’an menjadi salah satu cara meraih keberkahan bulan suci yang penuh berkah. 

Di tengah arus modernisasi, tradisi ini menghadirkan ruang tenang untuk merenung, memperbaiki diri, dan menata kembali hubungan dengan Allah.

Ramadan pun menjadi lebih bermakna ketika ayat-ayat Al-Qur’an tidak hanya dibaca, tetapi juga dihayati dan diamalkan. 

Dari musala kecil hingga masjid besar, dari anak-anak hingga orang tua, Tadarus Al-Qur'an menjadi cahaya yang menjaga ruh Ramadan tetap menyala. (*)

Penulis: Hal Maliq Hanifa

Posting Komentar